Kuliah Pengabdian Masyarakat Mahasiswa (KPMM) Fakultas Teknik Unissula di Kecamatan Bergas yang diadakan pada tanggal 7-27 Desember 2007 yang lalu ternyata memang Oke. Perjalanan saya ke salah satu lokasi di kelurahan Bergas Lor, Bergas Kidul dan Ngempon ternyata banyak suka dukanya. Selaku dosen pembimbing lapangan (DPL) sudah menjadi suatu kewajiban mengunjungi mahasiswa bimbingannya. Lokasi Bergas Lor adalah lokasi yang pertama kali saya kunjungi. Anehnya ketika saya berkunjung, banyak diantara temannya tidak ada ditempat alias pulang tanpa sepengetahuan kordes, akhirnya tanpa basa-basi kordes dan berikut teman-temannya itu mendapat kartu merah. Di lokasi ini kurang lebih satu jam saya memberikan wejangan kepada mahasiswa.
Adzan Zuhur dan Puji-pujian
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Desa Bergas Kidul, lokasi ini sangat mendukung diadakannya KPMM, mengingat lokasi ini suasana desa masih terasa kental. Seperti tahun-tahun sebelumnya mahasiswa yang berlokasi di daerah ini sarat program kerja yang banyak, sehingga mempunyai nilai yang jauh lebih baik dibandingkan dengan mahasiswa yang berlokasi di desa lain. Sekalipun kordes daerah ini adalah seorang wanita yang bernama Atika, namun kepemimpinannya bisa diacungkan jempol, pasalnya anak buahnya pada gak punya nyali alias bermental tempe. Ada kejadian yang menggelikan di daerah ini, ketika masuk waktu sholat zuhur, saya mengajak seluruh mahasiswa laki-laki untuk pergi ke masjid melakukan sholat berjamaah. Sesampainya di Masjid saya menyuruh salah seorang untuk menjadi muadzin. Akhirnya tanpa babibu, dia adzan… Allahu Akbar 2x begitu dilakukannya hingga usai. Setelah adzan, seperti kebanyakan masjid di Semarang lainnya selalu diselingi bacaan-bacaan puji-pujian, salawatan atau sejenisnya,. “Rabbana atina fi dunya kasanah wa fil akhiroti kasanah wa kina ‘adzabannar” sebanyak kurang lebih 10x mahasiswa itu menyanyikannya. Sholat saya merasa terganggu akibat nyanyian mahasiswa tersebut, lantas saya menyuruhnya berhenti, tetapi mahasiswa tersebut salah terima perintah saya, serta merta dia langsung qomat. Ternyata gubahan lagu yang dibawakan mahasiswa tadi mendapat respon dari Ta’mir setempat. “Mas bacaannya yang benar dong,…anda khan pendidikannya tinggi, masak bacaan yang setiap hari kita baca.. masnya bisa salah, seharusnya Rabbana atina fi dunya hasanah, bukannya kasanah.. soalnya bukan apa-apa di samping masjid ini ada seorang hafidz, kalau si hafidz tersebut dengarkan gak enak” begitu nasehat pengurus ta’mir itu sambil menunjukkan mukanya yang sedikit marah. Mendengar ocehan tersebut mahasiswa tadi tertunduk malu, wajahnya merah padam seperti orang kepedesan lombok,..apes benar nasibnya, dipermalukan didepan jamaah sholat…KPMM oh KPMM. Ini adalah pelajaran bagi kita, jangan sekali-kali merasa lebih pintar di tempat orang lain. Ba’da zuhur perjalanan saya lanjutkan ke Desa Ngempon, kurang lebih jam 13.00 saya sampai di desa itu. Seperti biasa saya selalu menanyakan progress dari kordes masing-masing. Setelah kordes Ngempon melaporkan progressnya, barulah ketahuan pekerjaan mereka selama 10 hari di desa itu, ternyata yang dilakukan hanya papanisasi tok til !!!, dan setelah saya tanyakan apa program selanjutnya setelah ini, si kordes tersebut menjawab ” belum tahu pak… menurut bapak yang bagus apa pak?” oh.. ala.. bocah-bocah. begitu gumam saya. Sekali lagi ini pengalaman bagi mahasiswa sebelum berangkat ke lokasi KPMM siapkan program kerjamu, tanyakan apa permasalahan di Desa tersebut kepada orang-orang yang berkompeten, serta manfaatkan DPL anda sebelum berangkat ke lokasi. Begitu loh.…. Mahasiswa yang aneh!!?



1 response so far ↓
Aduh-aduh kasian amat mahasiswanya kena kartu merah….tapi emang bagus sih,agar tidak di ulangi lagi,masak kuliah lapangan gak ada dosenya malah kabur pulang???kalau saya dari pada di rumah mendingan ikut kegiatan kuliah lapangan biar dapat uang saku…he..he…he..
sekalian dapet ilmu yang bermanfaat donk.
Leave a Comment