<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>THE ENVIRONMENTALIST &#187; Wacana</title>
	<atom:link href="http://bennysyah.edublogs.org/category/wacana/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bennysyah.edublogs.org</link>
	<description>Awali Hidup dengan Berperilaku Hijau</description>
	<lastBuildDate>Fri, 14 Mar 2008 09:42:03 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Mensikapi Hari Bumi / Earth Day</title>
		<link>http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/24/mensikapi-hari-bumi-earth-day/</link>
		<comments>http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/24/mensikapi-hari-bumi-earth-day/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2007 08:02:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bennysyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wacana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/24/mensikapi-hari-bumi-earth-day/</guid>
		<description><![CDATA[Setiap tanggal 22 April kita peringati sebagai hari bumi/ earth day. Peringatan ini jangan dijadikan sebagai seremonial belaka, tanpa adanya kesan yang mendalam. Ada hal penting yang harus kita jadikan sebagai kontemplasi :

Bumi kita semakin panas yang disebabkan oleh gas rumah kaca. Kondisi ini terjadi karena pola hidup kita jarang memikirkan kepentingan generasi yang akan datang. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img border="0" vspace="2" align="right" src="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/02/earthshine1.gif" hspace="2" alt="Bola Dunia" />Setiap tanggal 22 April kita peringati sebagai hari bumi/ <em>earth day.</em> Peringatan ini jangan dijadikan sebagai seremonial belaka, tanpa adanya kesan yang mendalam. Ada hal penting yang harus kita jadikan sebagai kontemplasi :</p>
<ol>
<li>Bumi kita semakin panas yang disebabkan oleh gas rumah kaca. Kondisi ini terjadi karena pola hidup kita jarang memikirkan kepentingan generasi yang akan datang. Cobalah kita menginventaris pola hidup kita dalam sehari, Apakah sudah hijau atau belum?.</li>
<li>Bumi kita semakin jenuh dengan adanya benda/zat/keadaan yang masuk di dalamnya hingga melebihi kapasitas daya tampungnya, serta mengalahkan daya dukung lingkungan yang seharusnya bisa <em>diperbaikinya sendiri. </em></li>
</ol>
<p>Kalau saja kondisi ini berjalan terus tanpa adanya pengendalian lingkungan yang berarti, maka saya berandai-andai :</p>
<ol>
<li>Manusia paling tidak membutuhkan satu bumi lagi, agar segala kebutuhannya dapat tercapai, atau dengan kata lain tindakan merusaknya di bumi yang sekarang ini dapat terlampiaskan.</li>
<li>Manusia suatu saatnya nanti mirip dengan kenderaan bermotor. Kalau kendaraan bermotor menempuh jarak tertentu kemudian mengisi bahan bakar di pom bensin, maka manusia juga akan begitu. Setiap kali manusia akan berpergian ke suatu daerah hingga menempuh jarak tertentu, maka manusia tersebut akan mampir ke pom oksigen untuk beli oksigen di pom tersebut dengan membayar ribuan rupiah. Keadaan itu terjadi karena semakin kotornya udara kita sekarang ini.</li>
</ol>
<p align="center">Bagaimana menurut anda?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/24/mensikapi-hari-bumi-earth-day/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tercemarkah Sumur Anda ?</title>
		<link>http://bennysyah.edublogs.org/2007/03/26/tercemarkah-sumur-anda/</link>
		<comments>http://bennysyah.edublogs.org/2007/03/26/tercemarkah-sumur-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Mar 2007 08:47:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bennysyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennysyah.edublogs.org/2007/03/26/tercemarkah-sumur-anda/</guid>
		<description><![CDATA[The Environmentalist. Kadangkala kita merasa heran, mengapa dua daerah yang berdekatan dengan sampah, yang satu sumurnya  tercemar sedangkan yang lainnya tidak. Padahal kedua-duanya berpotensi tercemar lindi (air kotor yang berasal dari sampah). Pada pembahasan yang lalu telah penulis bahas tentang sumur yang berdekatan dengan sungai dengan judul Mitos Sumur Akan Tercemar Bila Dekat Dengan Sungai. Kali ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>The Environmentalist</strong>. Kadangkala kita merasa heran, mengapa dua daerah yang <a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/03/groundwater.jpg" title="Air Tanah"><img border="0" vspace="2" align="right" width="342" src="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/03/groundwater.jpg" hspace="2" alt="Air Tanah" height="180" /></a>berdekatan dengan sampah, yang satu sumurnya  tercemar sedangkan yang lainnya tidak. Padahal kedua-duanya berpotensi tercemar lindi (air kotor yang berasal dari sampah). Pada pembahasan yang lalu telah penulis bahas tentang sumur yang berdekatan dengan sungai dengan judul <a rel="bookmark" href="http://bennysyah.edublogs.org/2007/02/16/mitos-sumur-akan-tercemar-bila-dekat-dengan-sungai/"><font color="#006600">Mitos Sumur Akan Tercemar Bila Dekat Dengan Sungai</font></a>. Kali ini penulis membahas tentang faktor-faktor penyebab tercemar tidaknya sumur yang berdekatan dengan tumpukan sampah.</p>
<p>Berdasarkan gambar di atas, maka dapatlah kita simpulkan bahwa, tercemar atau tidaknya sumur anda dengan air lindi, sangat tergantung dari beberapa hal :</p>
<ul>
<li>Ketebalan atau kedalaman zona aerasi (zone of aeration) dari sumur kita. Semakin dalam atau tebal zona aerasinya, maka semakin kecil potensi terjadinya pencemaran terhadap sumur kita. Kalupun terjadi pencemaran yang diakibatkan oleh lindi tersebut, maka proses kontaminasinya memerlukan waktu yang relatif lama. Cara mengetahui ketebalan atau kedalaman zona aerasi dari sumur kita adalah dengan cara mengukur yang dimulai dari <em>water table </em>hingga permukaan tanah (tempat kita berpijak).</li>
<li>Permeabilitas tanah. Permeabilitas ini adalah  kemampuan batuan atau tanah untuk melewatkan cairan, terutama air,  minyak dan gas. Apabila nilai permeabilitasnya besar, maka potensi semakin tercemarnya dengan lindi akan semakin besar, begitu sebaliknya. Permeablitas ini sangat tergantung dari jenis tanah. Tanah yang mempunya <em>grain size </em>nya besar, akan mempunyai permeabilitas yang besar pula, sehingga jenis tanah ini akan sangat mudah meluluskan air ke bawah. Contohnya tanah-tanah yang banyak kandungan pasirnya mempunyai permabilitas yang besar.</li>
<li>Tekstur tanah. <span>Tekstur tanah adalah pembagian ukuran butir tanah. Butir-butir yang paling kecil adalah butir liat, diikuti oleh butir debu (silt), pasir, dan kerikil. Selain itu, ada juga tanah yang terdiri dari batu-batu. </span><span> </span>Tekstur tanah dikatakan baik apabila komposisi antara pasir, debu dan liatnya hampir seimbang. Tanah seperti ini disebut tanah lempung. Semakin halus butir-butir tanah (semakin banyak butir liatnya), maka semakin kuat tanah tersebut memegang air dan unsur hara. Tanah yang kandungan liatnya terlalu tinggi akan sulit diolah, apalagi bila tanah tersebut basah maka akan menjadi lengket. Tanah jenis ini akan sulit melewatkan air sehingga bila tanahnya datar akan cenderung tergenang dan pada tanah berlereng erosinya akan tinggi. Disamping itu  tanah ini mempunyai keuntungan berupa terhambatnya lindi untuk meresap ke dalam tanah, sehingga sumur-sumur akan aman dari kontaminasi lindi. Tanah dengan butir-butir yang terlalu kasar (pasir) tidak dapat menahan air dan unsur hara. Dengan demikian tanaman yang tumbuh pada tanah jenis ini mudah mengalami kekeringan dan kekurangan hara.</li>
</ul>
<p>Ketiga faktor di atas memberikan kontribusi terhadap tercemar atau tidaknya sumur kita. Berarti jelas sudah mengapa sumur yang berdekatan dengan tumpukan sampah ada yang tercemar dan ada yang belum tercemar tergantung dari ketiga faktor di atas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennysyah.edublogs.org/2007/03/26/tercemarkah-sumur-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menggugat Istilah Sumur Dalam &amp; Dangkal</title>
		<link>http://bennysyah.edublogs.org/2007/03/21/menggugat-istilah-sumur-dalam-dan-dangkal/</link>
		<comments>http://bennysyah.edublogs.org/2007/03/21/menggugat-istilah-sumur-dalam-dan-dangkal/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Mar 2007 07:28:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bennysyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennysyah.edublogs.org/2007/03/21/menggugat-istilah-sumur-dalam-dan-dangkal/</guid>
		<description><![CDATA[The Environmentalist. Pada tulisan saya sebelumnya banyak mengangkat istilah sumur dalam dan sumur dangkal. Dua istilah ini sengaja saya buat agar para pembaca tidak asing dengan istilah tersebut. Tetapi sebetulnya istilah ini kurang tepat apabila ditinjau dari kaca mata seorang hidrolog. Mengingat sangat relatifnya batasan untuk sumur dalam dan sumur dangkal ini, maka sebagian besar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img border="0" vspace="2" align="left" width="333" src="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/03/aquifer-1.jpg" hspace="2" height="177" /><strong>The Environmentalist</strong>. Pada tulisan saya sebelumnya banyak mengangkat istilah sumur dalam dan sumur dangkal. Dua istilah ini sengaja saya buat agar para pembaca tidak asing dengan istilah tersebut. Tetapi sebetulnya istilah ini kurang tepat apabila ditinjau dari kaca mata seorang hidrolog. Mengingat sangat relatifnya batasan untuk sumur dalam dan sumur dangkal ini, maka sebagian besar para hidrolog menganjurkan untuk tidak menggunakan istilah tersebut.</p>
<p>Hal yang paling tepat yang seharusnya digunakan adalah istilah <em><strong>Unconfined Aquifer</strong></em> dan <em><strong>Confined Aquifer</strong></em>.  Dua istilah inilah sebetulnya yang paling tepat untuk menggantikan istilah sumur dalam dan sumur dangkal. Pasalnya istilah  <em><strong>Unconfined Aquifer</strong></em> dan <em><strong>Confined Aquifer</strong></em>  ini tidak memberikan batasan kedalaman sumur, sehingga sangatlah tepat apabila kita menggunakan istilah ini. Kedalamam aquifer ini sangat tergantung dari kondisi geografis masing-masing daerah, mengingat adanya perbedaan tersebut, maka jelaslah tidak mungkin kita akan membatasi kedalaman tertentu termasuk sumur dangkal atau dalam, tetapi kondisi aquiferlah yang sangat menentukan semua itu. Bisa jadi kita akan menemukan suatu daerah mempunyai sumur dengan kedalaman 30 meter misalnya, maka tidak bisa kita lantas mengatakan bahwa sumur tersebut termasuk sumur dalam, mungkin saja sumur tersebut berada dalam <em>unconfined aquifer.</em> Perhatikanlah gambar di atas water table berada pada <em>unconfined aquifer</em>, tetapi bisa juga berada pada <em>confined aquifer</em></p>
<h3>Mengenal <em>Unconfined</em>  dan <em>Confined Aquifer</em> </h3>
<p>Bila kita perhatikan gambar di atas, maka sebetulnya dapat kita simpulkan bahwa <em>Unconfined aquifer</em> adalah air tanah bebas / tidak tertekan. yang dibatasi oleh <em>water table </em>(<em>phreatic level</em>) sedangkan bagian bawahnya dibatasi oleh <em>aquitard</em> atau <em>aquiclude</em>. Istilah ini sangat tepat untuk menggantikan istilah<strong> sumur dangkal</strong>.</p>
<p>Sedangkan <em>Confined Aquifer</em> adalah air tanah tertekan. Aquifer ini pada bagian atas di batasi oleh aquitard dan bagian bawah dibatasi oleh <em>aquitard</em> atau <em>aquiclude</em>. Istilah ini sangat tepat untuk menggantikan istilah<strong> sumur dalam.</strong></p>
<p align="center"><em>Bagaimana komentar anda ?</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennysyah.edublogs.org/2007/03/21/menggugat-istilah-sumur-dalam-dan-dangkal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Deteksi Sumber Air Dangkal Dengan Pohon Bambu Petung</title>
		<link>http://bennysyah.edublogs.org/2007/03/20/deteksi-sumber-air-dangkal-dengan-pohon-bambu-petung/</link>
		<comments>http://bennysyah.edublogs.org/2007/03/20/deteksi-sumber-air-dangkal-dengan-pohon-bambu-petung/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Mar 2007 07:19:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bennysyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennysyah.edublogs.org/2007/03/20/deteksi-sumber-air-dangkal-dengan-pohon-bambu-petung/</guid>
		<description><![CDATA[
The Environmentalist. Di Indonesia, terutama masyarakat pedesaan, bambu memegang peranan sangat penting. Bahan bambu dikenal oleh masyarakat memiliki sifat-sifat yang baik untuk dimanfaatkan, antara lain batangnya kuat, ulet, lurus, rata, keras, mudah dibelah, mudah dibentuk dan mudah dikerjakan serta ringan sehingga mudah diangkut. Selain itu bambu juga relatif murah dibandingkan dengan bahan bangunan lain karena banyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/03/bambu.jpg" title="Bambu Petung"><img border="0" vspace="2" align="left" src="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/03/bambu.jpg" hspace="2" alt="Bambu Petung" /></a></p>
<p><span><strong>The Environmentalist.</strong> Di Indonesia, terutama masyarakat pedesaan, bambu memegang peranan sangat penting. Bahan bambu dikenal oleh masyarakat memiliki sifat-sifat yang baik untuk dimanfaatkan, antara lain batangnya kuat, ulet, lurus, rata, keras, mudah dibelah, mudah dibentuk dan mudah dikerjakan serta ringan sehingga mudah diangkut. Selain itu bambu juga relatif murah dibandingkan dengan bahan bangunan lain karena banyak ditemukan di sekitar pemukiman pedesaan. bambu menjadi tanaman serbaguna bagi masyarakat pedesaan.</span></p>
<p><span></span><span>Tanaman bambu hidup merumpun, kadang-kadang ditemui berbaris membentuk suatu garis pembatas dari suatu wilayah desa yang identik dengan batas desa di Jawa. Penduduk desa sering menanam bambu disekitar rumahnya untuk berbagai keperluan. Bermacam-macam jenis bambu bercampur ditanam di pekarangan rumah. Pada umumnya yang sering digunakan oleh masyarakat di </span><span>Indonesia</span><span> adalah bambu tali, bambu andong, bambu hitam, dan bambu petung</span></p>
<h3 align="left"><span><strong>Bambu Petung dan Air Dangkal</strong></span></h3>
<p><span>Apabila kita melewati suatu tempat menemukan adanya bamboo petung yang tumbuh secara alami, maka kemungkinan besar didaerah tersebut terdapat air permukaan yang relatif </span><span> </span>dangkal. Fenomena alam ini sangat membantu kita dalam mengidentifikasi sumber air <span>baku</span><span>. Masihkah kita ingin merusak alam ? padahal alam itu sebetulnya membantu kehidupan kita.</span></p>
<p align="center"><span><em>Selamat mencoba</em></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennysyah.edublogs.org/2007/03/20/deteksi-sumber-air-dangkal-dengan-pohon-bambu-petung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Stasiun ISPU&#8230; Riwayatmu Kini</title>
		<link>http://bennysyah.edublogs.org/2007/03/07/stasiun-ispu-riwayatmu-kini/</link>
		<comments>http://bennysyah.edublogs.org/2007/03/07/stasiun-ispu-riwayatmu-kini/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Mar 2007 08:02:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bennysyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennysyah.edublogs.org/2007/03/07/stasiun-ispu-riwayatmu-kini/</guid>
		<description><![CDATA[ISPU bukanlah singkatan dari Ikatan Suami  Perlu Uang, tetapi singkatan Indeks Standar Pencemar Udara. Menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-45/MENLH/10/1997 tentang Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), didefinisikan sebagai  angka yang tidak mempunyai satuan yang menggambarkan kondisi kualitas udara ambien di lokasi dan waktu tertentu yang didasarkan kepada dampak terhadap kesehatan manusia, nilai estetika dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/03/ispu.jpg" title="Stasiun ISPU"><strong><img border="0" vspace="2" align="right" src="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/03/ispu.jpg" hspace="2" alt="Stasiun ISPU" /></strong></a><strong>ISPU</strong> bukanlah singkatan dari <strong>I</strong>katan <strong>S</strong>uami  <strong>P</strong>erlu <strong>U</strong>ang, tetapi singkatan Indeks Standar Pencemar Udara. Menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-45/MENLH/10/1997 tentang Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), didefinisikan sebagai  angka yang tidak mempunyai satuan yang menggambarkan kondisi kualitas udara ambien di lokasi dan waktu tertentu yang didasarkan kepada dampak terhadap kesehatan manusia, nilai estetika dan makhluk hidup lainnya.</p>
<p>Stasiun ISPU seperti pada gambar di atas banyak kita jumpai pada hampir setiap propinsi. Keberadaannya sangat membantu, karena dapat digunakan sebagai :</p>
<ol>
<li>bahan informasi kepada masyarakat tentang kualitas udara ambien di lokasi dan waktu tertentu;</li>
<li>
<p align="left">bahan pertimbangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam melaksanakan pengelolaan dan pengendalian pencemaran udara</p>
</li>
</ol>
<p>Bagi sebagian orang keberadaan stasiun ISPU sangatlah diperlukan keberadaannya, walaupun kebanyakan dari kita sebenarnya tidak begitu memperdulikan alat ini.  Masyarakat tidak mengerti alat tersebut gunanya untuk apa, bahkan stasiun ISPU di beberapa kota di Indonesia ada yang rusak akibat lemparan batu. Padahal informasi yang disampaikan oleh stasiun ISPU sangatlah berharga.</p>
<p>Belakangan ini juga banyak kita jumpai stasiun ISPU yang tidak pernah aktif atau dengan kata lain tidak berfungsi sama sekali, sebut saja di Semarang misalnya, beberapa tempat seperti di Jalan Teuku Umur, serta di depan kantor Balai Kota tidak pernah berfungsi sama sekali, padahal keberadaan stasiun ISPU tersebut haruslah beroperasi secara terus menerus dan datanya dapat dipantau secara langsung oleh siapa saja, sehingga  seharusnya masyarakat mengetahui seberapa besar  parameter seperti : Partikulat (PM10), Karbon monoksida (CO), Sulfur dioksida (SO2), Nitrogen dioksida (NO2), dan Ozon (O3).</p>
<h3>Mengapa Demikian ?</h3>
<p>Banyak sebagian masyarakat berspekulasi dan menebak-nebak tentang kondisi stasiun ISPU saat ini, diantaranya adalah :</p>
<ul>
<li>Stasiun ISPU memerlukan perawatan secara periodik. Kondisi inilah yang tidak bisa dijalankan, mengingat mental kebanyakan kita adalah pemalas.</li>
<li>Tidak adanya tenaga ahli (SDM) yang <em>qualified</em> . Kondisi ini sangat riskan apabila satasiun ISPU tersebut rusak.</li>
<li>Letak stasiun ISPU yang tidak representatif. Kondisi inilah yang paling banyak menjadi sorotan. Padahal seharusnya  Indeks Standar Pencemar Udara yang dilaporkan ke media massa (koran harian setempat /televisi stasiun setempat) adalah Indeks Standar Pencemar Udara yang paling tinggi, tetapi sementara ini kita melihat letak stasiun ISPU tidak pada tempat-tempat yang berpotensi terjadinya pencemaran udara.</li>
</ul>
<p>Bagaimana tanggapan anda dengan stasiun ISPU yang tidak aktif tersebut ?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennysyah.edublogs.org/2007/03/07/stasiun-ispu-riwayatmu-kini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Deteksi Sumber Air Dangkal Dengan Pohon Kelapa</title>
		<link>http://bennysyah.edublogs.org/2007/02/27/deteksi-sumber-air-dangkal-dengan-pohon-kelapa/</link>
		<comments>http://bennysyah.edublogs.org/2007/02/27/deteksi-sumber-air-dangkal-dengan-pohon-kelapa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Feb 2007 08:54:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bennysyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennysyah.edublogs.org/2007/02/27/deteksi-sumber-air-dangkal-dengan-pohon-kelapa/</guid>
		<description><![CDATA[Bagi kebanyakan orang mendapatkan sumber air yang dangkal adalah sebuah harapan yang ditunggu-tunggu. Pasalnya banyak kita jumpai rumah-rumah yang mempunyai sumur yang sangat dalam, sehingga bisa dipastikan biaya dan tenaga yang dikeluarkan si pemilik sumur relatif besar.
Sebenarnya fenomena alam disekitar kita dapat membantu untuk menunjukkan lokasi yang mempunyai sumber air dangkal, sehingga sangat bermanfaat bagi seseorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/02/kelapa.jpg" title="Kelapa"><img border="0" vspace="2" align="left" src="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/02/kelapa.jpg" hspace="2" alt="Pohon Kelapa" /></a>Bagi kebanyakan orang mendapatkan sumber air yang dangkal adalah sebuah harapan yang ditunggu-tunggu. Pasalnya banyak kita jumpai rumah-rumah yang mempunyai sumur yang sangat dalam, sehingga bisa dipastikan biaya dan tenaga yang dikeluarkan si pemilik sumur relatif besar.</p>
<p>Sebenarnya fenomena alam disekitar kita dapat membantu untuk menunjukkan lokasi yang mempunyai sumber air dangkal, sehingga sangat bermanfaat bagi seseorang yang akan mendirikan rumah dalam mengetahui apakah rumah yang akan dia bangun mempunyai sumur yang relatif dangkal atau tidak. Pada daerah-daerah tertentu, kondisi lahan yang mempunyai kedalaman yang relatif dangkal sangat digemari untuk dibangun sebuah rumah. Sebut saja Prop. Jambi misalnya, di daerah ini kebanyakan orang yang akan membuat rumah selalu yang diperhatikan adalah sumur tetangga terlebih dahulu, pasalnya apabila sumur tetangga relatif dalam hingga puluhan meter kedalamannya, maka kemungkinan untuk mengurungkan niatnya membangun rumah di daerah tersebut sangat besar.</p>
<p>Di samping sangat berguna bagi seseorang yang ingin membangun rumah, fenomena alam juga dapat membantu kebanyakan orang untuk mengidentifikasi sumber air baku guna penyedian air bersih di suatu daerah, sehingga akan sangat menghemat biaya dan waktu.</p>
<h3>Bagaimana Caranya ?</h3>
<p>Apabila kita melewati suatu lokasi yang terdapat pohon kelapa, dimana daunnya turun tidak seperti kebanyakan pohon kelapa lainnya, atau dalam bahasa jawa disebut <em>sengkleh,</em> maka kemungkinan besar di daerah tersebut mempunyai sumber air yang relatif dangkal, yaitu kurang dari 7 meter. Fenomena alam ini sangat membantu bukan?, sehingga sudah sewajarnya alam ini kita jaga, jangan sampai rusak. Dengan demikian kita akan dapat mempelajari alam dengan alam itu sendiri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennysyah.edublogs.org/2007/02/27/deteksi-sumber-air-dangkal-dengan-pohon-kelapa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mitos Sumur Akan Tercemar Bila Dekat Dengan Sungai</title>
		<link>http://bennysyah.edublogs.org/2007/02/16/mitos-sumur-akan-tercemar-bila-dekat-dengan-sungai/</link>
		<comments>http://bennysyah.edublogs.org/2007/02/16/mitos-sumur-akan-tercemar-bila-dekat-dengan-sungai/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Feb 2007 09:06:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bennysyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennysyah.edublogs.org/2007/02/16/mitos-sumur-akan-tercemar-bila-dekat-dengan-sungai/</guid>
		<description><![CDATA[The Environmentalist. Umumnya kita akan beranggapan seperti judul di atas, kita akan merasa sangat kawatir, takut, atau semacamnya apabila rumah kita berdekatan dengan sungai yang notobene sudah tercemar. Perlu kita sadari bahwa hampir semua sungai yang ada di Indonesia seluruhnya tercemar, dan tidak pernah kita jumpai sungai-sungai yang terbebas dari buangan industri maupun domestik. Sebenarnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/02/effluent-vs-influent-stream.gif" title="effluent-vs-influent-stream.gif"><img border="0" vspace="2" align="left" width="329" src="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/02/effluent-vs-influent-stream.gif" hspace="2" alt="effluent-vs-influent-stream.gif" height="240" /></a><strong>The Environmentalist.</strong> Umumnya kita akan beranggapan seperti judul di atas, kita akan merasa sangat kawatir, takut, atau semacamnya apabila rumah kita berdekatan dengan sungai yang notobene sudah tercemar. Perlu kita sadari bahwa hampir semua sungai yang ada di Indonesia seluruhnya tercemar, dan tidak pernah kita jumpai sungai-sungai yang terbebas dari buangan industri maupun domestik. Sebenarnya sungai yang tercemar oleh limbah industri maupun domestik belum tentu akan mencemari sumur-sumur penduduk yang berada disekitarnya, pasalnya jenis sungai berpengaruh terhadap tercemar atau tidaknya sumur-sumur penduduk.</p>
<h3>Jenis Sungai Berdasarkan Kontribusinya Terhadap Air Tanah</h3>
<p>Berdasarkan kontribusinya terhadap air tanah, maka sungai dapat dibedakan menjadi 2 macam:</p>
<ul>
<li><strong>Sungai effluent (<em>Effluent Str</em>eam)</strong>.  Jenis sungai ini adalah jenis sungai yang tidak mencemari sumur-sumur penduduk, pasalnya sungai ini mendapat imbuhan dari air tanah disekitarnya. Atau dengan kata lain, sumur-sumur penduduk yang berada di sekitar sungai malah justru memberikan airnya ke sungai tersebut (lihat gambar di atas). Jenis sungai ini adalah permukan air sungai lebih rendah daripada permukaan air tanah (<em>water table</em>)</li>
<li><strong>Sungai Inffluent (<em>Influent Stream</em>). </strong>Sedangkan sungai influent adalah sungai mencemari sumur-sumur penduduk, karena sungai ini memberikan kontribusi/imbuhan kepada sumur-sumur disekitarnya. Atau dengan kata lain permukaan air sungai lebih tinggi daripada permukaan air tanah (<em>water table</em>).</li>
</ul>
<h3>Bagaimana Cara Mengetahui Sumur Kita Tercemar Atau Tidak ?</h3>
<p>Cara yang paling gampang adalah dengan melihat kedalaman sumur kita (diukur dari permukaan air sungai hingga permukaan tanah), kemudian dibandingkan dengan kedalaman sungai yang berada didekatnya. Untuk mengukur kedalaman sungai caranya sama dengan mengukur kedalaman sumur yaitu diukur mulai dari permukaan air sungai hingga permukaan tanah. Apabila diketahui kedalaman sumur lebih dalam daripada sungai, maka sumur-sumur penduduk berpotensi akan terkontaminasi oleh sungai. tetapi sebaliknya apabila kedalaman sumur penduduk lebih rendah dari kedalaman sungai, maka sumur-sumur tersebut aman dari kontaminasi sungai-sungai tersebut.</p>
<p align="center"><em>Selamat Mencoba, Perhatikan Sumur-sumur Anda!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennysyah.edublogs.org/2007/02/16/mitos-sumur-akan-tercemar-bila-dekat-dengan-sungai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Deteksi Fe Dengan Buah Gori</title>
		<link>http://bennysyah.edublogs.org/2007/02/16/deteksi-fe-dengan-buah-gori/</link>
		<comments>http://bennysyah.edublogs.org/2007/02/16/deteksi-fe-dengan-buah-gori/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Feb 2007 06:39:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bennysyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennysyah.edublogs.org/2007/02/16/deteksi-fe-dengan-buah-gori/</guid>
		<description><![CDATA[The Environmentalist. Siapa yang tidak ingin mengkonsumsi air yang sehat?, pastilah kita semua menginginkannya. Masalahnya apakah selama ini kita tahu bahwa air yang kita konsumsi sehat atau tidak ?, jawabannya serentak kita akan mengatakan &#8221;tidak tahu&#8221;. Air yang secara kasat mata jernih belum tentu menghasilkan air yang sehat, kadangkala di dalam kandungan air tersebut terdapat kandungan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/02/nangka.gif" title="nangka.gif"><img border="0" vspace="2" align="right" width="114" src="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/02/nangka.thumbnail.gif" hspace="2" alt="nangka.gif" height="135" /></a><strong>The Environmentalist</strong>. Siapa yang tidak ingin mengkonsumsi air yang sehat?, pastilah kita semua menginginkannya. Masalahnya apakah selama ini kita tahu bahwa air yang kita konsumsi sehat atau tidak ?, jawabannya serentak kita akan mengatakan &#8221;tidak tahu&#8221;. Air yang secara kasat mata jernih belum tentu menghasilkan air yang sehat, kadangkala di dalam kandungan air tersebut terdapat kandungan zat yang berbahaya bagi kesehatan, apalagi zat tersebut melebihi ambang batas yang telah ditetapkan.</p>
<p>Air yang sehat dapat dideteksi secara lengkap melalui laboratorium. Tetapi bagi kebanyakan kita menginginkan hal-hal  yang sifatnya praktis, ekonomis dan tidak bertele-tele alias gampang dan mudah. Umumnya kandungan yang sering terdapat dalam air adalah besi (Fe) dan mangan (Mn), kita akan kebingungan bagaimana caranya mendeteksi air yang kita konsumsi mengandung besi atau tidak ?.</p>
<h3>Pengaruh Besi (Fe) bagi Kesehatan</h3>
<p><span>Berdasarkan Permenkes No: 416/MENKES/PER/IX/1990 yakni kandungan maksimum besi yang diperbolehkan hanya 1,0 mg/liter. Sementara sebagian daerah di </span><span>Indonesia</span><span> ada yang melebihi 1,0 mg/liter, ini artinya air tersebut dapat membahayakan bagi kesehatan. Dampak yang ditimbulkan dari konsumsi besi yang berlebihan tidaklah seketika, tetapi dapat dirasakan sekian tahun ke depan. Beberapa penelitian membuktikan bahwa, kadar besi di dalam air yang melebihi ambang batas disinyalir dapat menyebabkan terjadinya penyakit ginjal, serta dapat mengendap di dalam hati, sehingga hati menjadi keras.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span></span></p>
<p><span>Demikian pula perasaan tidak nyaman akan kita rasakan bila mengkonsumsi air yang kadar besinya di atas ambang batas. Bagi pecandu minuman kopi atau teh, maka anda akan kecewa, karena air tersebut akan merubah rasa kopi atau teh tidak senikmat rasa aslinya,</span><span>  </span><span> </span></p>
<h3 class="MsoNormal"><span>Bagaimana Mendeteksinya ?</span></h3>
<p><span></span><span>Sebenarnya tanpa kita sadari nenek moyang telah memperatekkannya, hanya saja mereka tidak mengerti, mengapa gori yang mereka belah setelah dicelupkan ke dalam air tiba-tiba menjadi hitam. Inilah jawabannya. Kita dapat mendeteksi kadar besi di dalam air dengan cara membelah gori menjadi beberapa bagian, kemudian salah satu bagiannya dicelupkan ke dalam air, apabila gori yang dicelupkan tersebut berubah warna menjadi hitam, maka air yang kita konsumsi nyata-nyata mengandung kadar besi. Hanya saja kita tidak dapat mengetahui secara detail nilai dari kadar besi tersebut, apakah air yang kita konsumsi di atas atau di bawah ambang batas.</span><span> </span><span></span><span></span><span></p>
<p align="center"><em><span>Selamat Mencoba</span></em></p>
<p></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennysyah.edublogs.org/2007/02/16/deteksi-fe-dengan-buah-gori/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mitos Seputar Jarak Sumur dengan  Septik Tank</title>
		<link>http://bennysyah.edublogs.org/2007/02/14/mitos-seputar-jarak-sumur-dengan-septik-tank/</link>
		<comments>http://bennysyah.edublogs.org/2007/02/14/mitos-seputar-jarak-sumur-dengan-septik-tank/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Feb 2007 07:42:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bennysyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennysyah.edublogs.org/2007/02/14/mitos-seputar-jarak-sumur-dengan-septik-tank/</guid>
		<description><![CDATA[The Environmentalist. Banyak orang yang beranggapan bahwa untuk membuat septik tank haruslah berjarak minimal 10 meter dengan sumur, mengapa demikian ?, umumnya jawaban yang terlontar adalah agar sumur tidak terkontaminasi dengan septik tank, atau tidak mencemari sumur akibat adanya bakteri pathogen yang dapat mengganggu kesehatan. Jawaban tersebut sangat betul. Tapi apakah jaraknya harus 10 meter [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/02/septik-tank.jpg" title="septik-tank.jpg"><img border="2" align="left" width="350" src="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/02/septik-tank.jpg" alt="Jarak Rumah dengan Septik Tank" height="240" /></a><strong>The Environmentalist.</strong> Banyak orang yang beranggapan bahwa untuk membuat septik tank haruslah berjarak minimal 10 meter dengan sumur, mengapa demikian ?, umumnya jawaban yang terlontar adalah agar sumur tidak terkontaminasi dengan septik tank, atau tidak mencemari sumur akibat adanya bakteri pathogen yang dapat mengganggu kesehatan. Jawaban tersebut sangat betul. Tapi apakah jaraknya harus 10 meter ? Lantas bagaimana dengan rumah tipe RSS ? Apakah harus kita paksakan membuat septik tank di lokasi tetangga, karena jarak antara rumah dengan septik tank tidak sampai 10 meter?.</p>
<h3>Mengapa 10 Meter ?</h3>
<p>Sebagian besar dari kita tidak mengatahui darimana munculnya angka 10 meter tersebut?. Perlu diketahui bahwa angka 10 meter tersebut berasal dari : Bakteri Coli yang berasal dari tinja manusia mempunyai usia harapan hidup selama 3 hari, sedangkan kecepatan aliran air dalam tanah berkisar 3 meter/hari (rata-rata kecepatan aliran air dalam tanah di pulau jawa 3 meter/hari), sehingga jarak ideal antara septik tank dengan sumur adalah : 3 meter/hari x 3 hari = 9 meter.Tetapi mengapa harus dibuat 10 meter?. Dari hasil perhitungan diketahui jaraknya 9 meter, sebagai angka pengaman maka ditambahkan 1 meter lagi, sehingga jaraknya menjadi 10 meter. Demikian asal muasal jarak 10 meter tersebut.</p>
<h3>Bagaimana Kalau Kurang Dari 10 Meter?</h3>
<p>Apabila anda ingin membuat septik tank, sementara jarak antara sumur dengan septik tank yang ingin anda buat kurang dari 10 meter, maka  tidak usah risau, yang perlu anda lakukan adalah mengetahui arah aliran air tanah, yaitu dengan cara melihat sumur tetangga. Cara ini berguna untuk mengetahui arah aliran air tanah, caranya adalah :</p>
<ul>
<li>Ukurlah kedalaman sumur-sumur tetangga anda, cukup 3 rumah saja</li>
<li>Buatlah gambar garis segitiga yang menghubungkan ketiga titik sumur tetangga tersebut di atas kertas</li>
<li>Masing-masing titik sumur diberi notasi kedalamannya (perhitungan kedalaman diukur dari muka air hingga ke permukaan tanah)</li>
<li>Dari gambar dapat diketahui, sumur yang paling dangkal menunjukkan arah aliran menuju ke sumur tersebut.</li>
</ul>
<p>Dari cara tersebut dapat diketahui bahwa jarak sumur yang kurang dari 10 meter tidaklah masalah, asalkan kita mengetahui arah aliran air tanah dengan cara seperti di atas, dengan demikian yang harus kita lakukan adalah meletakkan septik tank dimana arah alirannya tidak mengarah ke sumur, berarti harus sebaliknya. Lebih baik lagi apabila arah aliran air tanah tersebut  berasal dari sumur menuju ke septik tank, tetapi jangan sebaliknya.</p>
<p>Di samping arah aliran air tanah yang perlu kita ketahui, kecepatan aliran air tanah tidak kalah pentingnya. Walaupun berdasarkan pengalaman kecepatan aliran air tanah di pulau Jawa rata-rata 3 meter/hari, tidak menutup kemungkinan masing-masing daerah di pulau Jawa mempunyai kecepatan aliran air tanah yang berbeda, hal ini tergantung dari formasi batuan pada daerah tersebut. Sehingga walaupun arah aliran dari septik tank menuju ke sumur, tetapi kecepatan aliran air tanah hanya 1 meter/hari, maka jarak ideal antara sumur dan septik tank cuma 4 meter (lihat contoh perhitungan di atas).</p>
<h3>Kesimpulan</h3>
<p>Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa :</p>
<ul>
<li>Tidak semua daerah harus membuat septik tank  berjarak 10 meter dari sumur</li>
<li>Perlu diperhatikan arah aliran air tanah pada saat membuat septik tank</li>
<li>Kecepatan aliran air tanah pada masing-masing daerah sangat berlainan, sehingga memunculkan jarak ideal yang berbeda-beda antara sumur dengan septik tank, hal itu sangat tergantung dari formasi batuan dan kondisi geografis pada masing-masing daerah tersebut.</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennysyah.edublogs.org/2007/02/14/mitos-seputar-jarak-sumur-dengan-septik-tank/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenali Sampah Yang Kita Buang</title>
		<link>http://bennysyah.edublogs.org/2007/01/25/mengenali-sampah-yang-kita-buang/</link>
		<comments>http://bennysyah.edublogs.org/2007/01/25/mengenali-sampah-yang-kita-buang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Jan 2007 05:55:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bennysyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennysyah.edublogs.org/2007/01/25/mengenali-sampah-yang-kita-buang/</guid>
		<description><![CDATA[Di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, masalah sampah sudah diperkenalkan kepada anak-­anak sekolah sejak dini. Sebuah buku terbitan Children Press Chicago, Recycling (1991), memperkenalkan dasar-dasar penanganan sampah yang diharapkan dapat mengubah pola hidup manusia modern untuk lebih peduli terhadap lingkungannya. Pola itu meliputi Reduce, Reuse, dan Recycle, dan Composting (3RC) yang merupakan dasar dari penanganan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/01/sampah.jpg" title="sampah.jpg"><img align="left" width="169" src="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/01/sampah.jpg" alt="sampah.jpg" height="214" /></a>Di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, masalah sampah sudah diperkenalkan kepada anak-­anak sekolah sejak dini. Sebuah buku terbitan <em>Children Press Chicago, </em></span><span><em>Recycling</em> (1991), </span><span>memperkenalkan dasar-dasar penanganan sampah yang diharapkan dapat mengubah pola hidup manusia modern untuk lebih peduli terhadap lingkungannya. Pola itu meliputi </span><span><em>Reduce, Reuse</em>, </span><span>dan </span><span><em>Recycle</em>, </span><span>dan </span><span><em>Composting</em> </span><span>(3RC) yang merupakan dasar dari penanganan sampah secara terpadu.</span></p>
<p><span></span><span><em>Reduce</em> </span><span>(mengurangi sampah) atau disebut juga </span><span><em>precycling </em></span><span>merupakan langkah pertama untuk mencegah penimbunan sampah.</span></p>
<p><span></span><span><em>Reuse </em></span><span>(menggunakan kembali) berarti menghemat dan mengurangi sampah dengan cara menggunakan kembali barang-barang yang telah dipakai. Apa saja barang yang masih bisa digunakan, seperti kertas-kertas berwarna-warni dari majalah bekas dapat dimanfaatkan untuk bungkus kado yang menarik. Menggunakan kembali barang bekas adalah wujud cinta lingkungan, bukan berarti menghina.</span></p>
<p><span></span><span><em>Recycle</em> </span><span>(mendaur ulang) juga sering disebut mendapatkan kembali sumberdaya </span><span>(<em>resource recovery</em>), </span><span>khususnya untuk sumberdaya alami. Mendaur ulang diartikan mengubah sampah menjadi produk baru, khususnya untuk barang-barang yang tidak dapat digunakan dalam waktu yang cukup lama, misalnya kertas, alumunium, gelas dan plastik. Langkah utama dari mendaur ulang ialah memisahkar sampah yang sejenis dalam satu kelompok.</span></p>
<p><span></span><span>Pada dasarnya </span><span>composting </span><span>merupakan proses pembusukan secara alami dari materi organik, misalnya daun, limbah pertanian (sisa panen), sisa makanan dan lain-lain. Pembusukan itu menghasilkan materi yang kaya unsur hara, antara lain nitrogen, fosfor dan kalium yang disebut kompos atau humus yang baik untuk pupuk tanaman. Di Jakarta, pembuatan kompos dilakukan dengan menggunakan sampah organik </span><br />
<span>kota</span><span> dengan sistem UDPK (Unit Daur Ulang dan Produksi Kompos).</span><span>Sistem itu cukup berhasil karena dapat mengurangi sampah organik dalam waktu relatif singkat (2 bulan), menghasilkan kompos bermutu, dan dapat meningkatkan pendapatan penduduk.</span></p>
<h3><span></span><span><font color="#003300">Mengelola Sampah Rumah Tangga Dan Prinsip 3M</font></span></h3>
<ul>
<li><span>Sediakan beberapa tempat dan kantong sampah yang berbeda setidaknya untuk menampung sampah organik dan non-organik.</span></li>
<li><span>Cucilah tempat sampah setiap kali isinya dibuang.</span></li>
<li><span>Bawalah tas atau kantong belanja tetap jika hendak berbelanja, agar tidak menumpuk di rumah. </span></li>
<li><span>Jangan memusnahkan sampah dengan membakar karena selain sangat membahayakan saluran pernafasan, merusak pula struktur tanah dan air sumur.</span><span> </span><span><br />
<h3><span><font color="#003300">Terapkan Prinsip 3M :</font></span></h3>
<p></span></li>
</ul>
<ul>
<li><span></span><span>Mengurangi (<em>Reduce</em>). </span><span>Rencanakan dengan matang barang yang hendak dibeli, sehingga tidak berbelanja melebihi kebutuhan dan mengurangi tumpukan bekas kemasan. Bila mungkin pilihlah barang dengan kemasan sekecil mungkin. </span></li>
<li><span></span><span></span><span>Memakai kembali (<em>Reuse</em>). </span><span>Gunakan kembali bekas kemasan yang ada, dengan membeli barang kebutuhan sehari-hari berupa isinya saja, seperti kecap, minyak goreng, sirop, kosmetik, sabun dan sebagainya. Kantong plastik bekas bisa digunakan lagi untuk belanja atau membuang sampah. Kertas yang masih polos bagian belakangnya bisa dimanfaatkan lagi.</span><span> 
<li><span>Mendaur ulang (<em>Recycle</em>). </span><span>Barang bekas yang tidak bisa dipakai lagi di rumah, akan berguna sebagai bahan </span><span>baku</span><span> produksi daur ulang. Kini banyak beredar kertas, tas kain dan plastik hasil daur ulang dari barang bekas. Bantulah proses daur ulang ini dengan menempatkan barang-barang bekas itu pada tempat khusus sebelum dibuang agar mudah dipulung.</span></li>
<p></span></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennysyah.edublogs.org/2007/01/25/mengenali-sampah-yang-kita-buang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>