<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>THE ENVIRONMENTALIST</title>
	<atom:link href="http://bennysyah.edublogs.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bennysyah.edublogs.org</link>
	<description>Awali Hidup dengan Berperilaku Hijau</description>
	<pubDate>Fri, 14 Mar 2008 09:42:03 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Teknologi Pengolahan Limbah Minyak</title>
		<link>http://bennysyah.edublogs.org/2008/03/14/teknologi-pengolahan-limbah-minyak/</link>
		<comments>http://bennysyah.edublogs.org/2008/03/14/teknologi-pengolahan-limbah-minyak/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Mar 2008 09:20:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bennysyah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Teknologi Terapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennysyah.edublogs.org/2008/03/14/teknologi-pengolahan-limbah-minyak/</guid>
		<description><![CDATA[
 Pada dasarnya pengolahan air limbah mempunyai tujuan yang sama, yaitu mereduksi  polutan atau parameter tertentu sampai ketingkat level aman yang telah ditetapkan oleh pemerintah ketika dibuang ke badan air. Ada 2 hal yang harus dipertimbangkan ketika merancang pengolahan air limbah, yaitu : 

kuantitas air limbah (debit air limbah), kuantitas air limbah (debit) sangat penting untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><code></code><code></code></p>
<p><font color="#000000"> </font><font color="#000000">Pada dasarnya pengolahan air limbah mempunyai tujuan yang sama, yaitu mereduksi  polutan atau parameter tertentu sampai ketingkat level aman yang telah ditetapkan oleh pemerintah ketika dibuang ke badan air. Ada 2 hal yang harus dipertimbangkan ketika merancang pengolahan air limbah, yaitu : </font></p>
<ol>
<li><font color="#000000">kuantitas air limbah (debit air limbah), kuantitas air limbah (debit) sangat penting untuk kita ketahui sebelum merancang pengolahan air limbah, karena berkaitan dengan dimensi (ukuran) dari bak pengolahan tersebut, sehingga hasil yang didapatkan nantinya ukuran bak pengolahan tidak terlalu besar dan juga tidak terlalau kecil, serta </font></li>
<li><font color="#000000">tidak kalah pentingnya juga kualitas air limbah atau dalam hal ini adalah nilai parameter pencemar di dalam air limbah. Data tentang kualitas air limbah sangat penting karena akan sangat menentukan jenis pengolahan yang akan kita rancang serta jumlah unit pengolahannya. Salah dalam menentukan jenis dan jumlah unit pengolahan yang kita rancang berarti  akan menimbulkan biaya ekonomi yang sangat tinggi, pengolahan menjadi tidak efisien dan tidak efektif, biaya operasional tinggi, dll. </font></li>
</ol>
<p><font color="#000000">Begitu juga ketika kita merencanakan pengolahan air limbah industri perminyakan, juga tidak ada bedanya, ada beberapa tahapan dalam pengilaha limbah minyak, yaitu : </font></p>
<ol>
<li><font color="#000000">Pengolahan awal pemisahan minyak (preliminary oil removal). Tahapan ini berfungsi untuk mereduksi HC, dan SS</font></li>
<li><font color="#000000">Pemisahan minyak secara fisika-kimia (physicochemical oil removal). Tahapan ini berfungsi untuk mereduksi koloid emulsi HC </font></li>
<li><font color="#000000">Pengolahan sekunder dengan proses biologis (biological proses). Tahapan ini berfungsi untuk mereduksi BOD, Phenol, Ammonia</font></li>
</ol>
<p> <font face="Times New Roman"><code><span id="more-238"></span></code></font></p>
<p> <code></code></p>
<p>Tahapan Pengolahan di atas  dapat kita lanjutkan menjadi tertiaty  treatment apabila tahapan tersebut belum mampu mereduksi polutan sampai di bawah ambang batas. Ada beberapa jenis pengolahan limbah minyak, yaitu :</p>
<ol>
<li>Pemisahan minyak secara gravitasi</li>
<li>Pemisahan minyak secara fisika-kimia</li>
<li>Pemisahan minyak dengan proses filtrasi dan coalenscence</li>
<li>Pemisahan minyak dengan hydrocyclone</li>
<li>Pemisahan minyak dengan filtrasi membrane</li>
</ol>
<p> Perinsip Pemisahan Minyak Secara gravitasi Kecepatan Pengapungan Butiran Minyak ( rising velocity of oil droplets) :</p>
<p>v =</p>
<p>dimana :</p>
<p>r    = berat jenis air</p>
<p>r’   = berat jenis minyak</p>
<p>g   = percepatan gravitasi</p>
<p>h   = viskositas dinamik minyak ( 10-1Pa.s dalam poise)</p>
<p>d   = diameter butiran minyak</p>
<p> Dari Rumus di atas dapat dilihat bahwa  kecepatan pengapungan, v adalah fungsi darl kuadrat dari diameter butiran, d dan perbedaan berat jenis air dan minyak ( r - r’ ).Data yang perlu diketahui untuk perencanaan unit pemisah minyak :</p>
<ol>
<li>Temperatur air dan viscositas dinamik air limbah.</li>
<li>Berat jenis air dan minyak</li>
<li>Ukuran distribusi butiran minyak dalam air</li>
</ol>
<p> Pemisah Minyak API Longitudinal (Longitudinal API Separators)    GAMBAR  </p>
<p>Pemisah didisain untuk menghilangkan butiran munyak dengan ukuran lebih dari 150 micrometer. Persamaan kecepatan keatas yang disebut terdahulu menjadi :</p>
<p>v =</p>
<p>Standar API menentukan tiga parameter utama :</p>
<p>1.  Area horizontal terpakai S dari air,  S = F. Q/v ,</p>
<p>Dimana :</p>
<p>Q = Laju alir air baku</p>
<p>F = Koefisien koreksi sama dengan Fd x Ft, dimana Ft adalah factor turbulensi yang disefinisikan sebagai  V/v ( V adalah kecepatan horizontal air yang bergerak melalui settler dan Fd adalah factor distribusi sekitar 1,2. Harga V yang disarankan harus tidak boleh lebih besar 54 m/jam.</p>
<p>Hubungan antara V/v, Ft dan F dapat ditunjukkan pada Tabel berikut :</p>
<p> 2.  Potongan melintang vertical minimum (A), yakni A = Q/V</p>
<p>Dengan harga V lebih kecil  45 m /jam diasumsikan distribusi pada inlet settler cukup bagus</p>
<ol>
<li>Perbandingan tinggi atau kedalaman dan lebar bak antara  0,3 dan 0,5</li>
</ol>
<p>Lebar antara 1,8 sampai  6 m</p>
<p>Kedalaman antara 0,65 sampai 2,4 m</p>
<p><code></code><code></code><code></code><code></code><code></code></p>
<br />Authored by <a href="http://bennysyah.edublogs.org">bennysyah</a>. Hosted by <a href="http://edublogs.org">Edublogs</a>.]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennysyah.edublogs.org/2008/03/14/teknologi-pengolahan-limbah-minyak/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Penyaringan Air Skala Rumah Tangga</title>
		<link>http://bennysyah.edublogs.org/2007/11/12/233/</link>
		<comments>http://bennysyah.edublogs.org/2007/11/12/233/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Nov 2007 06:20:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bennysyah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>

		<category><![CDATA[Teknologi Terapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennysyah.edublogs.org/2007/11/12/233/</guid>
		<description><![CDATA[
Kebutuhan akan air bersih merupakan dambaan bagi setiap kita, apalagi pada musim hujan sekarang ini, kebutuhan akan air bersih menjadi meningkat. Oleh karenanya diperlukan suatu teknologi tepat guna untuk membantu keadaan di atas. Gambar di atas adalah penyaringan air sederhana skala rumah tangga yang saya kutip dari Pustekkom (2004) yang dapat membantu mengatasi permasalahan akan krisis air [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><code></code><code></code></p>
<p align="justify">Kebutuhan akan air bersih merupakan dambaan bagi setiap kita, apalagi pada musim hujan sekarang ini, kebutuhan akan air bersih menjadi meningkat. Oleh karenanya diperlukan suatu teknologi tepat guna untuk membantu keadaan di atas. Gambar di atas adalah penyaringan air sederhana skala rumah tangga yang saya kutip dari Pustekkom (2004) yang dapat membantu mengatasi permasalahan akan krisis air bersih.</p>
<p>Langkah-langkah penjernihan sebagai berikut :</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Air pertama kali diisi pada bagian yang paling atas dengan air kotor atau air yang akan dijernihkan. Kemudian ditambah tawas yang berfungsi sebagai koagulan yang dapat membantu mengendapkan kotoran-kotoran (flok-flok) menjadi lumpur yang siap untuk dibuang. Pemberian kaporit sebagai desinfektan dapat diberikan pada tahap ini, tetapi bisa juga bersifat optional. Pemberiaan kaporit dilakukan untuk membunuh bakteri yang berbahaya bagi kesehatan manusia.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Pada tahap kedua dialirkan melalui media pasir dan krikil. Kedua media ini berfungsi untuk menahan partikel yang masih melayang (suspensi) di dalam air, sehingga diharapkan nantinya air yang melalui media ini air dalam kondisi jernih dan sedikit kandungan floknya.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Pada tahap selanjutnya, air dialirkan ke media ijuk dan arang. Pemberian media ini dimaksudkan agar air yang masih terdapat kandungan floknya menjadi lebih jernih, sedangkan arang berfungsi untuk menghilangkan rasa air, warna, dan bau yang tidak sedap yang dapat mengganggu kenikmatan kita meminum air.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Tahap terakhir air menjadi jernih seperti yang kita harapkan. Pada tahap ini diperkenankan untuk memberikan kaporit kembali sebagai antisipasi pada saat proses penyaringan tadi masih terdapat bakteri yang berbahaya bagi kesehatan tubuh kita.</p>
</li>
</ol>
<p align="justify">Jenis pengolahan di atas sebenarnya adalah embrio bagi PDAM-PDAM seluruh Indonesia dalam menerapkan teknnologi pengolahan air skala besar. Pada pengolahan di atas terdapat unit-unit pengolahan air yang sering diterapkan di PDAM, yaitu : Koagulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi, dan desinfeksi. Koagulasi, flokulasi, sedimentasi, dan desinfeksi terdapat pada tahap pertama kali penyaringan (lihat gambar di atas). Sedangkan filtrasi terdapat pada tahap kedua dan ketiga yaitu berupa pemasangan media pasir, krikil, arang dan ijuk.</p>
<p align="justify">Ternyata nenek moyang kita secara tidak langsung memberikan pelajaran berharga kepada kita semua. Sekarang bagaimana dengan kita sendiri ?, sudahkah kita melakukan inovasi yang berharga bagi anak cucu kita kelak ?. Selamat berkarya, semoga kita melahirkan maha karya yang dapat dikenang sepanjang masa. <em>Wallahu a&#8217;lam bishshowab</em>.</p>
<br />Authored by <a href="http://bennysyah.edublogs.org">bennysyah</a>. Hosted by <a href="http://edublogs.org">Edublogs</a>.]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennysyah.edublogs.org/2007/11/12/233/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Softening (Pelunakan) Pada Air Sadah</title>
		<link>http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/27/softening-pelunakan-pada-air-sadah/</link>
		<comments>http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/27/softening-pelunakan-pada-air-sadah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Apr 2007 04:07:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bennysyah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>

		<category><![CDATA[Teknologi Terapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/27/softening-pelunakan-pada-air-sadah/</guid>
		<description><![CDATA[Isitilah softening dalam istilah teknik lingkungan sangatlah familiar, hanya saja kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi pelunakan mungkin banyak yang tidak mengerti, sehingga kadangkala istilah-istilah asing yang sudah familiar ditelinga kita memang sebaiknya tidak diterjemahkan agar tidak menimbulkan salah pengertian. Saya mencoba menerjemahkannya menjadi pelunakkan, karena pada beberapa literatur yang berbahasa Indonesia saya menjumpai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span>Isitilah softening dalam istilah teknik lingkungan sangatlah familiar, hanya saja kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi pelunakan mungkin banyak yang tidak mengerti, sehingga kadangkala istilah-istilah asing yang sudah familiar ditelinga kita memang sebaiknya tidak diterjemahkan agar tidak menimbulkan salah pengertian. Saya mencoba menerjemahkannya menjadi pelunakkan, karena pada beberapa literatur yang berbahasa </span><span>Indonesia</span><span> saya menjumpai kata pelunakkan tersebut yang merupakan terjemahan dari softening.</span><br />
<span>Ada</span><span> beberapa jenis proses pengolahan yang dapat digunakan untuk melunakkan air. Pada setiap proses pengolahan, hasil akhir yang diharapkan adalah sama. Air yang dilunakkan harus mempunyai suatu kesadahan (hardness) sekitar 80 hingga 90 mg/L sebagai kalsium karbonat (CaCO3). Jika air yang dilunakkan lebih lanjut (seperti dalam proses pertukaran ion/<em>ion exchange</em>), air sadah harus dicampur dengan air yang dilunakkan untuk mencapai tingkat kesadahan yang diinginkan. Air terlalu </span><span> </span>lunak (<em>soft</em>) juga tidak terlalu baik, karena air mineral salah satu unsurnya adalah calsium, tetapi terlalu tinggi juga tidak baik karena dapat menyebabkan air sabun tidak dapat berbusa serta dapat menyebabkan karatan pada pipa<span>.<span id="more-219"></span></span></p>
<h3 class="MsoNormal"><span> </span><span>Pemberian Bahan Kimia Pada Softening</span></h3>
<p class="MsoNormal"><span>Pelunakkan melalui pemberian bahan kimia adalah sama</span><span>  </span>caranya seperti yang dilakukan pada penanganan kekeruhan <span>(<em>removal of turbidity</em>)</span><span> dengan koagulasi, flokulasi, dan sedimentasi. </span><br />
<span>Ada</span><span> banyak variasi, tetapi proses yang khas adalah melibatkan penambahan kapur (<em>lime</em>) untuk menaikkan pH air sampai cukup tinggi untuk reaksi yang terjadi pada senyawa kesadahan </span><span> </span>yang digunakan untuk mengendapkan dari air tersebut. Peralatan yang digunakan juga menyerupai peralatan penanganan kekeruhan <span>(<em>removal of turbidity</em>)</span><span> – kapur (lime) ditambahkan pada pengadukkan cepat (<em>flash mixer</em>), kemudian air diflokulasi, dan setelah itu senyawa-senyawa kesadahan (</span><span><em>hardness compounds</em>)</span><span> menggumpal dan mengendap secara gravitasi di dalam bak sedimentasi.</span></p>
<p><span></span><span>Air tanah adalah yang paling sering dilakukan pelunakkan dibandingkan dengan air permukaan. Air tanah tidak memerlukan flokulasi dalam rangka menangani</span><span>  </span>kekeruhan, tetapi proses pelunakkan kadang-kadang dapat menggantikan penanganan kekeruhan tersebut. Jika penanganan kekeruhan <span>(<em>removal of turbidity</em>)</span><span> </span><span> </span>dan pelunakkan (<em>softening</em>) diperlukan, maka dua proses tersebut dapat dilakukan bersamaan secara serempak, yaitu menggunakan peralatan dan bahan kimia yang sama.<span> </span><span> </span><span></span><span>Penggunaan kapur (<em>lime</em>) dapat mengurangi kesadahan karbonat. Jika abu soda (<em>soda ash</em>) ditambahkan seperti halnya penambahan kapur (<em>lime</em>), maka kesadahan karbonat dan nonkarbonat dapat dihilangkan. Di dalam kasus lainnya kita sering menjumpai, penambahan bahan kimia justru tidak menghilangkan semua kesadahan yang ada di air, tetapi kesadahan hanya dapat turun menjadi 30 sampai 40 mg/L, walaupun hasil akhir yang sering adalah 80 hingga 90 mg/L.</span><span> </span><span>Penambahan b</span><span>ahan kimia adalah suatu proses pelunakkan yang efektif, tetapi juga mempunyai beberapa kerugian. Proses ini memerlukan banyak operator yang digunakan dalam rangka mendapatkan hasil yang efisien, tetapi untuk bangunan pengolahan yang kecil pemakaian operator bisa efisien. pH air </span><span> </span>yang tinggi pada pelunakkan dengan kapur dapat menghasilkan warna di dalam air dan membuat warna tersebut sukar untuk dihilangkan. Akhirnya, pelunakkan dengan kapur dapat menghasilkan lumpur dalam jumlah yang besar serta menciptakan permasalahan dalam proses pembuangannya.<span> </span></p>
<h3 class="MsoNormal"><span>Jenis-jenis Pelunakkan (<em>Softening</em>)</span></h3>
<p><span></span><span></span><span></span><span><strong>1.</strong></span><span><strong> </strong>  </span><strong><span>Pelunakan pertukaran Ion (</span><span>Ion exchange softening</span><span>)</span><span>,</span></strong><span> juga dikenal sebagai pelunakan zeolit (<em>zeolite softening</em>), air melalui suatu saringan yang berisi resin granular (butiran-butiran kecil). Di dalam saringan, dikenal sebagai pelunak (<em>softener</em>), calsium dan magnesium di dalam air ditukar (<em>exchanged</em>) pada sodium dari resin granular (butiran-butiran kecil). Air yang dihasilkan nantinya mempunyai kesadahan (<em>hardness</em>)  0 mg/L dan harus dicampur dengan air sadah untuk mencegah </span><span> </span>terjadinya masalah kelunakan (<em>softness</em>) ketika air didtribusikan ke rumah-rumah penduduk.</p>
<p><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/ion-exchange.jpg" title="ion-exchange.jpg"></a><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/ion-exchange.jpg" title="ion-exchange.jpg"><img border="2" align="left" src="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/ion-exchange.jpg" alt="ion exchange" /></a><span>Pelunakan p</span><span>ertukaran ion tidak memerlukan pengadukan cepat, bak flokulasi, dan bak sedimentasi seperti yang terjadi pada pelunakkan dengan kapur-abu soda. Sebagai tambahan, proses ini tidak memakan banyak waktu seorang operator. </span>Pelunakan p<span>ertukaran ion adalah sangat efektif pada penurunan kesadahan karbonat </span><span> </span>dan non karbonat, dan pelunakan dengan pertukuran ion <span> </span>sering digunakan untuk kesadahan non karbonat yang tinggi dengan total juga mempunyai kerugian. Kalsium dan magnesium di (dalam) air kesadahan kurang dari 350 mg/L.<span> </span>
</p>
<p class="MsoNormal"><span>Bagaimanapun, pelunakan dengan pertukaran ion (</span><span><em>ion exchange softening</em></span><span>)</span> <span>mengandung mineral digantikan oleh ion sodium, yang dapat menyebabkan permasalahan kesehatan karena air yang dikonsumsi mengandung kadar garam. Penanganannya adalah pelunak (<em>softner</em>) harus di backwash dengan cara yang sama seperti pada saringan, dan memberikan imbuhan air, keadaan seperti itu kita kenal dengan nama <em>brine</em>.</span></p>
<p><strong><span>2.</span><span>  </span>Pelunakan Reverse-Osmosis (<span>Reverse-osmosis softening</span></strong><span><strong>).</strong> </span><span>Pelunakkan ini</span> <span>mengalirkan air dengan tekanan melalui suatu selaput semi-permeable. Kalsium, magnesium, dan padatan terlarut (dissolved solid) ditangkap ketika air yang dilunakkan dilewatkan melalui membran tersebut.</span> </p>
<p><span><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/reverse-osmosis.jpg" title="Reverse Osmosis"></a></span><span></p>
<p><img border="2" src="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/reverse-osmosis.jpg" alt="Reverse Osmosis" /></p>
<p></span></p>
<p><span> </span><span></span><strong><span>3.</span><span>  </span>Electrodialysis</strong><span><strong>.</strong>  Pelunakkan dengan cara ini air dilewatkan diantara dua plat dengan muatan listrik. Metal-metal di dalam air ditarik ke plat dengan muatan negatif sementara yang non metal ditarik ke plat dengan muatan positif. Kedua jenis ion ini dapat ditangani dengan plat. Electrodialysis sering digunakan pada air yang sangat sadah, dengan kesadahan lebih dari 500 mg/L sebagai CaCO3.</span><span></span>  <a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/electodialisis.jpg" title="Elektodialisis"></a><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/electodialisis.jpg" title="Elektodialisis"> </a></p>
<p><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/electodialisis.jpg" title="Elektodialisis"></p>
<p><img border="2" src="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/electodialisis.jpg" alt="Elektodialisis" /></p>
<p></a></p>
<p><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/electodialisis.jpg" title="Elektodialisis"><span></span></a><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/electodialisis.jpg" title="Elektodialisis"><span></span></a><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/electodialisis.jpg" title="Elektodialisis"><span></span></a><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/electodialisis.jpg" title="Elektodialisis"><span></span></p>
<p></a><span></span></p>
<p><span></span></p>
<p><span></span></p>
<p><span></span></p>
<p><span></span></p>
<p><span></span></p>
<p><span></span></p>
<p><span></span></p>
<p><span><strong>4.</strong> <strong>Penyulingan (Distillation).</strong> </span><span>Pelunakkan dengan cara ini dilakukan dengan penguapan air. Air yang diuapkan meninggalkan semua senyawa kesadahan, sehingga air yang dihasilkan menjadi lunak.</span><span> </span><span> </span></p>
<p><span><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/distilatisi.jpg" title="distilatisi.jpg"></a></span><span><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/distilatisi.jpg" title="distilatisi.jpg"></a></span><span><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/distilatisi.jpg" title="distilatisi.jpg"><img border="2" align="right" src="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/distilatisi.jpg" alt="Destilasi" /></a></span><span><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/distilatisi.jpg" title="distilatisi.jpg"><span></span></a></span><span><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/distilatisi.jpg" title="distilatisi.jpg"><span></span></a></span><span><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/distilatisi.jpg" title="distilatisi.jpg"><span></span></a></span><span><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/distilatisi.jpg" title="distilatisi.jpg"><span></span></p>
<p><span></span></p>
<p></a></span><span></span></p>
<p><span></span></p>
<p><span></span></p>
<p><span></span></p>
<p><span></span></p>
<p><span></span></p>
<p><span></span></p>
<p><span></span></p>
<p><span><strong>5.</strong></span><span>  </span><strong>Pembekuan (Freezing)</strong><span> juga dapat digunakan untuk menurunkan kesadahan.</span><span> </span></p>
<h3 class="MsoNormal"><span>Menggunakan Pelunak Atau Tidak?</span></h3>
<p><span></span><span></span><span>Karena pelunakkan bukanlah satu-satunya yang diperlukan dalam </span><span> </span>proses pengolahan, maka bangunan pengolahan haruslah memutuskan ya atau tidaknya untuk menggunakan softening. Keputusan ini harus dibuat secara hati-hati dengan menimbang keuntungan dan kerugian-kerugian dari pelunakan tersebut.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sisi positifnya, pelunakkan akan dapat menangani permasalahan kesadahan yang menyebabkan air sukar berbusa dan penyebab terjadi pengerakkan (<em>scaling</em>). Sebagai tambahan, tergantung pada jenis proses pelunakkan yang digunakan, pelunakkan juga membantu proses pengolahan air lainnya. Pelunakkan juga sering digunakan untuk menurunkan kadar besi (fe) dan mangan (mn), mengurangi rasa dan bau, mengurangi kandungan padatan total (total solid), dan dapat menangani</span><span>  </span>radioaktifitas. pH yang tinggi dihubungkan dengan pelunakkan dengan kapur yang dapat membantu dalam proses disinfeksi. Akhirnya, ketika air distabilkan dengan menggunakan rekarbonasi pada akhir proses pelunakkan dengan kapur, maka karatan di dalam sistem distribusi dapat dihindarkan.</p>
<p><span></span><span>Bagaimanapun, semua proses pelunakkan membawa suatu kepada biaya tertentu. Sebagai tambahan, pelunakkan dapat menyebabkan beberapa permasalahan lain. pH yang tinggi berhubungan dengan pelunakkan dengan kapur cenderung untuk menyukai pembentukan hipoklorit sebagai residu khlor, dan hipoklorit adalah adalah salah satu disinfeksi yang kuat dibanding residu klor bebas lainnya. pH yang tinggi juga dapat meningkatkan trihalomethane di dalam air. Jika air tidaklah distabilkan dengan baik setelah pengolahan, maka </span><span> </span>air bersifat korosif yang dapat merusak sistem pipa distribusi.<span> </span><span></span><span></span><span> </span>Akhirnya, pelunakkan dengan pertukaran ion, seperti uraian di atas, dapat juga menyebabkan permasalahan berupa kadar sodium tinggi di dalam air yang diolah. Pelunakaan dengan kapur dan pertukaran ion juga menciptakan permasalahan baru berupa pembuangan limbahnya.<span></span></p>
<br />Authored by <a href="http://bennysyah.edublogs.org">bennysyah</a>. Hosted by <a href="http://edublogs.org">Edublogs</a>.]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/27/softening-pelunakan-pada-air-sadah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mensikapi Hari Bumi / Earth Day</title>
		<link>http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/24/mensikapi-hari-bumi-earth-day/</link>
		<comments>http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/24/mensikapi-hari-bumi-earth-day/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2007 08:02:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bennysyah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/24/mensikapi-hari-bumi-earth-day/</guid>
		<description><![CDATA[Setiap tanggal 22 April kita peringati sebagai hari bumi/ earth day. Peringatan ini jangan dijadikan sebagai seremonial belaka, tanpa adanya kesan yang mendalam. Ada hal penting yang harus kita jadikan sebagai kontemplasi :

Bumi kita semakin panas yang disebabkan oleh gas rumah kaca. Kondisi ini terjadi karena pola hidup kita jarang memikirkan kepentingan generasi yang akan datang. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img border="0" vspace="2" align="right" src="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/02/earthshine1.gif" hspace="2" alt="Bola Dunia" />Setiap tanggal 22 April kita peringati sebagai hari bumi/ <em>earth day.</em> Peringatan ini jangan dijadikan sebagai seremonial belaka, tanpa adanya kesan yang mendalam. Ada hal penting yang harus kita jadikan sebagai kontemplasi :</p>
<ol>
<li>Bumi kita semakin panas yang disebabkan oleh gas rumah kaca. Kondisi ini terjadi karena pola hidup kita jarang memikirkan kepentingan generasi yang akan datang. Cobalah kita menginventaris pola hidup kita dalam sehari, Apakah sudah hijau atau belum?.</li>
<li>Bumi kita semakin jenuh dengan adanya benda/zat/keadaan yang masuk di dalamnya hingga melebihi kapasitas daya tampungnya, serta mengalahkan daya dukung lingkungan yang seharusnya bisa <em>diperbaikinya sendiri. </em></li>
</ol>
<p>Kalau saja kondisi ini berjalan terus tanpa adanya pengendalian lingkungan yang berarti, maka saya berandai-andai :</p>
<ol>
<li>Manusia paling tidak membutuhkan satu bumi lagi, agar segala kebutuhannya dapat tercapai, atau dengan kata lain tindakan merusaknya di bumi yang sekarang ini dapat terlampiaskan.</li>
<li>Manusia suatu saatnya nanti mirip dengan kenderaan bermotor. Kalau kendaraan bermotor menempuh jarak tertentu kemudian mengisi bahan bakar di pom bensin, maka manusia juga akan begitu. Setiap kali manusia akan berpergian ke suatu daerah hingga menempuh jarak tertentu, maka manusia tersebut akan mampir ke pom oksigen untuk beli oksigen di pom tersebut dengan membayar ribuan rupiah. Keadaan itu terjadi karena semakin kotornya udara kita sekarang ini.</li>
</ol>
<p align="center">Bagaimana menurut anda?</p>
<br />Authored by <a href="http://bennysyah.edublogs.org">bennysyah</a>. Hosted by <a href="http://edublogs.org">Edublogs</a>.]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/24/mensikapi-hari-bumi-earth-day/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bentuk Flokulator &#38; Aplikasinya</title>
		<link>http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/13/bentuk-flokulator-aplikasinya/</link>
		<comments>http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/13/bentuk-flokulator-aplikasinya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2007 02:30:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bennysyah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Teknologi Terapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/13/bentuk-flokulator-aplikasinya/</guid>
		<description><![CDATA[The Environmentalist. Flokulator adalah alat yang digunakan untuk flokulasi. Saat ini banyak kita menjumpai berbagai macam flokulator, tetapi berdasarkan cara kerjanya flokulator dibedakan menjadi 3 macam : yaitu pneumatic, mekanik, dan baffle.
Flokulator pada prinsipnya bertugas untuk melakukan pengadukan lambat agar jangan sampai mikro flok yang sudah menggumpal pecah kembali menjadi bentuk semula, maka perlu adanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/contact-chlorination.gif" title="Baffle"><img border="0" vspace="2" align="left" width="344" src="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/contact-chlorination.gif" hspace="2" alt="Baffle" height="221" /></a><strong>The Environmentalist.</strong> Flokulator adalah alat yang digunakan untuk flokulasi. Saat ini banyak kita menjumpai berbagai macam flokulator, tetapi berdasarkan cara kerjanya flokulator dibedakan menjadi 3 macam : yaitu pneumatic, mekanik, dan baffle.</p>
<p>Flokulator pada prinsipnya bertugas untuk melakukan pengadukan lambat agar jangan sampai mikro flok yang sudah menggumpal pecah kembali menjadi bentuk semula, maka perlu adanya desain khusus bentuk flokulator tersebut. Flokulator secara pneumatic misalnya, dirancang dengan cara mensuplai udara ke dalam bak flokulasi, cara kerjanya sama seperti yang dilakukan pada aerasi, bedanya suplai udara yang diberikan ke bak flokulasi tidak sebesar pada bak aerasi. Jenis flokulator ini jarang sekali kita temukan saat ini, tetapi yang paling sering adalah flokulator secara mekanis. Flokulator secara mekanis paling banyak kita jumpai saat ini,  bentuk serta desainnyapun bermacam-macam. Prinsip kerja jenis flokulator ini  adalah dengan cara pengadukan (<em>mixing</em>), karena bentuknya yang bermacam-macam inilah maka bentuk ini sangat familiar bagi seorang <em>engineer. </em> Bentuk yang terakhir adalah dengan Baffle, jika dibandingkan dengan 2 jenis flokulator di atas, maka jenis flokulator ini jarang atau bahkan tidak pernah kita jumpai sekarang ini, pasalnya <span>sistem Baffle mempunyai tingkat </span><span>velositas G dan GT sangat terbatas. Cara kerja alat ini dapat dilihat pada gambar di atas, yaitu air limbah berjalan dengan cara mengitari sekat-sekat yang ada, sehingga sangat jelaslah bahwa flokulator ini tidak bisa menambah atau mengurangi velositas G dan GT, tetapi sangat tergantung dari kecepatan overflow dari bak sebelumnya yaitu dari bak kogulasi.</span></p>
<p><span>Derajat hasil flokulasi tergantung pada mudah dan </span><span>kecepatan penggumpalan dan jumlah peruraian </span><span>partikulat selama flokulasi, sehingga hasil flokulasi </span><span>ditentukan oleh sifat flok dan velositas gradien G dan </span><span>GT (Tom D. Reynold, 1982) </span></p>
<br />Authored by <a href="http://bennysyah.edublogs.org">bennysyah</a>. Hosted by <a href="http://edublogs.org">Edublogs</a>.]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/13/bentuk-flokulator-aplikasinya/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Simulasi Koagulasi-Flokulasi Dengan Jartest</title>
		<link>http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/12/koagulasi-flokulasi-dengan-jartest/</link>
		<comments>http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/12/koagulasi-flokulasi-dengan-jartest/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Apr 2007 09:25:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bennysyah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Teknologi Terapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/12/koagulasi-flokulasi-dengan-jartest/</guid>
		<description><![CDATA[ Download
The Environmentalist. Untuk mengentahui tingkat kekeruhan suatu sample air,  maka kita bisa menggunakan alat laboratorium yang bernama Jartest. Jartest ini juga dapat digunakan untuk mengetahui kinerja kogulasi dan flokulasi secara simulasi di laboratorium asalkan air yang dilakukan simulasi dengan jartest ini adalah air yang benar-benar akan dilakukan pengolahan dilapangan.
Standar ini menetapkan suatu metode pengujian koagulasi flokulasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><strong> <a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/jar-test.avi" title="Anarchy Media Player - Right click to download file"><em>Download</em></a></strong><strong><br />
The Environmentalist. </strong>Untuk mengentahui tingkat kekeruhan<a rel="attachment wp-att-197" href="http://bennysyah.edublogs.org/?attachment_id=197" title="jartest-1.jpg"></a> suatu sample air,  maka kita bisa menggunakan alat laboratorium yang bernama Jartest. Jartest ini juga dapat digunakan untuk mengetahui kinerja kogulasi dan flokulasi secara simulasi di laboratorium asalkan air yang dilakukan simulasi dengan jartest ini adalah air yang benar-benar akan dilakukan pengolahan dilapangan.</p>
<p>Standar ini menetapkan suatu metode pengujian koagulasi flokulasi dengan cara jartest, termasuk prosedur umum untuk mengevaluasi pengolahan dalam rangka mengurangi bahan-bahan terlarut, koloid, dan yang tidak dapat mengendap dalam air dengan menggunakan bahan kimia dalam proses koagulasi-flokulasi, yang dilanjutkan dengan pengendapan secara gravitasi.</p>
<p>Koagulasi adalah proses pembubuhan bahan kimia (koagulan) ke dalam air yang akan dioIah. Flokulasi adalah proses penggumpalan bahan terlarut, kolois, dan yang tidak dapat mengendap dalam air. Uji koagulasi-flokulasi dilaksanakan untuk menentukan dosis bahan-bahan kimia, dan persyaratan yang digunakan untuk memperoleh hasil yang optimum. Variabel-variabel utama yang dikaji sesuai dengan yang disarankan, termasuk : </p>
<ul>
<li>Bahan kimia pembantu</li>
<li>pH</li>
<li>Temperatur</li>
<li>Persyaratan tambahan dan kondisi campuran. </li>
</ul>
<p>Metode uji ini digunakan untuk mengevaluasi berbagai jenis koagulan dan koagulan pembantu pada proses pengolahan air bersih dan air Iimbah. Pengaruh konsentrasi koagulan dan koagulan pembantu dapat juga dievaluasi dengan metode ini. Peralatan yang diperlukan terdiri dari: Pengaduk, Gelas Kimia, Rak Pereaksi Bahan kimia dan bahan pembantu, digunakan untuk larutan dan suspensi pengujian, kecuali koagulan pernbantu dapat dipersiapkan setiap akan digunakan dengan membuat larutan sampai mencapai konsentrasi 10 gr/L. Koagulan pembantu, dalam perdagangan tersedia berbagai macam koagulan pembantu atau polielektrolit.</p>
<h3>Prosedur pengujian :</h3>
<ol>
<li>Masukkan volume contoh uji yang sama (1000 mL) kedalam masing-masing gelas kimia. Tempatkan gelas hingga baling-baling pengaduk berada 6,4 mm dari dinding gelas. Catat temperatur contoh uji pada saat pengujian dimulai.</li>
<li>Letakkan bahan (kimia) uji pada pereaksi.</li>
<li>Operasikan pengaduk muIti posisi pada pengadukan cepat dengan kecepatan kira-kira 120 Rpm. Tambahkan larutan atau suspensi pada setiap penentuan dosis yang telah ditentukan sebelumnya.</li>
<li>Kurangi kecepatan sampai pada kecepatan minimal, untuk menjaga keseragaman partikel flok yang terlarut melalui pengadukan lambat selama 20 menit.</li>
<li>Setelah pengadukan lambat selesai, angkat baling-baling dan lihat pengendapan partikel flok.</li>
<li>Setelah 15 menit pengendapan, catat bentuk flok pada dasar gelas dan catat temperatur contoh uji, Dengan menggunakan pipet atau siphon, keluarkan sejumlah cairan supernatan yang sesuai sebagai contoh uji untuk penentuan warna, kekeruhan, pH dan analisis lainnya.</li>
<li>Ulangi langkah 1 sampai 6 di atas sampai semua variabel penentu terevaluasi. Untuk mendapatkan hasil yang lebih teliti prosedur berpasangan 3 dan 3 jartest dianjurkan.</li>
</ol>
<br />Authored by <a href="http://bennysyah.edublogs.org">bennysyah</a>. Hosted by <a href="http://edublogs.org">Edublogs</a>.]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/12/koagulasi-flokulasi-dengan-jartest/feed/</wfw:commentRss>
<enclosure url="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/jar-test.avi" length="0" type="video/avi" />
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Tangki Sedimentasi Melingkar</title>
		<link>http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/12/mengenal-tangki-sedimentasi-melingkar/</link>
		<comments>http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/12/mengenal-tangki-sedimentasi-melingkar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Apr 2007 00:52:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bennysyah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Teknologi Terapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/12/mengenal-tangki-sedimentasi-melingkar/</guid>
		<description><![CDATA[The Environmentalist. Beberapa literatur banyak kita menemukan istilah sedimentation tank, sedimentation basin, clarifier, settling tank, settling basin semua itu mempunyai satu pengertian yaitu sebagai pengendap partikel, baik yang tersuspensi maupun tidak. Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai bak pengendap atau bak sedimentasi. Ada dua macam bentuk bak sedimentasi, yaitu melingkar (circular) dan segi empat (rectangular). [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/secondary-clarifier.gif" title="secondary-clarifier.gif"><img border="0" vspace="2" align="left" width="339" src="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/secondary-clarifier.gif" hspace="2" alt="Tangki Sedimentasi Melingkar" height="265" /></a>The Environmentalist</strong>. Beberapa literatur banyak kita menemukan istilah sedimentation tank, sedimentation basin, clarifier, settling tank, settling basin semua itu mempunyai satu pengertian yaitu sebagai pengendap partikel, baik yang tersuspensi maupun tidak. Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai bak pengendap atau bak sedimentasi. Ada dua macam bentuk bak sedimentasi, yaitu melingkar (circular) dan segi empat (rectangular). Masing-masing bentuk ini mempunyai kelebihan masing-masing dan didtempatkan pada kondisi yang khusus, artinya seorang <em>engineer </em>haruslah mempunyai insting yang kuat, apakah bentuk melingkar atau segi empat yang harus dirancangnya. Salah satu pertimbangan dalam menentukan bentuk bak sedimentasi tersebut adalah adanya ketersedian lahan, dan ada tidaknya dana. Tangki sedimentasi melingkar jika ditinjau secara teknis dan operasional jauh lebih  menguntungkan tetapi memerlukan biaya yang tidak sedikit dalam merancangnya, karena banyaknya fasilitas yang berada di dalamnya. Lebih jelasnya perhatikan gambar sedimentasi di atas.</p>
<h3>Tangki Sedimentasi Melingkar dan Karakteristiknya </h3>
<p><span>Di dalam tangki melingkar, aliran masuk menuju ke pusat tangki </span><span>atau ke sebelah sisi</span><span>  </span>tangki. Jika diameter tangki kurang dari 30 <span>ft (9.14 m), pipa inlet akan masuk melalui dinding dan mengarah </span><span>ke bawah. Jika tangki lebih besar dari 30 ft ( 9.14 m), pipa </span><span>masuk melalui bawah tangki dan debit air tegak lurus menuju</span><span>  </span><span>pusat baffle. Kedalaman clarifier melingkar dipertimbangkan </span><span>pada kedalaman bagian samping tangki, dan dikenal dengan </span><span>sebutan </span><span>side water depth</span><span> </span><span>(swd). Kedalaman ini digunakan untuk </span><span>menentukan waktu detensi dan volume tangki.</span><span> </span></p>
<p><span></span><span>Outlet untuk tangki melingkar terdiri dari suatu weir di sekitar batas luar yang menyebarkan aliran menjadi seragam. Center-feed pada clarifier yang melingkar yang digunakan pada pengolahan air limbah mempunyai</span><span>  </span>penggaruk lumpur secara<span>  </span>mekanik (<em>mechanical sludge rakes</em>) yang terletak di bagian bawah dan penggaruk permukaan (<em>surface skimming</em>) yang terletak di bagian atas.</p>
<br />Authored by <a href="http://bennysyah.edublogs.org">bennysyah</a>. Hosted by <a href="http://edublogs.org">Edublogs</a>.]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/12/mengenal-tangki-sedimentasi-melingkar/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mengolah Air Asin Menjadi Tawar Dengan Reverse Osmosis</title>
		<link>http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/10/193/</link>
		<comments>http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/10/193/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Apr 2007 03:37:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bennysyah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>

		<category><![CDATA[Teknologi Terapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/10/193/</guid>
		<description><![CDATA[

The Environmentalist. Banyak cara untuk mengolah air asin menjadi air tawar, proses ini kita kenal dengan sebutan desalinasi. Contoh proses desalinasi yang berkembang saat ini adalah dengan Teknologi Distilasi, Pembekuan, Pertukaran ion, Penguapan sinar matahari, dan Teknologi Membran.
Teknologi terakhir yang saya sebutkan (membran) adalah teknologi yang cukup banyak digunakan, contoh teknologi membran adalah electrodialisis dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/ro-membrane.gif" title="ro-membrane.gif"></a></p>
<p align="center"><img border="0" vspace="2" width="522" src="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/ro-membrane.gif" hspace="2" alt="Reverse Osmosis" height="213" /></p>
<p><strong>The Environmentalist.</strong> Banyak cara untuk mengolah air asin menjadi air tawar, proses ini kita kenal dengan sebutan desalinasi. Contoh proses desalinasi yang berkembang saat ini adalah dengan Teknologi Distilasi, Pembekuan, Pertukaran ion, Penguapan sinar matahari, dan Teknologi Membran.</p>
<p>Teknologi terakhir yang saya sebutkan (membran) adalah teknologi yang cukup banyak digunakan, contoh teknologi membran adalah electrodialisis dan <em>reverse osmosis.</em> Dari dua teknologi membran tersebut <em>reverse osmosis </em>yang paling sering dipakai saat ini. <em>Reverse Osmosis</em> adalah salah satu teknologi pengolahan air asin menjadi air tawar yang paling sering digunakan untuk memenuhi kebutuhan air minum pada daerah rawa seperti di Kalimantan dan Sumatera.</p>
<p class="MsoNormal"><span>Pada tahun 1748, Ilmuwan Perancis </span><span> </span>Abbe Nollett, menemukan peristiwa osmosis yang alami. Proses ini terjadi ketika aliran cairan melalui suatu membran semi-permeable ke larutan konsentrat yang kemudian airnya menjadi tawar. Lebih dari 200 tahun kemudian, peristiwa ini telah dikenali sebagai cara untuk mengolah air asin, air payau, atau air yang berwarna.</p>
<h3 class="MsoNormal"><span></span></h3>
<h3 class="MsoNormal"><span>Cara Kerja <em>Reverse Osmosis</em></span><span></span><span> </span></h3>
<p><span>Daya penggerak di belakang <em>reverse osmosis</em> memberikan tekanan hidrostatik yang berbeda. Tanpa adanya pengaruh dari tekanan luar, air asin seperti yang terlihat pada gambar akan menerobos membran untuk menetralkan/menawarkan air yang mengandung  garam melalui  proses osmosis. Perbedaan pada permukaan air dalam kaitan dengan perpindahan ini disebut dengan </span><span><em>osmotic pressure head</em></span>, dan tekanan hidrostatik yang menyebabkan kenaikan pada permukaan air adalah <span></span><span><em>osmotic pressure</em></span>. Dalam beberapa kasus air laut yang<span>  </span>mempunyai kandungan garam tinggi, tekanan osmotis dapat menjadi sebesar<span>  </span>1000 psi<span>.</span></p>
<br />Authored by <a href="http://bennysyah.edublogs.org">bennysyah</a>. Hosted by <a href="http://edublogs.org">Edublogs</a>.]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/10/193/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Kerja Pengendapan Partikel Tersuspensi</title>
		<link>http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/09/cara-kerja-pengendapan-partikel-tersuspensi/</link>
		<comments>http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/09/cara-kerja-pengendapan-partikel-tersuspensi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2007 09:01:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bennysyah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Teknologi Terapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/09/cara-kerja-pengendapan-partikel-tersuspensi/</guid>
		<description><![CDATA[The Enviromentalist. Dalam Pengolahan air limbah dan pengolahan air bersih/minum, sering kita menjumpai unit pengolahan yang bermacam-macam, namun kadangkala kita tidak mengetahui cara kerja alat tersebut.
Dari berbagai unit pengolahan air limbah atau air bersih, kita sering melihat rentetan unit pengolahan seperti koagulasi- flokulasi- sedimentasi dan filtrasi. Rentetan alat ini selalu beriringan dan tidak pernah kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/settling-basin.gif" title="settling-basin.gif"><strong><img border="0" vspace="2" align="right" width="364" src="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/settling-basin.gif" hspace="2" alt="Pengendapan Partikel" height="189" /></strong></a><strong>The Enviromentalist.</strong> Dalam Pengolahan air limbah dan pengolahan air bersih/minum, sering kita menjumpai unit pengolahan yang bermacam-macam, namun kadangkala kita tidak mengetahui cara kerja alat tersebut.</p>
<p>Dari berbagai unit pengolahan air limbah atau air bersih, kita sering melihat rentetan unit pengolahan seperti koagulasi- flokulasi- sedimentasi dan filtrasi. Rentetan alat ini selalu beriringan dan tidak pernah kita jumpai urutan terbalik-balik, karena memang cara kerjanya begitu. Apabila ada koagulasi, selalu diikuti dengan flokulasi dan selajutnya sedimentasi dan filtrasi, seakan-akan rentetan pengolahan ini adalah satu paket.</p>
<p>Air yang mempunyai turbiditas (kekeruhan) tinggi sangat pas menggunakan rentetan pengolahan ini. Pasalnya pengolahan ini dapat mengedapkan partikel tersuspensi, sehingga hasil akhirnya menjadi <em>sludge</em> (lumpur), dan lumpur ini dapat digunakan untuk pupuk tanaman apabila lumpur tersebut bukan berasal dari limbah B3 (bahan beracun dan berbahaya), dan air yang keluar relatif lebih jernih (perhatikan pada gambar di atas).</p>
<p>Berdasarkan gambar di atas, maka kita dengan mudah mengamati proses atau cara kerja pengendapan partikel tersuspensi di dalam air limbah. Cara kerjanya adalah air yang setelah mengalami perlakukan koagulasi (pemberian koagulan seperti tawas atau PAC, dll), Pada koagulasi ini terjadi pengadukan cepat, pengadukan ini membantu bahan kimia seperti tawas menjadi homogen di dalam air, sehingga partikel tersuspensi akan membentuk gumpalan yang lebih besar. Setelah koagulasi diikuti dengan flokulasi, dalam flokulasi terjadi pengadukan lambat agar partikel yang telah membesar tadi tidak pecah menjadi partikel-partikel semula. Kemudian overflow ke bak sedimentasi, sesuai dengan namanya, pada bak ini partikel yang telah membesar tadi akan mengendap di dalam bak sedimentasi secara gravitasi. Apabila pada sedimentasi ini masih ada pertikel yang<em> ngeyel</em> (membandel) tidak mau mengendap, maka langkah selajutnya dapat dilakukan penyaringan dengan media tertentu tergantung dari karakteristik dari air limbah tersebut.</p>
<p>Mudah bukan&#8230;., begitulah cara kerja pengendapan partikel tersuspensi.</p>
<br />Authored by <a href="http://bennysyah.edublogs.org">bennysyah</a>. Hosted by <a href="http://edublogs.org">Edublogs</a>.]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/09/cara-kerja-pengendapan-partikel-tersuspensi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Intrusi Air Asin</title>
		<link>http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/09/mengenal-intrusi-air-asin/</link>
		<comments>http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/09/mengenal-intrusi-air-asin/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2007 07:55:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bennysyah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/09/mengenal-intrusi-air-asin/</guid>
		<description><![CDATA[Dampak yang paling kita rasakan terjadinya pemanasan global adalah musim kemarau relatif lebih panjang sedangkan musim penghujan relatif lebih pendek, walaupun demikian sekali hujan sering menimbulkan banjir. Ini adalah salah satu ciri  pemanasan global.
Oleh karena musim kemarau relatif lebih panjang, sehingga imbuhan air hujan yang nantinya menjadi air tanah tentunya menjadi sangat berkurang, sementara penggunaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img border="0" vspace="2" align="left" src="http://bennysyah.edublogs.org/files/2007/04/intrusi.gif" hspace="2" alt="Intrusi Air Asin" />Dampak yang paling kita rasakan terjadinya pemanasan global adalah musim kemarau relatif lebih panjang sedangkan musim penghujan relatif lebih pendek, walaupun demikian sekali hujan sering menimbulkan banjir. Ini adalah salah satu ciri  pemanasan global.</p>
<p>Oleh karena musim kemarau relatif lebih panjang, sehingga imbuhan air hujan yang nantinya menjadi air tanah tentunya menjadi sangat berkurang, sementara penggunaan air tanah cenderung meningkat. Kondisi inilah awal mula terjadinya intrusi air asin tersebut.</p>
<h3>Proses Terjadinya Intrusi Air Asin</h3>
<p><span>Pada daerah yang berdekatan dengan pantai atau dekat dengan laut, maka terjadi pertemuan antara air laut dengan air tawar yang kita kenal dengan sebutan <em>interface. Interface</em> ini bisa menjorok ke arah laut dan juga bisa juga menjorok ke arah darat tergantung besar kecilnya imbuhan air hujan. Apabila imbuhan air hujan lebih sangat besar, maka interface akan menjorok ke arah laut, sedangkan imbuhan air hujan sedikit atau tidak ada sama sekali, maka interface akan menjotok ke arah darat. Perubahan di dalam tanah oleh imbuhan atau perubahan luar aliran dalam </span><span>daerah air tawar, menyebabkan perubahan </span><span><em>interface</em></span><span>. Penurunan aliran air </span><span>tawar yang masuk ke laut menyebabkan </span><span><em>interface</em></span><span> bergerak ke dalam tanah </span><span>dan menghasilkan intrusi air asin ke dalam akuifer. Sebaliknya suatu </span><span>peningkatan aliran air tawar mendorong i</span><span><em>nterface</em></span><span> ke arah laut. Laju </span><span>gerakan </span><span><em>interfac</em></span><span>e dan respon tekanan akuifer tergantung kondisi batas dan </span><span>sifat akuifer pada kedua sisi </span><span><em>interface</em></span><span>. </span></p>
<p><span>Akibat penggunaan air tanah yang berlebihan sementara imbuhan air hujan terbatas menyebabkan interface menjadi naik ke atas. Keadaan ini kita kenal dengan sebutan <em>up conning</em> (lihat gambar di atas). Sehingga air yang dikonsumsi menjadi asin akibat pengaruh air laut.</span></p>
<p><span>Tidak semua air yang rasanya asin menunjukkan terjadinya intrusi. Bisa jadi itu hanya air yang terjebak dalam batuan (water connate /air fosil). Air ini terjebak di dalam batuan puluhan tahun lamanya, sehingga airnya menjadi asin. Air yang diambil dengan cara jetting, maka akan menyebabkan air yang berada di dalam aquitard dapat tersedot, termasuk air fosilpun ikut tersedot. Dengan demikian air asin yang terjadi bukanlah akibat intrusi. Konon di Jakarta juga begitu, menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Smith yang berasal dari Jerman, bahwa air asin yang berada di sumur-sumur penduduk di Jakarta bukanlah hasil dari intrusi, tetapi akibat adanya air fosil. <em>Wallahu a&#8217;lam</em></span></p>
<br />Authored by <a href="http://bennysyah.edublogs.org">bennysyah</a>. Hosted by <a href="http://edublogs.org">Edublogs</a>.]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennysyah.edublogs.org/2007/04/09/mengenal-intrusi-air-asin/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
