The Enviromentalist. Dalam Pengolahan air limbah dan pengolahan air bersih/minum, sering kita menjumpai unit pengolahan yang bermacam-macam, namun kadangkala kita tidak mengetahui cara kerja alat tersebut.
Dari berbagai unit pengolahan air limbah atau air bersih, kita sering melihat rentetan unit pengolahan seperti koagulasi- flokulasi- sedimentasi dan filtrasi. Rentetan alat ini selalu beriringan dan tidak pernah kita jumpai urutan terbalik-balik, karena memang cara kerjanya begitu. Apabila ada koagulasi, selalu diikuti dengan flokulasi dan selajutnya sedimentasi dan filtrasi, seakan-akan rentetan pengolahan ini adalah satu paket.
Air yang mempunyai turbiditas (kekeruhan) tinggi sangat pas menggunakan rentetan pengolahan ini. Pasalnya pengolahan ini dapat mengedapkan partikel tersuspensi, sehingga hasil akhirnya menjadi sludge (lumpur), dan lumpur ini dapat digunakan untuk pupuk tanaman apabila lumpur tersebut bukan berasal dari limbah B3 (bahan beracun dan berbahaya), dan air yang keluar relatif lebih jernih (perhatikan pada gambar di atas).
Berdasarkan gambar di atas, maka kita dengan mudah mengamati proses atau cara kerja pengendapan partikel tersuspensi di dalam air limbah. Cara kerjanya adalah air yang setelah mengalami perlakukan koagulasi (pemberian koagulan seperti tawas atau PAC, dll), Pada koagulasi ini terjadi pengadukan cepat, pengadukan ini membantu bahan kimia seperti tawas menjadi homogen di dalam air, sehingga partikel tersuspensi akan membentuk gumpalan yang lebih besar. Setelah koagulasi diikuti dengan flokulasi, dalam flokulasi terjadi pengadukan lambat agar partikel yang telah membesar tadi tidak pecah menjadi partikel-partikel semula. Kemudian overflow ke bak sedimentasi, sesuai dengan namanya, pada bak ini partikel yang telah membesar tadi akan mengendap di dalam bak sedimentasi secara gravitasi. Apabila pada sedimentasi ini masih ada pertikel yang ngeyel (membandel) tidak mau mengendap, maka langkah selajutnya dapat dilakukan penyaringan dengan media tertentu tergantung dari karakteristik dari air limbah tersebut.
Mudah bukan…., begitulah cara kerja pengendapan partikel tersuspensi.



4 responses so far ↓
Assalamualaikum
Terima kasih atas share ilmunya.
Saya tertarik dengan pengolahan air.
Di tempat saya kerja ada pengolahan air dengan treatment (WTP). Yang prosesnya memang runut seperti uraian Bapak, koagulasi- flokulasi- sedimentasi dan filtrasi.
Kemudian air dari WTP tersebut didistribusikan ke jaringan air untuk konsumsi penduduk.
Yang menjadi masalah adalah air baku yang mengandung lumpur sangat banyak (kadang turbidity melebihi 1000 pada saat hujan).
Memang ini adalah karena pengaruh di hulu yang juga merupakan daerah tambang sehingga air limpasan menjadi banyak lumpur.
Apakah saran Bapak menghadapi ini?
Bagaimana apabila saya menambahkan semacam kolam - kolam pengendapan sebelum masuk proses di WTP?
Bagaimana cara dan dasar teorinya?
Atas perhatiannya dihaturkan matur nuwun.
Wassalam.
aslm.
duh makasih banget niy atas informasinya. kebetulan sya mahasiswi yang lagi kerja praktek di pengolahan air bersih, jd dengan melihat artikel ini bisa lebih banyak tahu mengenai pengolahan air bersih.
asalamualaikum…
asli…… mendukung bgt pa…!!!
sangat membantu karya tulis saya!!
saya anak SMAN 7 BANjarmasin..
pkokna thanks bgt..n’ moga dibalez ma Allah SWT..
aamiin..
Luqman EA , boleh saya bantu?
saya bergerak di wtp/wwtp chemicals trade. apabila berkenan mhn saya dihubungi by sentrakemindo@yahoo.com. Melihat kasus bapak, yg plg simple adalah bpk mesti meyediakan reservoir tank untuk proses equalisasi, dilanjutkan chemical treatment, kalo hanya concern di turbidity, sand filter combining carbon filter yakin bs solved.
Leave a Comment