THE ENVIRONMENTALIST

Entries Tagged as 'Lingkungan'

Menggugat Istilah Sumur Dalam & Dangkal

March 21st, 2007 · 2 Comments

The Environmentalist. Pada tulisan saya sebelumnya banyak mengangkat istilah sumur dalam dan sumur dangkal. Dua istilah ini sengaja saya buat agar para pembaca tidak asing dengan istilah tersebut. Tetapi sebetulnya istilah ini kurang tepat apabila ditinjau dari kaca mata seorang hidrolog. Mengingat sangat relatifnya batasan untuk sumur dalam dan sumur dangkal ini, maka sebagian besar para hidrolog menganjurkan untuk tidak menggunakan istilah tersebut.

Hal yang paling tepat yang seharusnya digunakan adalah istilah Unconfined Aquifer dan Confined Aquifer.  Dua istilah inilah sebetulnya yang paling tepat untuk menggantikan istilah sumur dalam dan sumur dangkal. Pasalnya istilah  Unconfined Aquifer dan Confined Aquifer  ini tidak memberikan batasan kedalaman sumur, sehingga sangatlah tepat apabila kita menggunakan istilah ini. Kedalamam aquifer ini sangat tergantung dari kondisi geografis masing-masing daerah, mengingat adanya perbedaan tersebut, maka jelaslah tidak mungkin kita akan membatasi kedalaman tertentu termasuk sumur dangkal atau dalam, tetapi kondisi aquiferlah yang sangat menentukan semua itu. Bisa jadi kita akan menemukan suatu daerah mempunyai sumur dengan kedalaman 30 meter misalnya, maka tidak bisa kita lantas mengatakan bahwa sumur tersebut termasuk sumur dalam, mungkin saja sumur tersebut berada dalam unconfined aquifer. Perhatikanlah gambar di atas water table berada pada unconfined aquifer, tetapi bisa juga berada pada confined aquifer

Mengenal Unconfined  dan Confined Aquifer 

Bila kita perhatikan gambar di atas, maka sebetulnya dapat kita simpulkan bahwa Unconfined aquifer adalah air tanah bebas / tidak tertekan. yang dibatasi oleh water table (phreatic level) sedangkan bagian bawahnya dibatasi oleh aquitard atau aquiclude. Istilah ini sangat tepat untuk menggantikan istilah sumur dangkal.

Sedangkan Confined Aquifer adalah air tanah tertekan. Aquifer ini pada bagian atas di batasi oleh aquitard dan bagian bawah dibatasi oleh aquitard atau aquiclude. Istilah ini sangat tepat untuk menggantikan istilah sumur dalam.

Bagaimana komentar anda ?

Tags: Lingkungan · Wacana

Deteksi Sumber Air Dangkal Dengan Pohon Bambu Petung

March 20th, 2007 · 3 Comments

Bambu Petung

The Environmentalist. Di Indonesia, terutama masyarakat pedesaan, bambu memegang peranan sangat penting. Bahan bambu dikenal oleh masyarakat memiliki sifat-sifat yang baik untuk dimanfaatkan, antara lain batangnya kuat, ulet, lurus, rata, keras, mudah dibelah, mudah dibentuk dan mudah dikerjakan serta ringan sehingga mudah diangkut. Selain itu bambu juga relatif murah dibandingkan dengan bahan bangunan lain karena banyak ditemukan di sekitar pemukiman pedesaan. bambu menjadi tanaman serbaguna bagi masyarakat pedesaan.

Tanaman bambu hidup merumpun, kadang-kadang ditemui berbaris membentuk suatu garis pembatas dari suatu wilayah desa yang identik dengan batas desa di Jawa. Penduduk desa sering menanam bambu disekitar rumahnya untuk berbagai keperluan. Bermacam-macam jenis bambu bercampur ditanam di pekarangan rumah. Pada umumnya yang sering digunakan oleh masyarakat di Indonesia adalah bambu tali, bambu andong, bambu hitam, dan bambu petung

Bambu Petung dan Air Dangkal

Apabila kita melewati suatu tempat menemukan adanya bamboo petung yang tumbuh secara alami, maka kemungkinan besar didaerah tersebut terdapat air permukaan yang relatif  dangkal. Fenomena alam ini sangat membantu kita dalam mengidentifikasi sumber air baku. Masihkah kita ingin merusak alam ? padahal alam itu sebetulnya membantu kehidupan kita.

Selamat mencoba

Tags: Lingkungan · Wacana

Stasiun ISPU… Riwayatmu Kini

March 7th, 2007 · 2 Comments

Stasiun ISPUISPU bukanlah singkatan dari Ikatan Suami  Perlu Uang, tetapi singkatan Indeks Standar Pencemar Udara. Menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-45/MENLH/10/1997 tentang Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), didefinisikan sebagai  angka yang tidak mempunyai satuan yang menggambarkan kondisi kualitas udara ambien di lokasi dan waktu tertentu yang didasarkan kepada dampak terhadap kesehatan manusia, nilai estetika dan makhluk hidup lainnya.

Stasiun ISPU seperti pada gambar di atas banyak kita jumpai pada hampir setiap propinsi. Keberadaannya sangat membantu, karena dapat digunakan sebagai :

  1. bahan informasi kepada masyarakat tentang kualitas udara ambien di lokasi dan waktu tertentu;
  2. bahan pertimbangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam melaksanakan pengelolaan dan pengendalian pencemaran udara

Bagi sebagian orang keberadaan stasiun ISPU sangatlah diperlukan keberadaannya, walaupun kebanyakan dari kita sebenarnya tidak begitu memperdulikan alat ini.  Masyarakat tidak mengerti alat tersebut gunanya untuk apa, bahkan stasiun ISPU di beberapa kota di Indonesia ada yang rusak akibat lemparan batu. Padahal informasi yang disampaikan oleh stasiun ISPU sangatlah berharga.

Belakangan ini juga banyak kita jumpai stasiun ISPU yang tidak pernah aktif atau dengan kata lain tidak berfungsi sama sekali, sebut saja di Semarang misalnya, beberapa tempat seperti di Jalan Teuku Umur, serta di depan kantor Balai Kota tidak pernah berfungsi sama sekali, padahal keberadaan stasiun ISPU tersebut haruslah beroperasi secara terus menerus dan datanya dapat dipantau secara langsung oleh siapa saja, sehingga  seharusnya masyarakat mengetahui seberapa besar  parameter seperti : Partikulat (PM10), Karbon monoksida (CO), Sulfur dioksida (SO2), Nitrogen dioksida (NO2), dan Ozon (O3).

Mengapa Demikian ?

Banyak sebagian masyarakat berspekulasi dan menebak-nebak tentang kondisi stasiun ISPU saat ini, diantaranya adalah :

  • Stasiun ISPU memerlukan perawatan secara periodik. Kondisi inilah yang tidak bisa dijalankan, mengingat mental kebanyakan kita adalah pemalas.
  • Tidak adanya tenaga ahli (SDM) yang qualified . Kondisi ini sangat riskan apabila satasiun ISPU tersebut rusak.
  • Letak stasiun ISPU yang tidak representatif. Kondisi inilah yang paling banyak menjadi sorotan. Padahal seharusnya  Indeks Standar Pencemar Udara yang dilaporkan ke media massa (koran harian setempat /televisi stasiun setempat) adalah Indeks Standar Pencemar Udara yang paling tinggi, tetapi sementara ini kita melihat letak stasiun ISPU tidak pada tempat-tempat yang berpotensi terjadinya pencemaran udara.

Bagaimana tanggapan anda dengan stasiun ISPU yang tidak aktif tersebut ?

Tags: Lingkungan · Wacana

Deteksi Sumber Air Dangkal Dengan Pohon Kelapa

February 27th, 2007 · 4 Comments

Pohon KelapaBagi kebanyakan orang mendapatkan sumber air yang dangkal adalah sebuah harapan yang ditunggu-tunggu. Pasalnya banyak kita jumpai rumah-rumah yang mempunyai sumur yang sangat dalam, sehingga bisa dipastikan biaya dan tenaga yang dikeluarkan si pemilik sumur relatif besar.

Sebenarnya fenomena alam disekitar kita dapat membantu untuk menunjukkan lokasi yang mempunyai sumber air dangkal, sehingga sangat bermanfaat bagi seseorang yang akan mendirikan rumah dalam mengetahui apakah rumah yang akan dia bangun mempunyai sumur yang relatif dangkal atau tidak. Pada daerah-daerah tertentu, kondisi lahan yang mempunyai kedalaman yang relatif dangkal sangat digemari untuk dibangun sebuah rumah. Sebut saja Prop. Jambi misalnya, di daerah ini kebanyakan orang yang akan membuat rumah selalu yang diperhatikan adalah sumur tetangga terlebih dahulu, pasalnya apabila sumur tetangga relatif dalam hingga puluhan meter kedalamannya, maka kemungkinan untuk mengurungkan niatnya membangun rumah di daerah tersebut sangat besar.

Di samping sangat berguna bagi seseorang yang ingin membangun rumah, fenomena alam juga dapat membantu kebanyakan orang untuk mengidentifikasi sumber air baku guna penyedian air bersih di suatu daerah, sehingga akan sangat menghemat biaya dan waktu.

Bagaimana Caranya ?

Apabila kita melewati suatu lokasi yang terdapat pohon kelapa, dimana daunnya turun tidak seperti kebanyakan pohon kelapa lainnya, atau dalam bahasa jawa disebut sengkleh, maka kemungkinan besar di daerah tersebut mempunyai sumber air yang relatif dangkal, yaitu kurang dari 7 meter. Fenomena alam ini sangat membantu bukan?, sehingga sudah sewajarnya alam ini kita jaga, jangan sampai rusak. Dengan demikian kita akan dapat mempelajari alam dengan alam itu sendiri.

Tags: Lingkungan · Wacana

Mitos Sumur Akan Tercemar Bila Dekat Dengan Sungai

February 16th, 2007 · 3 Comments

effluent-vs-influent-stream.gifThe Environmentalist. Umumnya kita akan beranggapan seperti judul di atas, kita akan merasa sangat kawatir, takut, atau semacamnya apabila rumah kita berdekatan dengan sungai yang notobene sudah tercemar. Perlu kita sadari bahwa hampir semua sungai yang ada di Indonesia seluruhnya tercemar, dan tidak pernah kita jumpai sungai-sungai yang terbebas dari buangan industri maupun domestik. Sebenarnya sungai yang tercemar oleh limbah industri maupun domestik belum tentu akan mencemari sumur-sumur penduduk yang berada disekitarnya, pasalnya jenis sungai berpengaruh terhadap tercemar atau tidaknya sumur-sumur penduduk.

Jenis Sungai Berdasarkan Kontribusinya Terhadap Air Tanah

Berdasarkan kontribusinya terhadap air tanah, maka sungai dapat dibedakan menjadi 2 macam:

  • Sungai effluent (Effluent Stream).  Jenis sungai ini adalah jenis sungai yang tidak mencemari sumur-sumur penduduk, pasalnya sungai ini mendapat imbuhan dari air tanah disekitarnya. Atau dengan kata lain, sumur-sumur penduduk yang berada di sekitar sungai malah justru memberikan airnya ke sungai tersebut (lihat gambar di atas). Jenis sungai ini adalah permukan air sungai lebih rendah daripada permukaan air tanah (water table)
  • Sungai Inffluent (Influent Stream). Sedangkan sungai influent adalah sungai mencemari sumur-sumur penduduk, karena sungai ini memberikan kontribusi/imbuhan kepada sumur-sumur disekitarnya. Atau dengan kata lain permukaan air sungai lebih tinggi daripada permukaan air tanah (water table).

Bagaimana Cara Mengetahui Sumur Kita Tercemar Atau Tidak ?

Cara yang paling gampang adalah dengan melihat kedalaman sumur kita (diukur dari permukaan air sungai hingga permukaan tanah), kemudian dibandingkan dengan kedalaman sungai yang berada didekatnya. Untuk mengukur kedalaman sungai caranya sama dengan mengukur kedalaman sumur yaitu diukur mulai dari permukaan air sungai hingga permukaan tanah. Apabila diketahui kedalaman sumur lebih dalam daripada sungai, maka sumur-sumur penduduk berpotensi akan terkontaminasi oleh sungai. tetapi sebaliknya apabila kedalaman sumur penduduk lebih rendah dari kedalaman sungai, maka sumur-sumur tersebut aman dari kontaminasi sungai-sungai tersebut.

Selamat Mencoba, Perhatikan Sumur-sumur Anda!

Tags: Lingkungan · Wacana