THE ENVIRONMENTALIST

Warisan Leluhur yang Ramah Lingkungan

January 18, 2007 · No Comments

Contour PlantingBanyak diantara kita yang tidak mengetahui kalau
Indonesia memeliki warisan leluhur yang ramah lingkungan. Warisan tersebut berwujud perilaku dan sikap nenek moyang kita dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Interaksi ini tanpa disadari menjadi suatu kebiasaan dan berkembang hingga akhirnya membentuk image positif bagi kehidupan kita sekarang. Walaupun sebenarnya image ini berangkat dari cara pandang yang berbeda-beda antara daerah yang satu dengan yang lain, karena umumnya masyarakat tradisional pada saat itu sangat dipengaruhi oleh keyakinan atau agama mereka masing-masing. Namun demikian cara pandang yang berbeda tersebut akhirnya memberikan kekhasan masing-masing daerah serta memberikan keunikan tersendiri. Beberapa contoh yang warisan luluhur tersebut adalah :

  • Masyarakat petani di daerah pegunungan telah lama memperaktikkan pembuatan teras sawah yang searah garis kontur. Cara seperti ini di Jateng dikenal dengan sebutan Nyabuk Gunung, di Jabar disebut Ngais Gunung, sedangkan di Bali disebut Sengkedan. Menurut istilah pertanian, cara seperti ini dikenal dengan istilah contour planting.
  • Sistem pengairan tradisional di Bali yang disebut dengan Subak juga merupakan warisan luluhur yang ramah lingkungan. Di Jateng sistem pengairan tersebut dikenal dengan nama  Dharma Tirta, di Jabar disebut Mitracai, sedangkan di Sulteng disebut Tolai. Juga pada daerah lain seperti Baduy-Banten, Mentawai-Sumbar, dan Tenganan Pegringsing-Bali juga terkenal arif dan ramah dalam mengelola air dan hutan.
  • Pola perladangan berpindah pada masyarakat Melayu di Sumut dengan teknologi tradisional yang disebut dengan Ujung Ladang ternyata berfungsi mencegah kerusakan lingkungan hutan. Juga di Kaltim memanfaatkan teknologi tradisional yang disebut dengan Yaang yang dapat berfungsi untuk melokalisasi proses pembakaran kayu saat membuka hutan untuk ladang mereka.
  • Cara menangkap ikan dengan pancing, jala, dan bubu (alat penangkat ikan terbuat dari anyaman bambu) juga merupakan perilaku yang ramah lingkungan yang menambah deretan panjang warisan leluhur kita.

Beberapa daerah ternyata telah memadukan warisan leluhur kita dengan kondisi saat ini. Mulai bulan Juli 1995, Kotamadya administratif Langsa Aceh Timur menerapkan sanksi adat bagi yang membuang sampah atau limbahnya dengan cara mengembalikan sampah atau limbah tersebut kepada si pelakunya, agar memberikan rasa malu kepada si pelakunya. Bagaimana dengan kita sekarang? Apakah kita sudah ramah terhadap lingkungan? Masihkah kita membuang puntung rokok  atau bungkus permen di sembarang tempat? Ketahuilah kebersihan adalah sebagian dari iman, artinya tidaklah sempurna iman seseorang apabila masih membuang puntung rokok  atau bungkus permen di sembarang tempat. Jagalah planet kita dengan sikap dan perilaku hijau. Please, Save our planet ! 

Categories: Lingkungan

Create a free edublog to get your own comment avatar (and more!)



0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below..

Leave a Comment

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image