THE ENVIRONMENTALIST

Wisata Berwawasan Lingkungan

January 23rd, 2007 · No Comments

ekoturismMelakukan perjalanan (tour) ke luar kota atau ke mana saja untuk tujuan menambah pengetahuan, pengalaman dan istirahat melepas lelah (rekreasi), dari banyak segi merupakan suatu yang bernilai positif. Atau kita bisa menyaksikan peninggalan sejarah yang megah membanggakan. Agama pun menganjurkan orang untuk bepergian mencari pengetahuan dan belajar dari pengalaman kaum sebelumnya.

Selama ini pariwisata dipandang sebagai kegiatan memasarkan potensi keindahan yang lebih bersifat massal-komersial untuk meningkatkan devisa negara. Pariwisata dikembangkan dengan memaksimalkan pemasaran potensi keindahan dengan segala daya dukungnya. Misalnya sarana transportasi, hotel, sarana komunikasi dan sebagainya. Obyek wisata disulap menjadi kawasan yang megah, modern dan mewah dengan bertumpu pada 4S (Sun, Sea, Sand and Sin - Matahari, Laut, Pasir dan Dosa).

Ekoturisme (wisata berwawasan lingkungan) merupakan jawaban alternatif terhadap pariwisata konvensional yang massal komersial itu. Ekoturisme merupakan pariwisata alternatif yang menekankan perjalanan ke daerah-daerah yang masih asli untuk memahami kebudayaan dan lingkungan alami sambil memelihara keseimbangan ekosistem dan memberi keuntungan sosial ekonomis bagi masyarakat sekitarnya. Dalam Pengantar Ecotourism: A Guide for Planners and Managers (1993) dinyatakan: Ekoturisme adalah perjalanan secara bertanggungjawab ke daerah-daerah yang alami sembari menjaga kelestarian alam serta berupaya meningkatkan kesejahteraan penduduk sekitarnya.

Mengadakan perjalanan ke daerah yang masih alami, tanpa simbol-simbol kemewahan, sambil belajar pada pengalaman dengan tetap melestarikan lingkungan dan berkenalan lebih akrab dengan masyarakat setempat, merupakan alternatif yang sangat menguntungkan, baik dari segi ekonomi maupun ekologi.

Tags: Lingkungan

Mengenal Lebih Dekat Pemanasan Global

January 23rd, 2007 · No Comments

Beberapa penelitian telah menunjukkan adanya korelasi antara naiknya kadarglobal-warming1.jpg GRK dengan kenaikan suhu permukaan bumi. Penelitian yang dilakukan di Antartika, misalnya, menunjukkan adanya korelasi antara kadar CO, dengan kenaikan suhu di wilayah itu. Demikian juga penelitian di Artik, yang menunjukkan korelasi antara kadar metan (salah satu jenis GRK) dalam udara dengan suhu.

Beberapa pakar berpendapat bahwa bumi kita telah memasuki masa pemanasan global karena enam tahun terpanas dalam seratus tahun terakhir ini semuanya jatuh pada dekade 1980-an, yaitu dalam urutan tertinggi ke terendah 1988, 1987, 1983 1981, 1980 dan 1986. Apabila kecenderungan kadar CO2 terus berlanjut seperti sekarang, dalam tahun 2030 kadar itu akan menjadi dua kali lipat dibandingkan pada masa pra-industri. Menurut para pakar ini, dalam kondisi itu suhu diperkirakan akan naik 1-70 C.Sebagian pakar lain berpendapat bahwa korelasi yang sangat erat antara naiknya kadar GRK dan naiknya suhu bumi bukan bukti bahwa kenaikan suhu tersebut disebabkan oleh naiknya kadar GRK. Hal yang sebaliknya pun dapat terjadi: kenaikan suhu bumi menyebabkan kenaikan kadar GRK. Pada saat suhu bumi naik, kegiatan makhluk hidup naik pula sehingga laju penguraian (dekomposisi) bahan organik meningkat. Dengan naiknya proses penguraian ini, kadar CO2, dan metan dalam udara akan naik.Teori lain beranggapan bahwa di dalam alam terdapat umpan balik yang bekerja melawan kenaikan suhu. Salah satu mekanisme tersebut adalah kenaikan suhu akan menyebabkan naiknya laju penguapan air sehingga terbentuk lebih banyak awan. Makin banyak awan akan makin banyak sinar matahari yang dipantulkan ke angkasa. Maka, suhu bumi pun akan turun kembali dengan lebih sedikitnya sinar matahari yang sampai ke permukaan bumi.

Tags: Lingkungan

Mengenal Efek Rumah Kaca

January 23rd, 2007 · 18 Comments

erk.jpgIstilah Efek Rumah Kaca (green house effect) berasal dari pengalaman para petani di daerah iklim sedang yang menanam sayur-mayur dan bunga-bungaan di dalam rumah kaca. Yang terjadi dengan rumah kaca ini, cahaya matahari menembus kaca dan dipantulkan kembali oleh benda-benda dalam ruangan rumah kaca sebagai gelombang panas yang berupa sinar infra merah. Namun gelombang panas itu terperangkap di dalam ruangan kaca serta tidak bercampur dengan udara dingin di luarnya. Akibatnya, suhu di dalam rumah kaca lebih tinggi daripada di luarnya. Inilah gambaran sederhana terjadinya efek rumah kaca (ERK).

Pengalaman petani di atas kemudian dikaitkan dengan apa yang terjadi pada bumi dan atmosfir. Lapisan atmosfir terdiri dari, berturut-turut: troposfir, stratosfir, mesosfir dan termosfer: Lapisan terbawah (troposfir) adalah yang yang terpenting dalam kasus ERK. Sekitar 35% dari radiasi matahari tidak sampai ke permukaan bumi. Hampir seluruh radiasi yang bergelombang pendek (sinar alpha, beta dan ultraviolet) diserap oleh tiga lapisan teratas. Yang lainnya dihamburkan dan dipantulkan kembali ke ruang angkasa oleh molekul gas, awan dan partikel. Sisanya yang 65% masuk ke dalam troposfir. Di dalam troposfir ini, 14 % diserap oleh uap air, debu, dan gas-gas tertentu sehingga hanya sekitar 51% yang sampai ke permukaan bumi. Dari 51% ini, 37% merupakan radiasi langsung dan 14% radiasi difus yang telah mengalami penghamburan dalam lapisan troposfir oleh molekul gas dan partikel debu. Radiasi yang diterima bumi, sebagian diserap sebagian dipantulkan. Radiasi yang diserap dipancarkan kembali dalam bentuk sinar inframerah.

Sinar inframerah yang dipantulkan bumi kemudian diserap oleh molekul gas yang antara lain berupa uap air atau H20, CO2, metan (CH4), dan ozon (O3). Sinar panas inframerah ini terperangkap dalam lapisan troposfir dan oleh karenanya suhu udara di troposfir dan permukaan bumi menjadi naik. Terjadilah Efek Rumah Kaca. Gas yang menyerap sinar inframerah disebut Gas Rumah Kaca.

Seandainya tidak ada ERK, suhu rata-rata bumi akan sekitar minus 180 C — terlalu dingin untuk kehidupan manusia. Dengan adanya ERK, suhu rata-rata bumi 330 C lebih tinggi, yaitu 150C. Jadi, ERK membuat suhu bumi sesuai untuk kehidupan manusia.

Namun, ketika pancaran kembali sinar inframerah terperangkap oleh CO2 dan gas lainnya, maka sinar inframerah akan kembali memantul ke bumi dan suhu bumi menjadi naik. Dibandingkan tahun 50-an misalnya, kini suhu bumi telah naik sekitar 0,20 C lebih.

 

Tags: Lingkungan

Sekilas Tentang Pembangunan Berkelanjutan

January 23rd, 2007 · No Comments

Istilah pembangunan berkelanjutan diperkenalkan dalam World Conservation Strategy (Strategi Konservasi Dunia) yang diterbitkan oleh United Nations Environment Programme (UNEP), International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), dan World Wide Fund for Nature (WWF) pada 1980. Pada 1982, UNEP menyelenggarakan sidang istimewa memperingati 10 tahun gerakan lingkungan dunia (1972-1982) di Nairobi, Kenya, sebagai reaksi ketidakpuasan alas penanganan lingkungan selama ini. Dalam sidang istimewa tersebut disepakati pembentukan Komisi Dunia untuk Lingkungan dan Pembangunan (World Commission on Environment and Development - WCED) PBB memilih PM Norwegia Nyonya Harlem Brundtland dan mantan Menlu Sudan Mansyur Khaled, masing-masing menjadi Ketua dan Wakil Ketua WCED. Konsep Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development) dipopulerkan melalui laporan WCED berjudul “Our Common Future” (Hari Depan Kita Bersama) yang diterbitkan pada 1987. Laporan itu mendefinisikan Pembangunan Berkelanjutan sebagai pembangunan yangmemenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Di dalam konsep tersebut terkandung dua gagasan penting. Pertama, gagasan kebutuhan, khususnya kebutuhan esensial, kaum miskin sedunia yang harus diberi prioritas utama. Kedua, gagasan keterbatasan, yang bersumber pada kondisi teknologi dan organisasi sosial terhadap kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebututuhan kini dan hari depan. Jadi, tujuan pembangunan ekonomi dan sosial harus dituangkan dalam gagasan keberlanjutan di semua negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
Ada empat syarat yang harus dipenuhi bagi suatu proses pembangunan berkelanjutan :

  1. Menempatkan suatu kegiatan dan proyek pembangunan pada lokasi yang secara ekologis, benar;
  2. Pemanfaatan sumberdaya terbarukan (renewable resources) tidak boleh melebihi potensi lestarinya serta upaya mencari pengganti bagi sumberdaya tak-terbarukan (non-renewable resources);.
  3. Pembuangan limbah industri maupun rumah tangga tidak boleh melebihi kapasitas asimilasi pencemaran. Dan
  4. Perubahan fungsi ekologis tidak boleh melebihi kapasitas daya dukung lingkungan (carrying capacity)

Tags: Lingkungan