<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>THE ENVIRONMENTALIST &#187; Lingkungan</title>
	<atom:link href="http://bennysyah.edublogs.org/category/lingkungan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bennysyah.edublogs.org</link>
	<description>Awali Hidup dengan Berperilaku Hijau</description>
	<lastBuildDate>Fri, 14 Mar 2008 09:42:03 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Penyaringan Air Skala Rumah Tangga</title>
		<link>http://bennysyah.edublogs.org/2007/11/12/233/</link>
		<comments>http://bennysyah.edublogs.org/2007/11/12/233/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Nov 2007 06:20:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bennysyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi Terapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennysyah.edublogs.org/2007/11/12/233/</guid>
		<description><![CDATA[
Kebutuhan akan air bersih merupakan dambaan bagi setiap kita, apalagi pada musim hujan sekarang ini, kebutuhan akan air bersih menjadi meningkat. Oleh karenanya diperlukan suatu teknologi tepat guna untuk membantu keadaan di atas. Gambar di atas adalah penyaringan air sederhana skala rumah tangga yang saya kutip dari Pustekkom (2004) yang dapat membantu mengatasi permasalahan akan krisis air [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><code></code><code></code></p>
<p align="justify">Kebutuhan akan air bersih merupakan dambaan bagi setiap kita, apalagi pada musim hujan sekarang ini, kebutuhan akan air bersih menjadi meningkat. Oleh karenanya diperlukan suatu teknologi tepat guna untuk membantu keadaan di atas. Gambar di atas adalah penyaringan air sederhana skala rumah tangga yang saya kutip dari Pustekkom (2004) yang dapat membantu mengatasi permasalahan akan krisis air bersih.</p>
<p>Langkah-langkah penjernihan sebagai berikut :</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Air pertama kali diisi pada bagian yang paling atas dengan air kotor atau air yang akan dijernihkan. Kemudian ditambah tawas yang berfungsi sebagai koagulan yang dapat membantu mengendapkan kotoran-kotoran (flok-flok) menjadi lumpur yang siap untuk dibuang. Pemberian kaporit sebagai desinfektan dapat diberikan pada tahap ini, tetapi bisa juga bersifat optional. Pemberiaan kaporit dilakukan untuk membunuh bakteri yang berbahaya bagi kesehatan manusia.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Pada tahap kedua dialirkan melalui media pasir dan krikil. Kedua media ini berfungsi untuk menahan partikel yang masih melayang (suspensi) di dalam air, sehingga diharapkan nantinya air yang melalui media ini air dalam kondisi jernih dan sedikit kandungan floknya.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Pada tahap selanjutnya, air dialirkan ke media ijuk dan arang. Pemberian media ini dimaksudkan agar air yang masih terdapat kandungan floknya menjadi lebih jernih, sedangkan arang berfungsi untuk menghilangkan rasa air, warna, dan bau yang tidak sedap yang dapat mengganggu kenikmatan kita meminum air.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Tahap terakhir air menjadi jernih seperti yang kita harapkan. Pada tahap ini diperkenankan untuk memberikan kaporit kembali sebagai antisipasi pada saat proses penyaringan tadi masih terdapat bakteri yang berbahaya bagi kesehatan tubuh kita.</p>
</li>
</ol>
<p align="justify">Jenis pengolahan di atas sebenarnya adalah embrio bagi PDAM-PDAM seluruh Indonesia dalam menerapkan teknnologi pengolahan air skala besar. Pada pengolahan di atas terdapat unit-unit pengolahan air yang sering diterapkan di PDAM, yaitu : Koagulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi, dan desinfeksi. Koagulasi, flokulasi, sedimentasi, dan desinfeksi terdapat pada tahap pertama kali penyaringan (lihat gambar di atas). Sedangkan filtrasi terdapat pada tahap kedua dan ketiga yaitu berupa pemasangan media pasir, krikil, arang dan ijuk.</p>
<p align="justify">Ternyata nenek moyang kita secara tidak langsung memberikan pelajaran berharga kepada kita semua. Sekarang bagaimana dengan kita sendiri ?, sudahkah kita melakukan inovasi yang berharga bagi anak cucu kita kelak ?. Selamat berkarya, semoga kita melahirkan maha karya yang dapat dikenang sepanjang masa. <em>Wallahu a&#8217;lam bishshowab</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennysyah.edublogs.org/2007/11/12/233/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Softening (Pelunakan) Pada Air Sadah</title>
		<link>http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/27/softening-pelunakan-pada-air-sadah/</link>
		<comments>http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/27/softening-pelunakan-pada-air-sadah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Apr 2007 04:07:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bennysyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi Terapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/27/softening-pelunakan-pada-air-sadah/</guid>
		<description><![CDATA[Isitilah softening dalam istilah teknik lingkungan sangatlah familiar, hanya saja kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi pelunakan mungkin banyak yang tidak mengerti, sehingga kadangkala istilah-istilah asing yang sudah familiar ditelinga kita memang sebaiknya tidak diterjemahkan agar tidak menimbulkan salah pengertian. Saya mencoba menerjemahkannya menjadi pelunakkan, karena pada beberapa literatur yang berbahasa Indonesia saya menjumpai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span>Isitilah softening dalam istilah teknik lingkungan sangatlah familiar, hanya saja kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi pelunakan mungkin banyak yang tidak mengerti, sehingga kadangkala istilah-istilah asing yang sudah familiar ditelinga kita memang sebaiknya tidak diterjemahkan agar tidak menimbulkan salah pengertian. Saya mencoba menerjemahkannya menjadi pelunakkan, karena pada beberapa literatur yang berbahasa </span><span>Indonesia</span><span> saya menjumpai kata pelunakkan tersebut yang merupakan terjemahan dari softening.</span><br />
<span>Ada</span><span> beberapa jenis proses pengolahan yang dapat digunakan untuk melunakkan air. Pada setiap proses pengolahan, hasil akhir yang diharapkan adalah sama. Air yang dilunakkan harus mempunyai suatu kesadahan (hardness) sekitar 80 hingga 90 mg/L sebagai kalsium karbonat (CaCO3). Jika air yang dilunakkan lebih lanjut (seperti dalam proses pertukaran ion/<em>ion exchange</em>), air sadah harus dicampur dengan air yang dilunakkan untuk mencapai tingkat kesadahan yang diinginkan. Air terlalu </span><span> </span>lunak (<em>soft</em>) juga tidak terlalu baik, karena air mineral salah satu unsurnya adalah calsium, tetapi terlalu tinggi juga tidak baik karena dapat menyebabkan air sabun tidak dapat berbusa serta dapat menyebabkan karatan pada pipa<span>.<span id="more-219"></span></span></p>
<h3 class="MsoNormal"><span> </span><span>Pemberian Bahan Kimia Pada Softening</span></h3>
<p class="MsoNormal"><span>Pelunakkan melalui pemberian bahan kimia adalah sama</span><span>  </span>caranya seperti yang dilakukan pada penanganan kekeruhan <span>(<em>removal of turbidity</em>)</span><span> dengan koagulasi, flokulasi, dan sedimentasi. </span><br />
<span>Ada</span><span> banyak variasi, tetapi proses yang khas adalah melibatkan penambahan kapur (<em>lime</em>) untuk menaikkan pH air sampai cukup tinggi untuk reaksi yang terjadi pada senyawa kesadahan </span><span> </span>yang digunakan untuk mengendapkan dari air tersebut. Peralatan yang digunakan juga menyerupai peralatan penanganan kekeruhan <span>(<em>removal of turbidity</em>)</span><span> – kapur (lime) ditambahkan pada pengadukkan cepat (<em>flash mixer</em>), kemudian air diflokulasi, dan setelah itu senyawa-senyawa kesadahan (</span><span><em>hardness compounds</em>)</span><span> menggumpal dan mengendap secara gravitasi di dalam bak sedimentasi.</span></p>
<p><span></span><span>Air tanah adalah yang paling sering dilakukan pelunakkan dibandingkan dengan air permukaan. Air tanah tidak memerlukan flokulasi dalam rangka menangani</span><span>  </span>kekeruhan, tetapi proses pelunakkan kadang-kadang dapat menggantikan penanganan kekeruhan tersebut. Jika penanganan kekeruhan <span>(<em>removal of turbidity</em>)</span><span> </span><span> </span>dan pelunakkan (<em>softening</em>) diperlukan, maka dua proses tersebut dapat dilakukan bersamaan secara serempak, yaitu menggunakan peralatan dan bahan kimia yang sama.<span> </span><span> </span><span></span><span>Penggunaan kapur (<em>lime</em>) dapat mengurangi kesadahan karbonat. Jika abu soda (<em>soda ash</em>) ditambahkan seperti halnya penambahan kapur (<em>lime</em>), maka kesadahan karbonat dan nonkarbonat dapat dihilangkan. Di dalam kasus lainnya kita sering menjumpai, penambahan bahan kimia justru tidak menghilangkan semua kesadahan yang ada di air, tetapi kesadahan hanya dapat turun menjadi 30 sampai 40 mg/L, walaupun hasil akhir yang sering adalah 80 hingga 90 mg/L.</span><span> </span><span>Penambahan b</span><span>ahan kimia adalah suatu proses pelunakkan yang efektif, tetapi juga mempunyai beberapa kerugian. Proses ini memerlukan banyak operator yang digunakan dalam rangka mendapatkan hasil yang efisien, tetapi untuk bangunan pengolahan yang kecil pemakaian operator bisa efisien. pH air </span><span> </span>yang tinggi pada pelunakkan dengan kapur dapat menghasilkan warna di dalam air dan membuat warna tersebut sukar untuk dihilangkan. Akhirnya, pelunakkan dengan kapur dapat menghasilkan lumpur dalam jumlah yang besar serta menciptakan permasalahan dalam proses pembuangannya.<span> </span></p>
<h3 class="MsoNormal"><span>Jenis-jenis Pelunakkan (<em>Softening</em>)</span></h3>
<p><span></span><span></span><span></span><span><strong>1.</strong></span><span><strong> </strong>  </span><strong><span>Pelunakan pertukaran Ion (</span><span>Ion exchange softening</span><span>)</span><span>,</span></strong><span> juga dikenal sebagai pelunakan zeolit (<em>zeolite softening</em>), air melalui suatu saringan yang berisi resin granular (butiran-butiran kecil). Di dalam saringan, dikenal sebagai pelunak (<em>softener</em>), calsium dan magnesium di dalam air ditukar (<em>exchanged</em>) pada sodium dari resin granular (butiran-butiran kecil). Air yang dihasilkan nantinya mempunyai kesadahan (<em>hardness</em>)  0 mg/L dan harus dicampur dengan air sadah untuk mencegah </span><span> </span>terjadinya masalah kelunakan (<em>softness</em>) ketika air didtribusikan ke rumah-rumah penduduk.</p>
<p><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/ion-exchange.jpg" title="ion-exchange.jpg"></a><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/ion-exchange.jpg" title="ion-exchange.jpg"><img border="2" align="left" src="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/ion-exchange.jpg" alt="ion exchange" /></a><span>Pelunakan p</span><span>ertukaran ion tidak memerlukan pengadukan cepat, bak flokulasi, dan bak sedimentasi seperti yang terjadi pada pelunakkan dengan kapur-abu soda. Sebagai tambahan, proses ini tidak memakan banyak waktu seorang operator. </span>Pelunakan p<span>ertukaran ion adalah sangat efektif pada penurunan kesadahan karbonat </span><span> </span>dan non karbonat, dan pelunakan dengan pertukuran ion <span> </span>sering digunakan untuk kesadahan non karbonat yang tinggi dengan total juga mempunyai kerugian. Kalsium dan magnesium di (dalam) air kesadahan kurang dari 350 mg/L.<span> </span>
</p>
<p class="MsoNormal"><span>Bagaimanapun, pelunakan dengan pertukaran ion (</span><span><em>ion exchange softening</em></span><span>)</span> <span>mengandung mineral digantikan oleh ion sodium, yang dapat menyebabkan permasalahan kesehatan karena air yang dikonsumsi mengandung kadar garam. Penanganannya adalah pelunak (<em>softner</em>) harus di backwash dengan cara yang sama seperti pada saringan, dan memberikan imbuhan air, keadaan seperti itu kita kenal dengan nama <em>brine</em>.</span></p>
<p><strong><span>2.</span><span>  </span>Pelunakan Reverse-Osmosis (<span>Reverse-osmosis softening</span></strong><span><strong>).</strong> </span><span>Pelunakkan ini</span> <span>mengalirkan air dengan tekanan melalui suatu selaput semi-permeable. Kalsium, magnesium, dan padatan terlarut (dissolved solid) ditangkap ketika air yang dilunakkan dilewatkan melalui membran tersebut.</span> </p>
<p><span><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/reverse-osmosis.jpg" title="Reverse Osmosis"></a></span><span></p>
<p><img border="2" src="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/reverse-osmosis.jpg" alt="Reverse Osmosis" /></p>
<p></span></p>
<p><span> </span><span></span><strong><span>3.</span><span>  </span>Electrodialysis</strong><span><strong>.</strong>  Pelunakkan dengan cara ini air dilewatkan diantara dua plat dengan muatan listrik. Metal-metal di dalam air ditarik ke plat dengan muatan negatif sementara yang non metal ditarik ke plat dengan muatan positif. Kedua jenis ion ini dapat ditangani dengan plat. Electrodialysis sering digunakan pada air yang sangat sadah, dengan kesadahan lebih dari 500 mg/L sebagai CaCO3.</span><span></span>  <a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/electodialisis.jpg" title="Elektodialisis"></a><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/electodialisis.jpg" title="Elektodialisis"> </a></p>
<p><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/electodialisis.jpg" title="Elektodialisis"></p>
<p><img border="2" src="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/electodialisis.jpg" alt="Elektodialisis" /></p>
<p></a></p>
<p><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/electodialisis.jpg" title="Elektodialisis"><span></span></a><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/electodialisis.jpg" title="Elektodialisis"><span></span></a><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/electodialisis.jpg" title="Elektodialisis"><span></span></a><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/electodialisis.jpg" title="Elektodialisis"><span></span></p>
<p></a><span></span></p>
<p><span></span></p>
<p><span></span></p>
<p><span></span></p>
<p><span></span></p>
<p><span></span></p>
<p><span></span></p>
<p><span></span></p>
<p><span><strong>4.</strong> <strong>Penyulingan (Distillation).</strong> </span><span>Pelunakkan dengan cara ini dilakukan dengan penguapan air. Air yang diuapkan meninggalkan semua senyawa kesadahan, sehingga air yang dihasilkan menjadi lunak.</span><span> </span><span> </span></p>
<p><span><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/distilatisi.jpg" title="distilatisi.jpg"></a></span><span><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/distilatisi.jpg" title="distilatisi.jpg"></a></span><span><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/distilatisi.jpg" title="distilatisi.jpg"><img border="2" align="right" src="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/distilatisi.jpg" alt="Destilasi" /></a></span><span><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/distilatisi.jpg" title="distilatisi.jpg"><span></span></a></span><span><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/distilatisi.jpg" title="distilatisi.jpg"><span></span></a></span><span><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/distilatisi.jpg" title="distilatisi.jpg"><span></span></a></span><span><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/distilatisi.jpg" title="distilatisi.jpg"><span></span></p>
<p><span></span></p>
<p></a></span><span></span></p>
<p><span></span></p>
<p><span></span></p>
<p><span></span></p>
<p><span></span></p>
<p><span></span></p>
<p><span></span></p>
<p><span></span></p>
<p><span><strong>5.</strong></span><span>  </span><strong>Pembekuan (Freezing)</strong><span> juga dapat digunakan untuk menurunkan kesadahan.</span><span> </span></p>
<h3 class="MsoNormal"><span>Menggunakan Pelunak Atau Tidak?</span></h3>
<p><span></span><span></span><span>Karena pelunakkan bukanlah satu-satunya yang diperlukan dalam </span><span> </span>proses pengolahan, maka bangunan pengolahan haruslah memutuskan ya atau tidaknya untuk menggunakan softening. Keputusan ini harus dibuat secara hati-hati dengan menimbang keuntungan dan kerugian-kerugian dari pelunakan tersebut.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sisi positifnya, pelunakkan akan dapat menangani permasalahan kesadahan yang menyebabkan air sukar berbusa dan penyebab terjadi pengerakkan (<em>scaling</em>). Sebagai tambahan, tergantung pada jenis proses pelunakkan yang digunakan, pelunakkan juga membantu proses pengolahan air lainnya. Pelunakkan juga sering digunakan untuk menurunkan kadar besi (fe) dan mangan (mn), mengurangi rasa dan bau, mengurangi kandungan padatan total (total solid), dan dapat menangani</span><span>  </span>radioaktifitas. pH yang tinggi dihubungkan dengan pelunakkan dengan kapur yang dapat membantu dalam proses disinfeksi. Akhirnya, ketika air distabilkan dengan menggunakan rekarbonasi pada akhir proses pelunakkan dengan kapur, maka karatan di dalam sistem distribusi dapat dihindarkan.</p>
<p><span></span><span>Bagaimanapun, semua proses pelunakkan membawa suatu kepada biaya tertentu. Sebagai tambahan, pelunakkan dapat menyebabkan beberapa permasalahan lain. pH yang tinggi berhubungan dengan pelunakkan dengan kapur cenderung untuk menyukai pembentukan hipoklorit sebagai residu khlor, dan hipoklorit adalah adalah salah satu disinfeksi yang kuat dibanding residu klor bebas lainnya. pH yang tinggi juga dapat meningkatkan trihalomethane di dalam air. Jika air tidaklah distabilkan dengan baik setelah pengolahan, maka </span><span> </span>air bersifat korosif yang dapat merusak sistem pipa distribusi.<span> </span><span></span><span></span><span> </span>Akhirnya, pelunakkan dengan pertukaran ion, seperti uraian di atas, dapat juga menyebabkan permasalahan berupa kadar sodium tinggi di dalam air yang diolah. Pelunakaan dengan kapur dan pertukaran ion juga menciptakan permasalahan baru berupa pembuangan limbahnya.<span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/27/softening-pelunakan-pada-air-sadah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengolah Air Asin Menjadi Tawar Dengan Reverse Osmosis</title>
		<link>http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/10/193/</link>
		<comments>http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/10/193/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Apr 2007 03:37:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bennysyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi Terapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/10/193/</guid>
		<description><![CDATA[

The Environmentalist. Banyak cara untuk mengolah air asin menjadi air tawar, proses ini kita kenal dengan sebutan desalinasi. Contoh proses desalinasi yang berkembang saat ini adalah dengan Teknologi Distilasi, Pembekuan, Pertukaran ion, Penguapan sinar matahari, dan Teknologi Membran.
Teknologi terakhir yang saya sebutkan (membran) adalah teknologi yang cukup banyak digunakan, contoh teknologi membran adalah electrodialisis dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/ro-membrane.gif" title="ro-membrane.gif"></a></p>
<p align="center"><img border="0" vspace="2" width="522" src="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/ro-membrane.gif" hspace="2" alt="Reverse Osmosis" height="213" /></p>
<p><strong>The Environmentalist.</strong> Banyak cara untuk mengolah air asin menjadi air tawar, proses ini kita kenal dengan sebutan desalinasi. Contoh proses desalinasi yang berkembang saat ini adalah dengan Teknologi Distilasi, Pembekuan, Pertukaran ion, Penguapan sinar matahari, dan Teknologi Membran.</p>
<p>Teknologi terakhir yang saya sebutkan (membran) adalah teknologi yang cukup banyak digunakan, contoh teknologi membran adalah electrodialisis dan <em>reverse osmosis.</em> Dari dua teknologi membran tersebut <em>reverse osmosis </em>yang paling sering dipakai saat ini. <em>Reverse Osmosis</em> adalah salah satu teknologi pengolahan air asin menjadi air tawar yang paling sering digunakan untuk memenuhi kebutuhan air minum pada daerah rawa seperti di Kalimantan dan Sumatera.</p>
<p class="MsoNormal"><span>Pada tahun 1748, Ilmuwan Perancis </span><span> </span>Abbe Nollett, menemukan peristiwa osmosis yang alami. Proses ini terjadi ketika aliran cairan melalui suatu membran semi-permeable ke larutan konsentrat yang kemudian airnya menjadi tawar. Lebih dari 200 tahun kemudian, peristiwa ini telah dikenali sebagai cara untuk mengolah air asin, air payau, atau air yang berwarna.</p>
<h3 class="MsoNormal"><span></span></h3>
<h3 class="MsoNormal"><span>Cara Kerja <em>Reverse Osmosis</em></span><span></span><span> </span></h3>
<p><span>Daya penggerak di belakang <em>reverse osmosis</em> memberikan tekanan hidrostatik yang berbeda. Tanpa adanya pengaruh dari tekanan luar, air asin seperti yang terlihat pada gambar akan menerobos membran untuk menetralkan/menawarkan air yang mengandung  garam melalui  proses osmosis. Perbedaan pada permukaan air dalam kaitan dengan perpindahan ini disebut dengan </span><span><em>osmotic pressure head</em></span>, dan tekanan hidrostatik yang menyebabkan kenaikan pada permukaan air adalah <span></span><span><em>osmotic pressure</em></span>. Dalam beberapa kasus air laut yang<span>  </span>mempunyai kandungan garam tinggi, tekanan osmotis dapat menjadi sebesar<span>  </span>1000 psi<span>.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/10/193/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Intrusi Air Asin</title>
		<link>http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/09/mengenal-intrusi-air-asin/</link>
		<comments>http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/09/mengenal-intrusi-air-asin/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2007 07:55:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bennysyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/09/mengenal-intrusi-air-asin/</guid>
		<description><![CDATA[Dampak yang paling kita rasakan terjadinya pemanasan global adalah musim kemarau relatif lebih panjang sedangkan musim penghujan relatif lebih pendek, walaupun demikian sekali hujan sering menimbulkan banjir. Ini adalah salah satu ciri  pemanasan global.
Oleh karena musim kemarau relatif lebih panjang, sehingga imbuhan air hujan yang nantinya menjadi air tanah tentunya menjadi sangat berkurang, sementara penggunaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img border="0" vspace="2" align="left" src="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/intrusi.gif" hspace="2" alt="Intrusi Air Asin" />Dampak yang paling kita rasakan terjadinya pemanasan global adalah musim kemarau relatif lebih panjang sedangkan musim penghujan relatif lebih pendek, walaupun demikian sekali hujan sering menimbulkan banjir. Ini adalah salah satu ciri  pemanasan global.</p>
<p>Oleh karena musim kemarau relatif lebih panjang, sehingga imbuhan air hujan yang nantinya menjadi air tanah tentunya menjadi sangat berkurang, sementara penggunaan air tanah cenderung meningkat. Kondisi inilah awal mula terjadinya intrusi air asin tersebut.</p>
<h3>Proses Terjadinya Intrusi Air Asin</h3>
<p><span>Pada daerah yang berdekatan dengan pantai atau dekat dengan laut, maka terjadi pertemuan antara air laut dengan air tawar yang kita kenal dengan sebutan <em>interface. Interface</em> ini bisa menjorok ke arah laut dan juga bisa juga menjorok ke arah darat tergantung besar kecilnya imbuhan air hujan. Apabila imbuhan air hujan lebih sangat besar, maka interface akan menjorok ke arah laut, sedangkan imbuhan air hujan sedikit atau tidak ada sama sekali, maka interface akan menjotok ke arah darat. Perubahan di dalam tanah oleh imbuhan atau perubahan luar aliran dalam </span><span>daerah air tawar, menyebabkan perubahan </span><span><em>interface</em></span><span>. Penurunan aliran air </span><span>tawar yang masuk ke laut menyebabkan </span><span><em>interface</em></span><span> bergerak ke dalam tanah </span><span>dan menghasilkan intrusi air asin ke dalam akuifer. Sebaliknya suatu </span><span>peningkatan aliran air tawar mendorong i</span><span><em>nterface</em></span><span> ke arah laut. Laju </span><span>gerakan </span><span><em>interfac</em></span><span>e dan respon tekanan akuifer tergantung kondisi batas dan </span><span>sifat akuifer pada kedua sisi </span><span><em>interface</em></span><span>. </span></p>
<p><span>Akibat penggunaan air tanah yang berlebihan sementara imbuhan air hujan terbatas menyebabkan interface menjadi naik ke atas. Keadaan ini kita kenal dengan sebutan <em>up conning</em> (lihat gambar di atas). Sehingga air yang dikonsumsi menjadi asin akibat pengaruh air laut.</span></p>
<p><span>Tidak semua air yang rasanya asin menunjukkan terjadinya intrusi. Bisa jadi itu hanya air yang terjebak dalam batuan (water connate /air fosil). Air ini terjebak di dalam batuan puluhan tahun lamanya, sehingga airnya menjadi asin. Air yang diambil dengan cara jetting, maka akan menyebabkan air yang berada di dalam aquitard dapat tersedot, termasuk air fosilpun ikut tersedot. Dengan demikian air asin yang terjadi bukanlah akibat intrusi. Konon di Jakarta juga begitu, menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Smith yang berasal dari Jerman, bahwa air asin yang berada di sumur-sumur penduduk di Jakarta bukanlah hasil dari intrusi, tetapi akibat adanya air fosil. <em>Wallahu a&#8217;lam</em></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/09/mengenal-intrusi-air-asin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tercemarkah Sumur Anda ?</title>
		<link>http://bennysyah.edublogs.org/2007/03/26/tercemarkah-sumur-anda/</link>
		<comments>http://bennysyah.edublogs.org/2007/03/26/tercemarkah-sumur-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Mar 2007 08:47:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bennysyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennysyah.edublogs.org/2007/03/26/tercemarkah-sumur-anda/</guid>
		<description><![CDATA[The Environmentalist. Kadangkala kita merasa heran, mengapa dua daerah yang berdekatan dengan sampah, yang satu sumurnya  tercemar sedangkan yang lainnya tidak. Padahal kedua-duanya berpotensi tercemar lindi (air kotor yang berasal dari sampah). Pada pembahasan yang lalu telah penulis bahas tentang sumur yang berdekatan dengan sungai dengan judul Mitos Sumur Akan Tercemar Bila Dekat Dengan Sungai. Kali ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>The Environmentalist</strong>. Kadangkala kita merasa heran, mengapa dua daerah yang <a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/03/groundwater.jpg" title="Air Tanah"><img border="0" vspace="2" align="right" width="342" src="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/03/groundwater.jpg" hspace="2" alt="Air Tanah" height="180" /></a>berdekatan dengan sampah, yang satu sumurnya  tercemar sedangkan yang lainnya tidak. Padahal kedua-duanya berpotensi tercemar lindi (air kotor yang berasal dari sampah). Pada pembahasan yang lalu telah penulis bahas tentang sumur yang berdekatan dengan sungai dengan judul <a rel="bookmark" href="http://bennysyah.edublogs.org/2007/02/16/mitos-sumur-akan-tercemar-bila-dekat-dengan-sungai/"><font color="#006600">Mitos Sumur Akan Tercemar Bila Dekat Dengan Sungai</font></a>. Kali ini penulis membahas tentang faktor-faktor penyebab tercemar tidaknya sumur yang berdekatan dengan tumpukan sampah.</p>
<p>Berdasarkan gambar di atas, maka dapatlah kita simpulkan bahwa, tercemar atau tidaknya sumur anda dengan air lindi, sangat tergantung dari beberapa hal :</p>
<ul>
<li>Ketebalan atau kedalaman zona aerasi (zone of aeration) dari sumur kita. Semakin dalam atau tebal zona aerasinya, maka semakin kecil potensi terjadinya pencemaran terhadap sumur kita. Kalupun terjadi pencemaran yang diakibatkan oleh lindi tersebut, maka proses kontaminasinya memerlukan waktu yang relatif lama. Cara mengetahui ketebalan atau kedalaman zona aerasi dari sumur kita adalah dengan cara mengukur yang dimulai dari <em>water table </em>hingga permukaan tanah (tempat kita berpijak).</li>
<li>Permeabilitas tanah. Permeabilitas ini adalah  kemampuan batuan atau tanah untuk melewatkan cairan, terutama air,  minyak dan gas. Apabila nilai permeabilitasnya besar, maka potensi semakin tercemarnya dengan lindi akan semakin besar, begitu sebaliknya. Permeablitas ini sangat tergantung dari jenis tanah. Tanah yang mempunya <em>grain size </em>nya besar, akan mempunyai permeabilitas yang besar pula, sehingga jenis tanah ini akan sangat mudah meluluskan air ke bawah. Contohnya tanah-tanah yang banyak kandungan pasirnya mempunyai permabilitas yang besar.</li>
<li>Tekstur tanah. <span>Tekstur tanah adalah pembagian ukuran butir tanah. Butir-butir yang paling kecil adalah butir liat, diikuti oleh butir debu (silt), pasir, dan kerikil. Selain itu, ada juga tanah yang terdiri dari batu-batu. </span><span> </span>Tekstur tanah dikatakan baik apabila komposisi antara pasir, debu dan liatnya hampir seimbang. Tanah seperti ini disebut tanah lempung. Semakin halus butir-butir tanah (semakin banyak butir liatnya), maka semakin kuat tanah tersebut memegang air dan unsur hara. Tanah yang kandungan liatnya terlalu tinggi akan sulit diolah, apalagi bila tanah tersebut basah maka akan menjadi lengket. Tanah jenis ini akan sulit melewatkan air sehingga bila tanahnya datar akan cenderung tergenang dan pada tanah berlereng erosinya akan tinggi. Disamping itu  tanah ini mempunyai keuntungan berupa terhambatnya lindi untuk meresap ke dalam tanah, sehingga sumur-sumur akan aman dari kontaminasi lindi. Tanah dengan butir-butir yang terlalu kasar (pasir) tidak dapat menahan air dan unsur hara. Dengan demikian tanaman yang tumbuh pada tanah jenis ini mudah mengalami kekeringan dan kekurangan hara.</li>
</ul>
<p>Ketiga faktor di atas memberikan kontribusi terhadap tercemar atau tidaknya sumur kita. Berarti jelas sudah mengapa sumur yang berdekatan dengan tumpukan sampah ada yang tercemar dan ada yang belum tercemar tergantung dari ketiga faktor di atas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennysyah.edublogs.org/2007/03/26/tercemarkah-sumur-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menggugat Istilah Sumur Dalam &amp; Dangkal</title>
		<link>http://bennysyah.edublogs.org/2007/03/21/menggugat-istilah-sumur-dalam-dan-dangkal/</link>
		<comments>http://bennysyah.edublogs.org/2007/03/21/menggugat-istilah-sumur-dalam-dan-dangkal/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Mar 2007 07:28:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bennysyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennysyah.edublogs.org/2007/03/21/menggugat-istilah-sumur-dalam-dan-dangkal/</guid>
		<description><![CDATA[The Environmentalist. Pada tulisan saya sebelumnya banyak mengangkat istilah sumur dalam dan sumur dangkal. Dua istilah ini sengaja saya buat agar para pembaca tidak asing dengan istilah tersebut. Tetapi sebetulnya istilah ini kurang tepat apabila ditinjau dari kaca mata seorang hidrolog. Mengingat sangat relatifnya batasan untuk sumur dalam dan sumur dangkal ini, maka sebagian besar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img border="0" vspace="2" align="left" width="333" src="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/03/aquifer-1.jpg" hspace="2" height="177" /><strong>The Environmentalist</strong>. Pada tulisan saya sebelumnya banyak mengangkat istilah sumur dalam dan sumur dangkal. Dua istilah ini sengaja saya buat agar para pembaca tidak asing dengan istilah tersebut. Tetapi sebetulnya istilah ini kurang tepat apabila ditinjau dari kaca mata seorang hidrolog. Mengingat sangat relatifnya batasan untuk sumur dalam dan sumur dangkal ini, maka sebagian besar para hidrolog menganjurkan untuk tidak menggunakan istilah tersebut.</p>
<p>Hal yang paling tepat yang seharusnya digunakan adalah istilah <em><strong>Unconfined Aquifer</strong></em> dan <em><strong>Confined Aquifer</strong></em>.  Dua istilah inilah sebetulnya yang paling tepat untuk menggantikan istilah sumur dalam dan sumur dangkal. Pasalnya istilah  <em><strong>Unconfined Aquifer</strong></em> dan <em><strong>Confined Aquifer</strong></em>  ini tidak memberikan batasan kedalaman sumur, sehingga sangatlah tepat apabila kita menggunakan istilah ini. Kedalamam aquifer ini sangat tergantung dari kondisi geografis masing-masing daerah, mengingat adanya perbedaan tersebut, maka jelaslah tidak mungkin kita akan membatasi kedalaman tertentu termasuk sumur dangkal atau dalam, tetapi kondisi aquiferlah yang sangat menentukan semua itu. Bisa jadi kita akan menemukan suatu daerah mempunyai sumur dengan kedalaman 30 meter misalnya, maka tidak bisa kita lantas mengatakan bahwa sumur tersebut termasuk sumur dalam, mungkin saja sumur tersebut berada dalam <em>unconfined aquifer.</em> Perhatikanlah gambar di atas water table berada pada <em>unconfined aquifer</em>, tetapi bisa juga berada pada <em>confined aquifer</em></p>
<h3>Mengenal <em>Unconfined</em>  dan <em>Confined Aquifer</em> </h3>
<p>Bila kita perhatikan gambar di atas, maka sebetulnya dapat kita simpulkan bahwa <em>Unconfined aquifer</em> adalah air tanah bebas / tidak tertekan. yang dibatasi oleh <em>water table </em>(<em>phreatic level</em>) sedangkan bagian bawahnya dibatasi oleh <em>aquitard</em> atau <em>aquiclude</em>. Istilah ini sangat tepat untuk menggantikan istilah<strong> sumur dangkal</strong>.</p>
<p>Sedangkan <em>Confined Aquifer</em> adalah air tanah tertekan. Aquifer ini pada bagian atas di batasi oleh aquitard dan bagian bawah dibatasi oleh <em>aquitard</em> atau <em>aquiclude</em>. Istilah ini sangat tepat untuk menggantikan istilah<strong> sumur dalam.</strong></p>
<p align="center"><em>Bagaimana komentar anda ?</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennysyah.edublogs.org/2007/03/21/menggugat-istilah-sumur-dalam-dan-dangkal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Deteksi Sumber Air Dangkal Dengan Pohon Bambu Petung</title>
		<link>http://bennysyah.edublogs.org/2007/03/20/deteksi-sumber-air-dangkal-dengan-pohon-bambu-petung/</link>
		<comments>http://bennysyah.edublogs.org/2007/03/20/deteksi-sumber-air-dangkal-dengan-pohon-bambu-petung/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Mar 2007 07:19:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bennysyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennysyah.edublogs.org/2007/03/20/deteksi-sumber-air-dangkal-dengan-pohon-bambu-petung/</guid>
		<description><![CDATA[
The Environmentalist. Di Indonesia, terutama masyarakat pedesaan, bambu memegang peranan sangat penting. Bahan bambu dikenal oleh masyarakat memiliki sifat-sifat yang baik untuk dimanfaatkan, antara lain batangnya kuat, ulet, lurus, rata, keras, mudah dibelah, mudah dibentuk dan mudah dikerjakan serta ringan sehingga mudah diangkut. Selain itu bambu juga relatif murah dibandingkan dengan bahan bangunan lain karena banyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/03/bambu.jpg" title="Bambu Petung"><img border="0" vspace="2" align="left" src="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/03/bambu.jpg" hspace="2" alt="Bambu Petung" /></a></p>
<p><span><strong>The Environmentalist.</strong> Di Indonesia, terutama masyarakat pedesaan, bambu memegang peranan sangat penting. Bahan bambu dikenal oleh masyarakat memiliki sifat-sifat yang baik untuk dimanfaatkan, antara lain batangnya kuat, ulet, lurus, rata, keras, mudah dibelah, mudah dibentuk dan mudah dikerjakan serta ringan sehingga mudah diangkut. Selain itu bambu juga relatif murah dibandingkan dengan bahan bangunan lain karena banyak ditemukan di sekitar pemukiman pedesaan. bambu menjadi tanaman serbaguna bagi masyarakat pedesaan.</span></p>
<p><span></span><span>Tanaman bambu hidup merumpun, kadang-kadang ditemui berbaris membentuk suatu garis pembatas dari suatu wilayah desa yang identik dengan batas desa di Jawa. Penduduk desa sering menanam bambu disekitar rumahnya untuk berbagai keperluan. Bermacam-macam jenis bambu bercampur ditanam di pekarangan rumah. Pada umumnya yang sering digunakan oleh masyarakat di </span><span>Indonesia</span><span> adalah bambu tali, bambu andong, bambu hitam, dan bambu petung</span></p>
<h3 align="left"><span><strong>Bambu Petung dan Air Dangkal</strong></span></h3>
<p><span>Apabila kita melewati suatu tempat menemukan adanya bamboo petung yang tumbuh secara alami, maka kemungkinan besar didaerah tersebut terdapat air permukaan yang relatif </span><span> </span>dangkal. Fenomena alam ini sangat membantu kita dalam mengidentifikasi sumber air <span>baku</span><span>. Masihkah kita ingin merusak alam ? padahal alam itu sebetulnya membantu kehidupan kita.</span></p>
<p align="center"><span><em>Selamat mencoba</em></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennysyah.edublogs.org/2007/03/20/deteksi-sumber-air-dangkal-dengan-pohon-bambu-petung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Stasiun ISPU&#8230; Riwayatmu Kini</title>
		<link>http://bennysyah.edublogs.org/2007/03/07/stasiun-ispu-riwayatmu-kini/</link>
		<comments>http://bennysyah.edublogs.org/2007/03/07/stasiun-ispu-riwayatmu-kini/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Mar 2007 08:02:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bennysyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennysyah.edublogs.org/2007/03/07/stasiun-ispu-riwayatmu-kini/</guid>
		<description><![CDATA[ISPU bukanlah singkatan dari Ikatan Suami  Perlu Uang, tetapi singkatan Indeks Standar Pencemar Udara. Menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-45/MENLH/10/1997 tentang Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), didefinisikan sebagai  angka yang tidak mempunyai satuan yang menggambarkan kondisi kualitas udara ambien di lokasi dan waktu tertentu yang didasarkan kepada dampak terhadap kesehatan manusia, nilai estetika dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/03/ispu.jpg" title="Stasiun ISPU"><strong><img border="0" vspace="2" align="right" src="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/03/ispu.jpg" hspace="2" alt="Stasiun ISPU" /></strong></a><strong>ISPU</strong> bukanlah singkatan dari <strong>I</strong>katan <strong>S</strong>uami  <strong>P</strong>erlu <strong>U</strong>ang, tetapi singkatan Indeks Standar Pencemar Udara. Menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-45/MENLH/10/1997 tentang Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), didefinisikan sebagai  angka yang tidak mempunyai satuan yang menggambarkan kondisi kualitas udara ambien di lokasi dan waktu tertentu yang didasarkan kepada dampak terhadap kesehatan manusia, nilai estetika dan makhluk hidup lainnya.</p>
<p>Stasiun ISPU seperti pada gambar di atas banyak kita jumpai pada hampir setiap propinsi. Keberadaannya sangat membantu, karena dapat digunakan sebagai :</p>
<ol>
<li>bahan informasi kepada masyarakat tentang kualitas udara ambien di lokasi dan waktu tertentu;</li>
<li>
<p align="left">bahan pertimbangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam melaksanakan pengelolaan dan pengendalian pencemaran udara</p>
</li>
</ol>
<p>Bagi sebagian orang keberadaan stasiun ISPU sangatlah diperlukan keberadaannya, walaupun kebanyakan dari kita sebenarnya tidak begitu memperdulikan alat ini.  Masyarakat tidak mengerti alat tersebut gunanya untuk apa, bahkan stasiun ISPU di beberapa kota di Indonesia ada yang rusak akibat lemparan batu. Padahal informasi yang disampaikan oleh stasiun ISPU sangatlah berharga.</p>
<p>Belakangan ini juga banyak kita jumpai stasiun ISPU yang tidak pernah aktif atau dengan kata lain tidak berfungsi sama sekali, sebut saja di Semarang misalnya, beberapa tempat seperti di Jalan Teuku Umur, serta di depan kantor Balai Kota tidak pernah berfungsi sama sekali, padahal keberadaan stasiun ISPU tersebut haruslah beroperasi secara terus menerus dan datanya dapat dipantau secara langsung oleh siapa saja, sehingga  seharusnya masyarakat mengetahui seberapa besar  parameter seperti : Partikulat (PM10), Karbon monoksida (CO), Sulfur dioksida (SO2), Nitrogen dioksida (NO2), dan Ozon (O3).</p>
<h3>Mengapa Demikian ?</h3>
<p>Banyak sebagian masyarakat berspekulasi dan menebak-nebak tentang kondisi stasiun ISPU saat ini, diantaranya adalah :</p>
<ul>
<li>Stasiun ISPU memerlukan perawatan secara periodik. Kondisi inilah yang tidak bisa dijalankan, mengingat mental kebanyakan kita adalah pemalas.</li>
<li>Tidak adanya tenaga ahli (SDM) yang <em>qualified</em> . Kondisi ini sangat riskan apabila satasiun ISPU tersebut rusak.</li>
<li>Letak stasiun ISPU yang tidak representatif. Kondisi inilah yang paling banyak menjadi sorotan. Padahal seharusnya  Indeks Standar Pencemar Udara yang dilaporkan ke media massa (koran harian setempat /televisi stasiun setempat) adalah Indeks Standar Pencemar Udara yang paling tinggi, tetapi sementara ini kita melihat letak stasiun ISPU tidak pada tempat-tempat yang berpotensi terjadinya pencemaran udara.</li>
</ul>
<p>Bagaimana tanggapan anda dengan stasiun ISPU yang tidak aktif tersebut ?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennysyah.edublogs.org/2007/03/07/stasiun-ispu-riwayatmu-kini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Deteksi Sumber Air Dangkal Dengan Pohon Kelapa</title>
		<link>http://bennysyah.edublogs.org/2007/02/27/deteksi-sumber-air-dangkal-dengan-pohon-kelapa/</link>
		<comments>http://bennysyah.edublogs.org/2007/02/27/deteksi-sumber-air-dangkal-dengan-pohon-kelapa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Feb 2007 08:54:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bennysyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennysyah.edublogs.org/2007/02/27/deteksi-sumber-air-dangkal-dengan-pohon-kelapa/</guid>
		<description><![CDATA[Bagi kebanyakan orang mendapatkan sumber air yang dangkal adalah sebuah harapan yang ditunggu-tunggu. Pasalnya banyak kita jumpai rumah-rumah yang mempunyai sumur yang sangat dalam, sehingga bisa dipastikan biaya dan tenaga yang dikeluarkan si pemilik sumur relatif besar.
Sebenarnya fenomena alam disekitar kita dapat membantu untuk menunjukkan lokasi yang mempunyai sumber air dangkal, sehingga sangat bermanfaat bagi seseorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/02/kelapa.jpg" title="Kelapa"><img border="0" vspace="2" align="left" src="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/02/kelapa.jpg" hspace="2" alt="Pohon Kelapa" /></a>Bagi kebanyakan orang mendapatkan sumber air yang dangkal adalah sebuah harapan yang ditunggu-tunggu. Pasalnya banyak kita jumpai rumah-rumah yang mempunyai sumur yang sangat dalam, sehingga bisa dipastikan biaya dan tenaga yang dikeluarkan si pemilik sumur relatif besar.</p>
<p>Sebenarnya fenomena alam disekitar kita dapat membantu untuk menunjukkan lokasi yang mempunyai sumber air dangkal, sehingga sangat bermanfaat bagi seseorang yang akan mendirikan rumah dalam mengetahui apakah rumah yang akan dia bangun mempunyai sumur yang relatif dangkal atau tidak. Pada daerah-daerah tertentu, kondisi lahan yang mempunyai kedalaman yang relatif dangkal sangat digemari untuk dibangun sebuah rumah. Sebut saja Prop. Jambi misalnya, di daerah ini kebanyakan orang yang akan membuat rumah selalu yang diperhatikan adalah sumur tetangga terlebih dahulu, pasalnya apabila sumur tetangga relatif dalam hingga puluhan meter kedalamannya, maka kemungkinan untuk mengurungkan niatnya membangun rumah di daerah tersebut sangat besar.</p>
<p>Di samping sangat berguna bagi seseorang yang ingin membangun rumah, fenomena alam juga dapat membantu kebanyakan orang untuk mengidentifikasi sumber air baku guna penyedian air bersih di suatu daerah, sehingga akan sangat menghemat biaya dan waktu.</p>
<h3>Bagaimana Caranya ?</h3>
<p>Apabila kita melewati suatu lokasi yang terdapat pohon kelapa, dimana daunnya turun tidak seperti kebanyakan pohon kelapa lainnya, atau dalam bahasa jawa disebut <em>sengkleh,</em> maka kemungkinan besar di daerah tersebut mempunyai sumber air yang relatif dangkal, yaitu kurang dari 7 meter. Fenomena alam ini sangat membantu bukan?, sehingga sudah sewajarnya alam ini kita jaga, jangan sampai rusak. Dengan demikian kita akan dapat mempelajari alam dengan alam itu sendiri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennysyah.edublogs.org/2007/02/27/deteksi-sumber-air-dangkal-dengan-pohon-kelapa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mitos Sumur Akan Tercemar Bila Dekat Dengan Sungai</title>
		<link>http://bennysyah.edublogs.org/2007/02/16/mitos-sumur-akan-tercemar-bila-dekat-dengan-sungai/</link>
		<comments>http://bennysyah.edublogs.org/2007/02/16/mitos-sumur-akan-tercemar-bila-dekat-dengan-sungai/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Feb 2007 09:06:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bennysyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennysyah.edublogs.org/2007/02/16/mitos-sumur-akan-tercemar-bila-dekat-dengan-sungai/</guid>
		<description><![CDATA[The Environmentalist. Umumnya kita akan beranggapan seperti judul di atas, kita akan merasa sangat kawatir, takut, atau semacamnya apabila rumah kita berdekatan dengan sungai yang notobene sudah tercemar. Perlu kita sadari bahwa hampir semua sungai yang ada di Indonesia seluruhnya tercemar, dan tidak pernah kita jumpai sungai-sungai yang terbebas dari buangan industri maupun domestik. Sebenarnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/02/effluent-vs-influent-stream.gif" title="effluent-vs-influent-stream.gif"><img border="0" vspace="2" align="left" width="329" src="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/02/effluent-vs-influent-stream.gif" hspace="2" alt="effluent-vs-influent-stream.gif" height="240" /></a><strong>The Environmentalist.</strong> Umumnya kita akan beranggapan seperti judul di atas, kita akan merasa sangat kawatir, takut, atau semacamnya apabila rumah kita berdekatan dengan sungai yang notobene sudah tercemar. Perlu kita sadari bahwa hampir semua sungai yang ada di Indonesia seluruhnya tercemar, dan tidak pernah kita jumpai sungai-sungai yang terbebas dari buangan industri maupun domestik. Sebenarnya sungai yang tercemar oleh limbah industri maupun domestik belum tentu akan mencemari sumur-sumur penduduk yang berada disekitarnya, pasalnya jenis sungai berpengaruh terhadap tercemar atau tidaknya sumur-sumur penduduk.</p>
<h3>Jenis Sungai Berdasarkan Kontribusinya Terhadap Air Tanah</h3>
<p>Berdasarkan kontribusinya terhadap air tanah, maka sungai dapat dibedakan menjadi 2 macam:</p>
<ul>
<li><strong>Sungai effluent (<em>Effluent Str</em>eam)</strong>.  Jenis sungai ini adalah jenis sungai yang tidak mencemari sumur-sumur penduduk, pasalnya sungai ini mendapat imbuhan dari air tanah disekitarnya. Atau dengan kata lain, sumur-sumur penduduk yang berada di sekitar sungai malah justru memberikan airnya ke sungai tersebut (lihat gambar di atas). Jenis sungai ini adalah permukan air sungai lebih rendah daripada permukaan air tanah (<em>water table</em>)</li>
<li><strong>Sungai Inffluent (<em>Influent Stream</em>). </strong>Sedangkan sungai influent adalah sungai mencemari sumur-sumur penduduk, karena sungai ini memberikan kontribusi/imbuhan kepada sumur-sumur disekitarnya. Atau dengan kata lain permukaan air sungai lebih tinggi daripada permukaan air tanah (<em>water table</em>).</li>
</ul>
<h3>Bagaimana Cara Mengetahui Sumur Kita Tercemar Atau Tidak ?</h3>
<p>Cara yang paling gampang adalah dengan melihat kedalaman sumur kita (diukur dari permukaan air sungai hingga permukaan tanah), kemudian dibandingkan dengan kedalaman sungai yang berada didekatnya. Untuk mengukur kedalaman sungai caranya sama dengan mengukur kedalaman sumur yaitu diukur mulai dari permukaan air sungai hingga permukaan tanah. Apabila diketahui kedalaman sumur lebih dalam daripada sungai, maka sumur-sumur penduduk berpotensi akan terkontaminasi oleh sungai. tetapi sebaliknya apabila kedalaman sumur penduduk lebih rendah dari kedalaman sungai, maka sumur-sumur tersebut aman dari kontaminasi sungai-sungai tersebut.</p>
<p align="center"><em>Selamat Mencoba, Perhatikan Sumur-sumur Anda!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennysyah.edublogs.org/2007/02/16/mitos-sumur-akan-tercemar-bila-dekat-dengan-sungai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
