THE ENVIRONMENTALIST

Air dan Permasalahannya (Bagian-1)

February 13, 2007 · 1 Comment

The Environmentalist. “saya membaca blog Bapak dan hal itu sangat tepat dengan permasalahan di komplek perumahan kami di Griya Madya Sawangan di Kota Depok Jawa Barat, kami membuat sumur baik pantek maupun sumur gali yang menghasilkan air yang jernih namun rasanya kecut dan apabila diendapkan akan muncul lapisan berwarna kuning yang mengendap di atas air dan nampak berminyak, kami mohon info bagaimana mengatasi hal tersebut, orang-orang bilang hal ini disebut “ieng“, kami sangat berharap Bapak bisa membantu kami untuk menyelesaikan masalah ini”. Begitulah pertanyaan dari saudara suriansyah rhalieb.

Berdasarkan dari uraian anda bisa dipastikan daerah anda dulunya adalah daerah pertanian atau persawahan, ciri daerah persawaan  ini mempunyai infiltrasi yang rendah,  serta mempunyai kandungan besi yang tinggi (fe). Kandungan ini dihasilkan dari proses pembajakan sawah selama bertahun-tahun lamanya, karena tanah yang diolah dalam kondisi basah, maka besi (Fe2O5) akan turun ke bawah pada lapisan tanah yang tidak diolah, efek sampingnya tanah yang tidak diolah mengeras, sehingga mengakibatkan terjadinya kedap air. Air yang mengandung besi tinggi  apabila bersentuhan dengan udara yang mengandung oksigen akan menghasilkan warna kecoklatan. Pada saat bak mandi anda diisi dengan air, air masih kelihatan jernih, tetapi lama-kelamaan karena bersentuhan dengan udara, zat besi tersebut teroksidasi sehingga menimbulkan warna kecoklatan seperti besi yang berkarat.Sedangkan air yang rasanya kecut memberikan indikasi bahwa  pH air tersebut  di bawah 7, sedangkan untuk air yang normal adalah bernilai 7. 

Bagaimana Cara Mengatasinya ?  

Cara yang paling sederhana untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menggunakan media saringan, dimana salah satu medianya adalah menggunakan karbon aktif yang dapat dibeli di pasaran, karbon aktif ini berfungsi untuk mengurangi warna air serta untuk mengurangi  rasa/ bau yang ditimbulkan dari air. Sedangkan rasa kecut dapat diatasi dengan penambahan kapur  pada air, penambahan ini berfungsi untuk  menetralkan rasa air menjadi tawar, karena kapur dapat meningkatkan pH air menjadi netral. Selain itu kapur juga dapat mempercepat proses terjadinya penggumpalan (koagulasi) sehingga air cepat jernih, karena flok-flok (butiran yang melayang di dalam air) akan cepat mengendap dan menghasilkan lumpur yang siap dibuang. Sistem penyaringan ini dikenal dengan sebutan penjernihan air secara kimiawi 

Bagaimana Cara Membuatnya ?

1.      Bahan Dan Peralatan

  • 2 (dua) kg karbon aktif
  • 3 (tiga) kg ijuk
  • pasir halus
  • batu kerikil
  • bubuk kapur 10 gram
  • tawas 10 gram
  • 2 (dua) buah drum bekas
  • 2 (dua) buah kran ukuran ½ cm 

2.      Pembuatan     

  • Lubangi kedua drum 5 cm dari bagian bawah, dan diberi kran. Drum I untuk bak pengendapan, drum II untuk bak penyaring.
  • Letakkan drum I lebih tinggi dari drum II hubungkan kedua drum tersebut, lihat gambar.

  • Isilah drum II (bak penyaringan) berturut-turut dengan batu kerikil setebal 5 cm; arang setebal 5 cm; ijuk setebal 5 cm dan pasir halus setebal 15 cm (lihat Gambar 1 dibawah)

saringan.JPG

  • Isilah drum I (bak pengendapan) dengan air yang akan dijernihkan. Bubuhi dengan 10 gram tawas (untuk 100 liter air) kemudian aduk selama 5 menit. Tambahkan bubuk kapur sebanyak 10 gram, kemudian aduk perlahan-lahan selama 2-3 menit. Tujuan mengaduk, agar butir-butir lumpur menjadi besar dan mengendap. 

3.      Penggunaan

  • Lakukan proses pengendapan ini pada waktu malam hari sehingga pada waktu pagi hari, air dapat dialirkan ke bak penyaringan dan siap untuk dipakai.
  • Buka kran pada bak penyaringan untuk mendapatkan air yang bersih. 

4.      Pemeliharaan

  • Bersihkan endapan lumpur pada bak pengendapan sesering mungkin.
  • Apabila jalan air pada drum/bak penyaringan kurang lancar, cucilah pasir kerikil dan ijuk sampai bersih.
  • Apabila air bersih yang dihasilkan pada bulan berikutnya airnya terasa bau lagi, gantilah karbon aktif dengan yang baru. 

5.      Keuntungan

  • Dapat digunakan untuk air sungai, rawa, sumur,sawah dan telaga.
  • Menghasilkan air yang jernih, tidak berbau, tidak asam, tidak payau. 

6.      Kerugian

  • Air tidak dapat dialirkan secara teratur.
  • Hanya dapat menjernihkan air dengan jumlah tertentu saja.
  • Bak harus sering dibersihkan.
  • Cara ini tidak dibenarkan untuk air yang tercemar bahan kimia buangan air pabrik.

Selamat mencoba, semoga berhasil

Categories: Lingkungan

Create a free edublog to get your own comment avatar (and more!)



1 response so far ↓

  •   Dyan // May 14th 2008 at 3:15 pm

    Terima kasih atas infonya. Air sumur yang saya bor juga mengalami keanehan. ketika baru keluar sangat jernih namun agak erbau busuk. tetapi ketika dibiarkan beberapa saat jedi keruh (coklat) dan ada lapisan minyak. rasanya sedikit asin. saya akan mencoba saran bapak seperti yang disarankan kepada sdr suriansyah rhalieb.

Leave a Comment

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image