THE ENVIRONMENTALIST

Entries from February 2007

Deteksi Sumber Air Dangkal Dengan Pohon Kelapa

February 27th, 2007 · 2 Comments

Pohon KelapaBagi kebanyakan orang mendapatkan sumber air yang dangkal adalah sebuah harapan yang ditunggu-tunggu. Pasalnya banyak kita jumpai rumah-rumah yang mempunyai sumur yang sangat dalam, sehingga bisa dipastikan biaya dan tenaga yang dikeluarkan si pemilik sumur relatif besar.

Sebenarnya fenomena alam disekitar kita dapat membantu untuk menunjukkan lokasi yang mempunyai sumber air dangkal, sehingga sangat bermanfaat bagi seseorang yang akan mendirikan rumah dalam mengetahui apakah rumah yang akan dia bangun mempunyai sumur yang relatif dangkal atau tidak. Pada daerah-daerah tertentu, kondisi lahan yang mempunyai kedalaman yang relatif dangkal sangat digemari untuk dibangun sebuah rumah. Sebut saja Prop. Jambi misalnya, di daerah ini kebanyakan orang yang akan membuat rumah selalu yang diperhatikan adalah sumur tetangga terlebih dahulu, pasalnya apabila sumur tetangga relatif dalam hingga puluhan meter kedalamannya, maka kemungkinan untuk mengurungkan niatnya membangun rumah di daerah tersebut sangat besar.

Di samping sangat berguna bagi seseorang yang ingin membangun rumah, fenomena alam juga dapat membantu kebanyakan orang untuk mengidentifikasi sumber air baku guna penyedian air bersih di suatu daerah, sehingga akan sangat menghemat biaya dan waktu.

Bagaimana Caranya ?

Apabila kita melewati suatu lokasi yang terdapat pohon kelapa, dimana daunnya turun tidak seperti kebanyakan pohon kelapa lainnya, atau dalam bahasa jawa disebut sengkleh, maka kemungkinan besar di daerah tersebut mempunyai sumber air yang relatif dangkal, yaitu kurang dari 7 meter. Fenomena alam ini sangat membantu bukan?, sehingga sudah sewajarnya alam ini kita jaga, jangan sampai rusak. Dengan demikian kita akan dapat mempelajari alam dengan alam itu sendiri.

Tags: Lingkungan · Wacana

Mitos Sumur Akan Tercemar Bila Dekat Dengan Sungai

February 16th, 2007 · 3 Comments

effluent-vs-influent-stream.gifThe Environmentalist. Umumnya kita akan beranggapan seperti judul di atas, kita akan merasa sangat kawatir, takut, atau semacamnya apabila rumah kita berdekatan dengan sungai yang notobene sudah tercemar. Perlu kita sadari bahwa hampir semua sungai yang ada di Indonesia seluruhnya tercemar, dan tidak pernah kita jumpai sungai-sungai yang terbebas dari buangan industri maupun domestik. Sebenarnya sungai yang tercemar oleh limbah industri maupun domestik belum tentu akan mencemari sumur-sumur penduduk yang berada disekitarnya, pasalnya jenis sungai berpengaruh terhadap tercemar atau tidaknya sumur-sumur penduduk.

Jenis Sungai Berdasarkan Kontribusinya Terhadap Air Tanah

Berdasarkan kontribusinya terhadap air tanah, maka sungai dapat dibedakan menjadi 2 macam:

  • Sungai effluent (Effluent Stream).  Jenis sungai ini adalah jenis sungai yang tidak mencemari sumur-sumur penduduk, pasalnya sungai ini mendapat imbuhan dari air tanah disekitarnya. Atau dengan kata lain, sumur-sumur penduduk yang berada di sekitar sungai malah justru memberikan airnya ke sungai tersebut (lihat gambar di atas). Jenis sungai ini adalah permukan air sungai lebih rendah daripada permukaan air tanah (water table)
  • Sungai Inffluent (Influent Stream). Sedangkan sungai influent adalah sungai mencemari sumur-sumur penduduk, karena sungai ini memberikan kontribusi/imbuhan kepada sumur-sumur disekitarnya. Atau dengan kata lain permukaan air sungai lebih tinggi daripada permukaan air tanah (water table).

Bagaimana Cara Mengetahui Sumur Kita Tercemar Atau Tidak ?

Cara yang paling gampang adalah dengan melihat kedalaman sumur kita (diukur dari permukaan air sungai hingga permukaan tanah), kemudian dibandingkan dengan kedalaman sungai yang berada didekatnya. Untuk mengukur kedalaman sungai caranya sama dengan mengukur kedalaman sumur yaitu diukur mulai dari permukaan air sungai hingga permukaan tanah. Apabila diketahui kedalaman sumur lebih dalam daripada sungai, maka sumur-sumur penduduk berpotensi akan terkontaminasi oleh sungai. tetapi sebaliknya apabila kedalaman sumur penduduk lebih rendah dari kedalaman sungai, maka sumur-sumur tersebut aman dari kontaminasi sungai-sungai tersebut.

Selamat Mencoba, Perhatikan Sumur-sumur Anda!

Tags: Lingkungan · Wacana

Deteksi Fe Dengan Buah Gori

February 16th, 2007 · No Comments

nangka.gifThe Environmentalist. Siapa yang tidak ingin mengkonsumsi air yang sehat?, pastilah kita semua menginginkannya. Masalahnya apakah selama ini kita tahu bahwa air yang kita konsumsi sehat atau tidak ?, jawabannya serentak kita akan mengatakan ”tidak tahu”. Air yang secara kasat mata jernih belum tentu menghasilkan air yang sehat, kadangkala di dalam kandungan air tersebut terdapat kandungan zat yang berbahaya bagi kesehatan, apalagi zat tersebut melebihi ambang batas yang telah ditetapkan.

Air yang sehat dapat dideteksi secara lengkap melalui laboratorium. Tetapi bagi kebanyakan kita menginginkan hal-hal  yang sifatnya praktis, ekonomis dan tidak bertele-tele alias gampang dan mudah. Umumnya kandungan yang sering terdapat dalam air adalah besi (Fe) dan mangan (Mn), kita akan kebingungan bagaimana caranya mendeteksi air yang kita konsumsi mengandung besi atau tidak ?.

Pengaruh Besi (Fe) bagi Kesehatan

Berdasarkan Permenkes No: 416/MENKES/PER/IX/1990 yakni kandungan maksimum besi yang diperbolehkan hanya 1,0 mg/liter. Sementara sebagian daerah di Indonesia ada yang melebihi 1,0 mg/liter, ini artinya air tersebut dapat membahayakan bagi kesehatan. Dampak yang ditimbulkan dari konsumsi besi yang berlebihan tidaklah seketika, tetapi dapat dirasakan sekian tahun ke depan. Beberapa penelitian membuktikan bahwa, kadar besi di dalam air yang melebihi ambang batas disinyalir dapat menyebabkan terjadinya penyakit ginjal, serta dapat mengendap di dalam hati, sehingga hati menjadi keras.

Demikian pula perasaan tidak nyaman akan kita rasakan bila mengkonsumsi air yang kadar besinya di atas ambang batas. Bagi pecandu minuman kopi atau teh, maka anda akan kecewa, karena air tersebut akan merubah rasa kopi atau teh tidak senikmat rasa aslinya,   

Bagaimana Mendeteksinya ?

Sebenarnya tanpa kita sadari nenek moyang telah memperatekkannya, hanya saja mereka tidak mengerti, mengapa gori yang mereka belah setelah dicelupkan ke dalam air tiba-tiba menjadi hitam. Inilah jawabannya. Kita dapat mendeteksi kadar besi di dalam air dengan cara membelah gori menjadi beberapa bagian, kemudian salah satu bagiannya dicelupkan ke dalam air, apabila gori yang dicelupkan tersebut berubah warna menjadi hitam, maka air yang kita konsumsi nyata-nyata mengandung kadar besi. Hanya saja kita tidak dapat mengetahui secara detail nilai dari kadar besi tersebut, apakah air yang kita konsumsi di atas atau di bawah ambang batas. 

Selamat Mencoba

Tags: Lingkungan · Wacana

Mitos Seputar Jarak Sumur dengan Septik Tank

February 14th, 2007 · 9 Comments

Jarak Rumah dengan Septik TankThe Environmentalist. Banyak orang yang beranggapan bahwa untuk membuat septik tank haruslah berjarak minimal 10 meter dengan sumur, mengapa demikian ?, umumnya jawaban yang terlontar adalah agar sumur tidak terkontaminasi dengan septik tank, atau tidak mencemari sumur akibat adanya bakteri pathogen yang dapat mengganggu kesehatan. Jawaban tersebut sangat betul. Tapi apakah jaraknya harus 10 meter ? Lantas bagaimana dengan rumah tipe RSS ? Apakah harus kita paksakan membuat septik tank di lokasi tetangga, karena jarak antara rumah dengan septik tank tidak sampai 10 meter?.

Mengapa 10 Meter ?

Sebagian besar dari kita tidak mengatahui darimana munculnya angka 10 meter tersebut?. Perlu diketahui bahwa angka 10 meter tersebut berasal dari : Bakteri Coli yang berasal dari tinja manusia mempunyai usia harapan hidup selama 3 hari, sedangkan kecepatan aliran air dalam tanah berkisar 3 meter/hari (rata-rata kecepatan aliran air dalam tanah di pulau jawa 3 meter/hari), sehingga jarak ideal antara septik tank dengan sumur adalah : 3 meter/hari x 3 hari = 9 meter.Tetapi mengapa harus dibuat 10 meter?. Dari hasil perhitungan diketahui jaraknya 9 meter, sebagai angka pengaman maka ditambahkan 1 meter lagi, sehingga jaraknya menjadi 10 meter. Demikian asal muasal jarak 10 meter tersebut.

Bagaimana Kalau Kurang Dari 10 Meter?

Apabila anda ingin membuat septik tank, sementara jarak antara sumur dengan septik tank yang ingin anda buat kurang dari 10 meter, maka  tidak usah risau, yang perlu anda lakukan adalah mengetahui arah aliran air tanah, yaitu dengan cara melihat sumur tetangga. Cara ini berguna untuk mengetahui arah aliran air tanah, caranya adalah :

  • Ukurlah kedalaman sumur-sumur tetangga anda, cukup 3 rumah saja
  • Buatlah gambar garis segitiga yang menghubungkan ketiga titik sumur tetangga tersebut di atas kertas
  • Masing-masing titik sumur diberi notasi kedalamannya (perhitungan kedalaman diukur dari muka air hingga ke permukaan tanah)
  • Dari gambar dapat diketahui, sumur yang paling dangkal menunjukkan arah aliran menuju ke sumur tersebut.

Dari cara tersebut dapat diketahui bahwa jarak sumur yang kurang dari 10 meter tidaklah masalah, asalkan kita mengetahui arah aliran air tanah dengan cara seperti di atas, dengan demikian yang harus kita lakukan adalah meletakkan septik tank dimana arah alirannya tidak mengarah ke sumur, berarti harus sebaliknya. Lebih baik lagi apabila arah aliran air tanah tersebut  berasal dari sumur menuju ke septik tank, tetapi jangan sebaliknya.

Di samping arah aliran air tanah yang perlu kita ketahui, kecepatan aliran air tanah tidak kalah pentingnya. Walaupun berdasarkan pengalaman kecepatan aliran air tanah di pulau Jawa rata-rata 3 meter/hari, tidak menutup kemungkinan masing-masing daerah di pulau Jawa mempunyai kecepatan aliran air tanah yang berbeda, hal ini tergantung dari formasi batuan pada daerah tersebut. Sehingga walaupun arah aliran dari septik tank menuju ke sumur, tetapi kecepatan aliran air tanah hanya 1 meter/hari, maka jarak ideal antara sumur dan septik tank cuma 4 meter (lihat contoh perhitungan di atas).

Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa :

  • Tidak semua daerah harus membuat septik tank  berjarak 10 meter dari sumur
  • Perlu diperhatikan arah aliran air tanah pada saat membuat septik tank
  • Kecepatan aliran air tanah pada masing-masing daerah sangat berlainan, sehingga memunculkan jarak ideal yang berbeda-beda antara sumur dengan septik tank, hal itu sangat tergantung dari formasi batuan dan kondisi geografis pada masing-masing daerah tersebut.

Tags: Lingkungan · Wacana

Air dan Permasalahannya (Bagian-1)

February 13th, 2007 · 1 Comment

The Environmentalist. “saya membaca blog Bapak dan hal itu sangat tepat dengan permasalahan di komplek perumahan kami di Griya Madya Sawangan di Kota Depok Jawa Barat, kami membuat sumur baik pantek maupun sumur gali yang menghasilkan air yang jernih namun rasanya kecut dan apabila diendapkan akan muncul lapisan berwarna kuning yang mengendap di atas air dan nampak berminyak, kami mohon info bagaimana mengatasi hal tersebut, orang-orang bilang hal ini disebut “ieng“, kami sangat berharap Bapak bisa membantu kami untuk menyelesaikan masalah ini”. Begitulah pertanyaan dari saudara suriansyah rhalieb.

Berdasarkan dari uraian anda bisa dipastikan daerah anda dulunya adalah daerah pertanian atau persawahan, ciri daerah persawaan  ini mempunyai infiltrasi yang rendah,  serta mempunyai kandungan besi yang tinggi (fe). Kandungan ini dihasilkan dari proses pembajakan sawah selama bertahun-tahun lamanya, karena tanah yang diolah dalam kondisi basah, maka besi (Fe2O5) akan turun ke bawah pada lapisan tanah yang tidak diolah, efek sampingnya tanah yang tidak diolah mengeras, sehingga mengakibatkan terjadinya kedap air. Air yang mengandung besi tinggi  apabila bersentuhan dengan udara yang mengandung oksigen akan menghasilkan warna kecoklatan. Pada saat bak mandi anda diisi dengan air, air masih kelihatan jernih, tetapi lama-kelamaan karena bersentuhan dengan udara, zat besi tersebut teroksidasi sehingga menimbulkan warna kecoklatan seperti besi yang berkarat.Sedangkan air yang rasanya kecut memberikan indikasi bahwa  pH air tersebut  di bawah 7, sedangkan untuk air yang normal adalah bernilai 7. 

Bagaimana Cara Mengatasinya ?  

Cara yang paling sederhana untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menggunakan media saringan, dimana salah satu medianya adalah menggunakan karbon aktif yang dapat dibeli di pasaran, karbon aktif ini berfungsi untuk mengurangi warna air serta untuk mengurangi  rasa/ bau yang ditimbulkan dari air. Sedangkan rasa kecut dapat diatasi dengan penambahan kapur  pada air, penambahan ini berfungsi untuk  menetralkan rasa air menjadi tawar, karena kapur dapat meningkatkan pH air menjadi netral. Selain itu kapur juga dapat mempercepat proses terjadinya penggumpalan (koagulasi) sehingga air cepat jernih, karena flok-flok (butiran yang melayang di dalam air) akan cepat mengendap dan menghasilkan lumpur yang siap dibuang. Sistem penyaringan ini dikenal dengan sebutan penjernihan air secara kimiawi 

Bagaimana Cara Membuatnya ?

1.      Bahan Dan Peralatan

  • 2 (dua) kg karbon aktif
  • 3 (tiga) kg ijuk
  • pasir halus
  • batu kerikil
  • bubuk kapur 10 gram
  • tawas 10 gram
  • 2 (dua) buah drum bekas
  • 2 (dua) buah kran ukuran ½ cm 

2.      Pembuatan     

  • Lubangi kedua drum 5 cm dari bagian bawah, dan diberi kran. Drum I untuk bak pengendapan, drum II untuk bak penyaring.
  • Letakkan drum I lebih tinggi dari drum II hubungkan kedua drum tersebut, lihat gambar.

  • Isilah drum II (bak penyaringan) berturut-turut dengan batu kerikil setebal 5 cm; arang setebal 5 cm; ijuk setebal 5 cm dan pasir halus setebal 15 cm (lihat Gambar 1 dibawah)

saringan.JPG

  • Isilah drum I (bak pengendapan) dengan air yang akan dijernihkan. Bubuhi dengan 10 gram tawas (untuk 100 liter air) kemudian aduk selama 5 menit. Tambahkan bubuk kapur sebanyak 10 gram, kemudian aduk perlahan-lahan selama 2-3 menit. Tujuan mengaduk, agar butir-butir lumpur menjadi besar dan mengendap. 

3.      Penggunaan

  • Lakukan proses pengendapan ini pada waktu malam hari sehingga pada waktu pagi hari, air dapat dialirkan ke bak penyaringan dan siap untuk dipakai.
  • Buka kran pada bak penyaringan untuk mendapatkan air yang bersih. 

4.      Pemeliharaan

  • Bersihkan endapan lumpur pada bak pengendapan sesering mungkin.
  • Apabila jalan air pada drum/bak penyaringan kurang lancar, cucilah pasir kerikil dan ijuk sampai bersih.
  • Apabila air bersih yang dihasilkan pada bulan berikutnya airnya terasa bau lagi, gantilah karbon aktif dengan yang baru. 

5.      Keuntungan

  • Dapat digunakan untuk air sungai, rawa, sumur,sawah dan telaga.
  • Menghasilkan air yang jernih, tidak berbau, tidak asam, tidak payau. 

6.      Kerugian

  • Air tidak dapat dialirkan secara teratur.
  • Hanya dapat menjernihkan air dengan jumlah tertentu saja.
  • Bak harus sering dibersihkan.
  • Cara ini tidak dibenarkan untuk air yang tercemar bahan kimia buangan air pabrik.

Selamat mencoba, semoga berhasil

Tags: Lingkungan