THE ENVIRONMENTALIST

Mengenali Sampah Yang Kita Buang

January 25th, 2007 · 2 Comments

sampah.jpgDi negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, masalah sampah sudah diperkenalkan kepada anak-­anak sekolah sejak dini. Sebuah buku terbitan Children Press Chicago, Recycling (1991), memperkenalkan dasar-dasar penanganan sampah yang diharapkan dapat mengubah pola hidup manusia modern untuk lebih peduli terhadap lingkungannya. Pola itu meliputi Reduce, Reuse, dan Recycle, dan Composting (3RC) yang merupakan dasar dari penanganan sampah secara terpadu.

Reduce (mengurangi sampah) atau disebut juga precycling merupakan langkah pertama untuk mencegah penimbunan sampah.

Reuse (menggunakan kembali) berarti menghemat dan mengurangi sampah dengan cara menggunakan kembali barang-barang yang telah dipakai. Apa saja barang yang masih bisa digunakan, seperti kertas-kertas berwarna-warni dari majalah bekas dapat dimanfaatkan untuk bungkus kado yang menarik. Menggunakan kembali barang bekas adalah wujud cinta lingkungan, bukan berarti menghina.

Recycle (mendaur ulang) juga sering disebut mendapatkan kembali sumberdaya (resource recovery), khususnya untuk sumberdaya alami. Mendaur ulang diartikan mengubah sampah menjadi produk baru, khususnya untuk barang-barang yang tidak dapat digunakan dalam waktu yang cukup lama, misalnya kertas, alumunium, gelas dan plastik. Langkah utama dari mendaur ulang ialah memisahkar sampah yang sejenis dalam satu kelompok.

Pada dasarnya composting merupakan proses pembusukan secara alami dari materi organik, misalnya daun, limbah pertanian (sisa panen), sisa makanan dan lain-lain. Pembusukan itu menghasilkan materi yang kaya unsur hara, antara lain nitrogen, fosfor dan kalium yang disebut kompos atau humus yang baik untuk pupuk tanaman. Di Jakarta, pembuatan kompos dilakukan dengan menggunakan sampah organik
kota dengan sistem UDPK (Unit Daur Ulang dan Produksi Kompos).Sistem itu cukup berhasil karena dapat mengurangi sampah organik dalam waktu relatif singkat (2 bulan), menghasilkan kompos bermutu, dan dapat meningkatkan pendapatan penduduk.

Mengelola Sampah Rumah Tangga Dan Prinsip 3M

  • Sediakan beberapa tempat dan kantong sampah yang berbeda setidaknya untuk menampung sampah organik dan non-organik.
  • Cucilah tempat sampah setiap kali isinya dibuang.
  • Bawalah tas atau kantong belanja tetap jika hendak berbelanja, agar tidak menumpuk di rumah.
  • Jangan memusnahkan sampah dengan membakar karena selain sangat membahayakan saluran pernafasan, merusak pula struktur tanah dan air sumur. 

    Terapkan Prinsip 3M :

  • Mengurangi (Reduce). Rencanakan dengan matang barang yang hendak dibeli, sehingga tidak berbelanja melebihi kebutuhan dan mengurangi tumpukan bekas kemasan. Bila mungkin pilihlah barang dengan kemasan sekecil mungkin.
  • Memakai kembali (Reuse). Gunakan kembali bekas kemasan yang ada, dengan membeli barang kebutuhan sehari-hari berupa isinya saja, seperti kecap, minyak goreng, sirop, kosmetik, sabun dan sebagainya. Kantong plastik bekas bisa digunakan lagi untuk belanja atau membuang sampah. Kertas yang masih polos bagian belakangnya bisa dimanfaatkan lagi. 
  • Mendaur ulang (Recycle). Barang bekas yang tidak bisa dipakai lagi di rumah, akan berguna sebagai bahan baku produksi daur ulang. Kini banyak beredar kertas, tas kain dan plastik hasil daur ulang dari barang bekas. Bantulah proses daur ulang ini dengan menempatkan barang-barang bekas itu pada tempat khusus sebelum dibuang agar mudah dipulung.

Tags: Lingkungan · Wacana

Konsumsi Berkelanjutan

January 25th, 2007 · No Comments

Salah satu penyebab terkurasnya sumberdaya alam secara besar-besaran adalah pola konsumsi yang berlehihan. Orang mulai berpaling dari memenuhi kebutuhan dasar (basic need) menjadi memenuhi keinginan. Kebutuhan dasarnya cukup satu mobil, tetapi karena keinginannya, orang bisa memiliki beberapa mobil sekaligus.

Dibutuhkan satu perspektif baru bagaimana mengembangkan pola konsumsi yang berkelanjutan (sustainable consumption), tidak boros tetapi juga tidak nista. Dari segi konsumen, konsumsi berkelanjutan adalah kesadaran tindakan yang berorientasi pada dua hal; memenuhi kebutuhan dengan pilihan produk serta menjamin bahwa apa yang dilakukan itu tidak memhahayakan lingkungan serta tanpa mengurangi hak generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya. Pola konsumsi yang memperhatikan keterbatasan daya dukung ekosistem, memberi kesempatan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya dan pada saat yang sama akan mempertinggi derajat kehidupan bagi konsumen itu sendiri, baik di belahan bumi bagian Barat, Timur, Utara maupun Selatan.

Dari pandangan produsen, konsumsi berkelanjutan bermakna pemenuhan layanan jasa dan barang yang terkait dengan kebutuhan pokok yang meningkatkan kualitas hidup dengan meminimalkan pemakaian sumberdaya alam dan bahan berbahaya seperti emisi limbah dan polutan yang melebihi “daur hidup” alam. Disamping itu, pruduk yang dihasilkan, baik barang atau jasa, juga harus tidak membahayakan kebutuhan generasi mendatang.

Tags: Lingkungan · Wacana