Mekanisme Pembangunan Bersih atau yang lebih dikenal dengan Clean Development Mechanism (CDM) merupakan salah satu mekanisme yang terdapat di dalam Protokol Kyoto. Mekanisme CDM merupakan satu-satunya mekanisme yang melibatkan negara berkembang, dimana negara maju dapat menurunkan emisi gas rumah kacanya dengan mengembangkan proyek ramah lingkungan di negara berkembang.
Mekanisme ini sendiri pada dasarnya merupakan perdagangan karbon, dimana negara berkembang dapat menjual kredit penurunan emisi kepada negara yang memiliki kewajiban untuk menurunkan emisi, yang disebut negara Annex I.
Apa tujuan CDM?
Seperti yang tertera pada Protokol Kyoto artikel 12, tujuan CDM adalah:
-
Membantu negara berkembang yang tidak termasuk sebagai negara Annex I dalam menerapkan pembangunan yang berkelanjutan serta menyumbang pencapaian tujuan utama Konvensi Perubahan Iklim, yaitu menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca dunia pada tingkat yang tidak akan mengganggu sistem iklim global.
-
Membantu negara-negara Annex I atau negara maju agar dapat memenuhi target mereka dalam menurunkan jumlah emisi negaranya.
CDM membantu negara-negara Annex I untuk memenuhi target pengurangan emisi rata-rata mereka sebesar 5,2 persen di bawah tingkat emisi tahun 1990, sesuai dengan ketentuan di dalam Protokol Kyoto.
Apa yang dihasilkan dari CDM?
Sesuai tujuannya, CDM menghasilkan proyek yang ramah lingkungan, dan berhasil menurunkan emisi gas rumah kaca. Sebagai bukti bahwa proyek tersebut telah menurunkan emis gas rumah kaca, maka proyek tersebut mendapat sertifikasi pengurangan emisi (Certified Emission Reductions-CERs). Sertifikasi inilah yang kemudian dapat diperjual belikan diantara sesama negara Annex I.
Apa keuntungan yang didapat oleh negara berkembang dari CDM?
Negara berkembang dan negara-negara kepulauan akan mendapat dampak paling nyata dari perubahan iklim. Melalui mekanisme CDM ini negara-negara tersebut akan mendapat keuntungan berupa adanya transfer teknologi dan dana tambahan yang dapat membantu mereka untuk mempersiapkan diri menghadapi dampak yang ditimbulkan perubahan iklim. Selain itu, negara berkembang yang terlibat langsung dalam CDM akan mendapatkan investasi baru untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutannya.
Apa keuntungan CDM bagi Indonesia?
Dengan adanya proyek CDM, maka akan memberi keuntungan bagi Indonesia dalam hal:
-
proyek-proyek ramah lingkungan seperti proyek hemat energi, tidak mencemari lingkungan serta mencegah polusi dari sektor industri dan transportasi.
-
biaya yang relatif murah, karena pendanaannya dibantu oleh negara maju.
-
transfer teknologi dari negara maju ke negara berkembang dengan biaya yang terjangkau.
-
terciptanya pembangunan berkelanjutan
Negara mana sajakah yang dapat turut berpartisipasi dalam CDM?
Negara manapun dapat berpartisipasi dalam aktifitas CDM, selama negara tersebut telah meratifikasi Protokol Kyoto
Siapa saja yang dapat turut serta dalam (proyek) CDM?
Sesungguhnya siapa saja dapat turut serta sebagai pengembang proyek CDM sesuai dengan prinsip-prinsip dasar proyek CDM. Selain itu pengembang proyek harus melewati tahapan-tahapan yang disayaratkan dalam mengajukan proyek.
Bagaimana caranya mengaplikasikan proyek CDM?
Tahap-tahap yang harus ditempuh dalam membuat proyek CDM dapat dilihat di Prosedur Pengembangan Proyek CDM.
Bagaimana potensi CDM di Indonesia?
Berdasarkan perhitungan, potensi CDM di Indonesia pada tahun 2008-2012 terhitung sebesar:
-
125 – 300 juta ton CO2
-
harga tiap ton CO2: $1.5 – $ 5.5
-
pendapatan: $187.5 juta - $1650 juta
-
biaya: $106 juta - $390 juta
-
profit: $81.5 juta - $1260 juta
Proyek jenis apa yang bisa menjadi proyek CDM?
Adapun proyek-proyek yang bisa menjadi proyek CDM adalah proyek-proyek yang terbukti mampu menurunkan jumlah emisi karbon yang dihasilkan sebelumnya atau jika tidak ada proyek tersebut. Selain itu proyek tersebut juga harus mendukung pembangunan berkelanjutan, yang berarti mendukung pertumbuhan ekonomi, menjaga kelestarian alam dan meningkatkan pengembangan sosial. Mengingat sebagian besar emisi berasal dari penggunaan energi bahan bakar fosil, maka proyek CDM terutama dapat dikembangkan di sektor –sektor yang tergantung pada bahan bakar fosil seperti sektor transportasi, industri, dan ketenagalistrikan.
Dalam hal ini contoh proyek CDM yang dapat dikembangkan adalah: dengan mengganti sumber energi yang menggunakan bahan bakar fosil dengan sumber energi terbarukan seperti tenaga matahari, tenaga angin, tenaga gelombang, tenaga panas bumi, tenaga air skala kecil, dan biomassa.



0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below..
Leave a Comment